Jakarta, danantaranews.id – Arus barang nonpetikemas di Pelabuhan Jayapura mencatat lonjakan tajam sepanjang Januari hingga Agustus 2026. PT Pelabuhan Indonesia (Persero) Regional 4 mencatat volumenya mencapai 132.618 ton, melonjak 101,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada Januari-Agustus 2025, arus barang nonpetikemas Pelabuhan Jayapura tercatat 65.879 ton. Kenaikan lebih dari dua kali lipat tersebut menjadi sinyal kuat meningkatnya aktivitas logistik melalui salah satu simpul konektivitas laut di Papua.
Arus Barang Pelabuhan Jayapura Naik 101,3 Persen
General Manager Pelindo Regional 4 Jayapura Ramdan Affan Kiai Demak mengatakan pertumbuhan arus barang tersebut menunjukkan semakin pentingnya peran Pelabuhan Jayapura dalam mendukung konektivitas wilayah Papua.
Menurut Ramdan, peningkatan aktivitas pelabuhan harus berjalan seiring dengan perbaikan kualitas pelayanan. Karena itu, pertumbuhan volume logistik tidak hanya menjadi soal jumlah barang yang bergerak, tetapi juga menyangkut kemampuan pelabuhan menjaga keandalan operasional.
“Pelabuhan Jayapura memiliki posisi penting dalam konektivitas Papua. Karena itu, peningkatan aktivitas harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas pelayanan,” kata Ramdan di Jayapura, Jumat.
Bukan Cuma Barang, Arus Kapal Ikut Naik
Kinerja Pelabuhan Jayapura juga menunjukkan pertumbuhan pada arus kapal. Hingga Agustus 2026, arus kapal mencapai 2.728.536 GT atau naik 1,7 persen dibandingkan 2.683.108 GT pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Kenaikan tersebut memperlihatkan bahwa aktivitas kepelabuhanan di Jayapura bergerak di sejumlah lini. Selain peningkatan volume barang, jumlah kapal yang dilayani juga ikut bertambah.
Di sisi lain, arus penumpang mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi. Hingga Agustus 2026, Pelindo Regional 4 mencatat arus penumpang mencapai 196.011 orang, naik 5 persen dibandingkan 186.654 orang pada periode yang sama 2025.
Dengan demikian, tiga indikator utama yang tercatat hingga Agustus 2026 sama-sama menunjukkan pertumbuhan, yakni arus barang nonpetikemas, arus kapal, dan arus penumpang. Kondisi tersebut memperkuat posisi Pelabuhan Jayapura dalam mendukung aktivitas masyarakat dan distribusi logistik di Papua.
Geografi Papua Bikin Pelabuhan Jadi Kunci
Ramdan menjelaskan karakteristik geografis Papua membuat transportasi laut memiliki peran penting dalam rantai distribusi barang dan mobilitas masyarakat antardaerah. Kondisi tersebut membuat keandalan operasional pelabuhan menjadi semakin penting ketika aktivitas yang dilayani terus meningkat.
Pelabuhan Jayapura tidak hanya menangani pergerakan barang, tetapi juga mendukung mobilitas penumpang. Karena itu, peningkatan aktivitas pelabuhan harus diikuti dengan perhatian terhadap keselamatan dan kualitas layanan.
“Semakin tinggi aktivitas yang dilayani, semakin tinggi pula tuntutan terhadap keandalan operasional. Karena itu, peningkatan produktivitas harus selalu berjalan bersama aspek keselamatan dan kualitas layanan,” ujar Ramdan.
Transformasi Pelindo Masuk ke Papua
Peningkatan aktivitas Pelabuhan Jayapura juga menjadi bagian dari perjalanan transformasi Pelindo. Transformasi tersebut mencakup penataan bisnis, standardisasi proses, digitalisasi, peningkatan efisiensi, serta penguatan kualitas layanan.
Namun, Pelindo tetap menyesuaikan penerapan transformasi tersebut dengan karakteristik setiap wilayah. Papua menjadi salah satu wilayah yang membutuhkan pendekatan sesuai kondisi geografis dan kebutuhan konektivitas daerah.
Melalui langkah tersebut, peningkatan produktivitas tidak hanya diarahkan untuk mengejar pertumbuhan volume. Pelindo juga ingin memastikan layanan pelabuhan tetap mampu menjawab kebutuhan pengguna jasa dan masyarakat.
Pelindo Ingin Pelabuhan Jayapura Tumbuh Bersama Papua
Ramdan menegaskan pertumbuhan aktivitas Pelabuhan Jayapura harus memberikan dampak yang lebih luas bagi Papua. Konektivitas, distribusi logistik, masyarakat, dan perekonomian daerah menjadi bagian dari sasaran yang ingin diperkuat melalui pertumbuhan tersebut.
“Kami ingin Pelabuhan Jayapura terus tumbuh bersama Papua. Pertumbuhan aktivitas pelabuhan harus memberikan nilai bagi konektivitas, distribusi logistik, masyarakat, dan perekonomian daerah,” ujar Ramdan.
Dengan arus barang nonpetikemas yang melonjak 101,3 persen hingga Agustus 2026, Pelabuhan Jayapura menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan. Pada saat bersamaan, pertumbuhan arus kapal dan penumpang menambah gambaran bahwa kebutuhan terhadap layanan transportasi laut di Papua terus bergerak.
Karena itu, tantangan berikutnya bukan sekadar menjaga pertumbuhan volume, tetapi memastikan peningkatan produktivitas tetap berjalan bersama keselamatan dan kualitas pelayanan. Langkah tersebut menjadi penting agar Pelabuhan Jayapura dapat terus memperkuat perannya sebagai simpul konektivitas laut Papua. (*)
Leave a comment