DDMF mengarahkan investasi ke sektor strategis, mulai dari pangan dan energi hingga hilirisasi, demi memperkuat industri dan ketahanan ekonomi nasional.
Jakarta, danantaranews.id – Danantara Development Management Fund (DDMF) membidik investasi yang tidak sekadar menghasilkan keuntungan finansial, tetapi juga membuka lapangan kerja, memperkuat industrialisasi, dan meningkatkan daya saing Indonesia. Strategi ini menjadi bagian dari upaya mendorong pembangunan jangka panjang sekaligus memperkokoh ketahanan ekonomi nasional.
CEO PT Danantara Development Management Fund (DDMF) Sigit Puji Santosa mengatakan, investasi pembangunan perlu menghasilkan manfaat yang melampaui pembangunan aset fisik. Menurutnya, proyek strategis harus mampu menumbuhkan ekosistem industri, memperluas peluang usaha, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan memberikan manfaat sosial-ekonomi secara berkelanjutan.
“Melalui investasi pembangunan yang terukur dan kolaboratif, proyek strategis diharapkan tidak berhenti pada pembangunan aset. Proyek tersebut perlu menumbuhkan ekosistem industri, memperluas peluang usaha, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, dan menghadirkan manfaat sosial-ekonomi jangka panjang,” ujar Sigit dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Delapan Sektor Jadi Prioritas Investasi DDMF
DDMF memprioritaskan sejumlah sektor yang berkaitan langsung dengan kebutuhan nasional dan fondasi pertumbuhan ekonomi. Fokus tersebut mencakup ketahanan pangan, kemandirian energi dan air, pendidikan, kesehatan, hilirisasi dan industrialisasi, infrastruktur dan ketahanan bencana, ekonomi rakyat dan desa, serta pengentasan kemiskinan.
Melalui fokus tersebut, DDMF ingin mendorong investasi yang memperkuat kapasitas produksi sekaligus memperluas manfaat pembangunan. Investasi jangka panjang juga diarahkan untuk menciptakan pekerjaan, mengembangkan talenta, dan membangun industri dengan nilai tambah tinggi.
Sigit menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjalankan transformasi ekonomi, mulai dari kekayaan sumber daya alam hingga pasar domestik yang luas. Selain itu, basis manufaktur yang sudah berkembang dapat menjadi pijakan untuk memperkuat posisi industri nasional.
Ekspor Manufaktur RI Punya Potensi Besar
Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) Trade in Value Added (TiVA) 2025 menunjukkan sekitar 82% nilai ekspor manufaktur Indonesia berasal dari nilai tambah yang tercipta di dalam negeri. Angka tersebut setara dengan China sebesar 81% dan lebih tinggi dibandingkan Malaysia, Korea Selatan, serta Vietnam.
Namun, kontribusi Indonesia terhadap ekspor manufaktur global masih berada di kisaran 0,3%. Sigit melihat kondisi tersebut sebagai peluang untuk meningkatkan skala produksi, kompleksitas industri, dan daya saing produk nasional di pasar dunia.
“Namun, kontribusi Indonesia terhadap ekspor manufaktur global masih sekitar 0,3%. Kondisi ini menunjukkan peluang besar untuk meningkatkan skala, kompleksitas, dan daya saing industri nasional,” kata Sigit.
Karena itu, pengembangan industri bernilai tambah menjadi salah satu arah penting investasi DDMF. Penguatan industri diharapkan membantu memperbesar kapasitas manufaktur Indonesia sekaligus memperkuat rantai pasok domestik.
DDMF Siapkan Proyek agar Menarik bagi Investor
DDMF dibentuk untuk menjembatani kebutuhan pembangunan nasional dengan proyek yang layak secara ekonomi, tetapi membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai kelayakan finansial. Dengan pendekatan ini, proyek yang memiliki manfaat strategis dapat memperoleh dukungan pengembangan yang sesuai dengan karakteristiknya.
Sebagai holding investasi yang berfokus pada pembangunan nasional dan pelayanan publik, DDMF menjalankan peran katalitik melalui penyiapan proyek, penyusunan struktur investasi yang layak dibiayai atau bankable, mobilisasi modal jangka panjang, serta pengawalan pelaksanaan proyek hingga menghasilkan dampak.
Sigit menegaskan bahwa dukungan publik menjadi salah satu unsur penting dalam menjalankan mandat pembangunan tersebut. DDMF ingin menghubungkan kebutuhan pembangunan dengan investasi yang dapat memberikan manfaat strategis dan ekonomi dalam jangka panjang.
“DDMF hadir untuk memediasi kebutuhan pembangunan nasional dengan proyek-proyek yang secara ekonomi viable, tetapi membutuhkan waktu lebih panjang untuk mencapai hasilnya. Karena itu, kami menjalankan peran catalytic investment agar dampak strategis dan ekonomi proyek dapat dikapitalisasi,” katanya.
Tiga Ukuran Investasi: Strategis, Ekonomis, dan Finansial
Dalam mengevaluasi proyek, DDMF mempertimbangkan tiga dimensi sekaligus, yakni nilai dan dampak strategis, kelayakan ekonomi, serta kelayakan finansial. Pendekatan ini membuat penilaian investasi tidak hanya bertumpu pada potensi keuntungan.
DDMF juga memperhitungkan kemampuan proyek dalam menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok domestik, mengurangi ketergantungan terhadap impor, serta meningkatkan kemampuan industri dan teknologi nasional.
Dengan arah investasi tersebut, DDMF menempatkan pembangunan industri dan penciptaan lapangan kerja sebagai bagian penting dari strategi ketahanan ekonomi Indonesia. Tantangannya adalah memastikan setiap proyek mampu menerjemahkan modal jangka panjang menjadi peningkatan kapasitas produksi dan manfaat nyata bagi masyarakat. (*)
Leave a comment