Home Ekonomi Said Iqbal Minta UMR 2027 Naik Hingga 9,5 Persen, Bongkar Mitos Upah Buat Pabrik Bangkrut!
Ekonomi

Said Iqbal Minta UMR 2027 Naik Hingga 9,5 Persen, Bongkar Mitos Upah Buat Pabrik Bangkrut!

Share
Demo buruh (ist)
Share

JAKARTA, danantaranews.id – Diskusi mengenai arah pengupahan nasional kembali memanas menjelang penetapan standar gaji pekerja mendatang.

Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan dan Kesejahteraan Buruh, Said Iqbal, melontarkan usulan agar Upah Minimum Regional (UMR) tahun 2027 disesuaikan naik pada rentang 7,5 hingga 9,5 persen.

Tuntutan kenaikan tersebut dinilai bukan angka mengada-ada, melainkan hasil kalkulasi objektif yang berpijak pada formula Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 49 Tahun 2025.

Regulasi tersebut mengamanatkan bahwa formulasi kenaikan upah wajib memperhitungkan tiga indikator kunci: tingkat inflasi daerah, pertumbuhan ekonomi, serta rentang indeks tertentu.

Merujuk pada catatan Badan Pusat Statistik (BPS) kurun waktu Oktober 2025 hingga September 2026, laju inflasi rata-rata nasional berada di angka 3,20 persen dengan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,43 persen.

Apabila indeks variabel alfa ditarik pada batas atas maksimal 0,9, angka penyesuaian upah secara matematis menyentuh 7,8 persen, sebelum akhirnya diselaraskan menjadi rerata 7,5 persen untuk skala nasional.

“Aturan tersebut dikatakan kenaikan upah minimum berdasarkan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan indeks tertentu. Indeks tertentunya adalah 0,5 sampai dengan 0,9. Dengan demikian kenaikan upah minimum tahun 2027 pun dapat kita hitung sekarang,” tegas Said Iqbal dalam siaran persnya di Jakarta.

Di sisi lain, Said Iqbal mematahkan narasi klasik yang kerap menyebut bahwa lonjakan upah buruh akan memicu kebangkrutan massal atau gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK).

Ia membeberkan fakta empiris di lapangan sepanjang tahun 2025 hingga pertengahan 2026, di mana penutupan industri justru marak terjadi di daerah-daerah yang memiliki besaran UMR relatif rendah.

Menurut analisisnya, kejatuhan industri padat karya seperti tekstil, garmen, dan sepatu lebih dipengaruhi oleh lesunya pasar ekspor akibat turbulensi ekonomi global serta geopolitik dunia.

Ketika permintaan dari pasar internasional melesu, pabrik-pabrik berorientasi ekspor di dalam negeri secara otomatis kehilangan porsi order utama mereka.

“Saya jumpai, kenapa perusahaan tekstil, garmen, sepatu ini paling banyak tutup, itu yang orientasi ekspor. Kenapa dia turun? Karena permintaan barang di pasar internasional menurun. Karena pasar internasional melambat, maka permintaan ke Indonesia juga menurun,” ungkapnya.

Selain tergerusnya pasar luar negeri, para pelaku industri juga dihantam oleh membengkaknya struktur biaya produksi akibat kenaikan harga bahan baku, gas industri, BBM, hingga beban logistik.

Kondisi terdesak inilah yang akhirnya memaksa manajemen mengambil langkah rasionalisasi dengan memangkas jumlah pekerja demi menekan labor cost.

“Kalau dibilang kenaikan upah minimum 7,5 persen sampai 9,5 persen akan membuat perusahaan tutup, mari kita lihat fakta di lapangan. Kalau ongkos produksi meningkat, dilakukanlah efisiensi dari produksi dengan cara mengurangi karyawan, sehingga biaya produksi labor cost menurun,” pungkas Said Iqbal.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Realme P4s Lite:HP Rp3 Jutaan dengan Baterai 7.000 mAh

JAKARTA, danantaranews.id – Realme kembali memperluas lini smartphone entry-level melalui Realme P4s Lite. Ponsel terbaru dari keluarga P4 series ini menawarkan sejumlah fitur...

Kilang Balongan Buka Pintu, Komunitas Motor Intip Langsung Rahasia Kualitas BBM Pertamina

Jakarta, danantaranews.id – PT Pertamina (Persero) memberikan pengalaman langka kepada 120 rider peserta Touring to Mandalika. Sebelum memacu sepeda motor menuju Pertamina Mandalika...

Related Articles

Operasional Koperasi Desa Merah Putih Dimulai 15 Oktober, Ini Layanan dan Fasilitas Lengkapnya

SUKOHARJO, danantaranews.id – Pemerintah terus mematangkan persiapan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih...

PLN Rugi Rp3,92 Triliun, Formula TOP Disorot! Pemerintah Prabowo Diminta Bergerak

Beban usaha PLN tumbuh lebih cepat daripada pendapatan pada semester I 2026....

Inflasi September Tembus 3,28 Persen, Mendagri Tito Karnavian Wanti-wanti Pemda Soal Harga Pangan

JAKARTA, danantaranews.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mewanti-wanti seluruh...

Aprindo: Ritel Indonesia Siap Kuasai Asia Pasifik

TANGERANG, danantaranews.id – Industri ritel Indonesia terbukti tidak hanya menjadi penonton di...