TANGERANG, danantaranews.id – Industri ritel Indonesia terbukti tidak hanya menjadi penonton di negeri sendiri, melainkan bertransformasi menjadi kekuatan besar di kawasan Asia Pasifik.
Sektor perdagangan besar dan eceran kini diposisikan sebagai platform pertumbuhan, penghubung ekosistem bisnis, sekaligus pemain regional yang kian agresif.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, mengungkapkan bahwa industri perdagangan besar dan eceran memberikan kontribusi signifikan sebesar 13,2 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2025.
Capaian ini menempatkan sektor ritel sebagai penyumbang ekonomi terbesar ketiga di Indonesia setelah industri pengolahan, dengan pertumbuhan impresif mencapai 6,1 persen secara tahunan (year-on-year)—melebihi laju pertumbuhan ekonomi nasional.
“Indonesia diposisikan sebagai pasar, platform, sekaligus pemain regional. Sebagai pasar, Indonesia menawarkan basis konsumen yang besar, pertumbuhan ritel terorganisasi, serta ekosistem pembayaran digital dan omnichannel yang terus berkembang,” tegas Solihin dalam keterangannya di Tangerang, Banten, Minggu (11/10/2026).
Ekspansi Ritel ke Luar Negeri
Kekuatan industri ritel nasional ditopang oleh lebih dari 270 juta jiwa penduduk dengan karakteristik konsumen yang amat dinamis. Sinergi antara jaringan ritel modern dan tradisional berhasil merangkul kebutuhan masyarakat di area perkotaan hingga pelosok perdesaan.
Menariknya, kapabilitas manajemen, rantai pasok (supply chain), hingga sumber daya manusia (SDM) ritel Indonesia kini mulai diekspor ke mancanegara.
Solihin menyoroti langkah ekspansi salah satu anggota Aprindo, yaitu Alfamart yang telah sukses mempenetrasi pasar Filipina, serta Alfamart Trading yang telah merambah pasar Bangladesh.
“Perkembangan ini menunjukkan bahwa kemampuan yang dibangun industri ritel Indonesia berpotensi diterapkan dan dikembangkan di pasar regional,” lanjutnya.
Penguatan UMKM
Selain memuluskan jalan ekspansi ke luar negeri, Indonesia juga bersikap terbuka bagi pelaku ritel kawasan yang ingin masuk dan beradaptasi dengan iklim bisnis domestik. Bagi Aprindo, hubungan bisnis di Asia Pasifik tidak melulu soal persaingan, melainkan pertukaran kapabilitas dan adaptasi model bisnis untuk tumbuh bersama.
Guna menjaga momentum ini, Aprindo berkomitmen memperkuat ekosistem ritel melalui lima pilar utama:
-
Kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri.
-
Kepastian regulasi yang dapat diprediksi.
-
Ketahanan rantai pasok nasional.
-
Persaingan digital yang adil (fair play).
-
Integrasi mendalam bagi pelaku UMKM ke dalam ekosistem ritel modern.
Leave a comment