Medan, danantaranews.id – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai memanfaatkan compressed biomethane gas (BioCNG) sebagai campuran bahan bakar di Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU) Belawan, Medan, Sumatera Utara. Langkah ini menjadi tahap awal pengembangan energi hijau melalui pemanfaatan gas yang berasal dari limbah organik.
PLN EPI telah menyelesaikan pengujian, uji coba, dan studi kelayakan sebelum memulai pengiriman BioCNG berdasarkan kontrak. Perusahaan kini menguji pemanfaatan bahan bakar tersebut sebagai bagian dari upaya mengembangkan energi yang lebih ramah lingkungan.
PLN Mulai Pasok BioCNG ke PLTGU Belawan
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan pengiriman BioCNG ke PLTGU Belawan kini memasuki tahap kontraktual setelah perusahaan menjalani serangkaian pengujian. Ia menyampaikan hal tersebut saat meninjau pembangkit di Medan, Kamis.
“Pengujian, trial dan studi kelayakan sudah dilakukan. Sekarang ini adalah pengiriman pertama secara kontraktual,” ujar Hokkop.
Pada tahap awal, PLN memperoleh BioCNG dari mitra yang telah memiliki fasilitas produksi. PLN kemudian membeli bahan bakar tersebut untuk dicampurkan dengan gas yang digunakan PLTGU Belawan.
Proporsi BioCNG dalam campuran bahan bakar saat ini masih di bawah dua persen dari total bahan bakar pembangkit. Pemanfaatan awal ini menjadi langkah pembuka sebelum PLN mengembangkan produksi BioCNG secara mandiri bersama mitra.
Limbah Cair Sawit Jadi Sumber Gas Metana
PLN EPI melihat potensi besar pengembangan BioCNG dari limbah organik yang menghasilkan gas metana. Salah satu sumber bahan baku yang menjadi perhatian adalah limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME).
Limbah tersebut dapat menghasilkan gas metana yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan baku BioCNG. Dengan menggandeng perusahaan yang memiliki sumber bahan baku tersebut, PLN ingin memperluas peluang produksi gas biomethane untuk kebutuhan energi.
Namun, pengembangan BioCNG tidak hanya membutuhkan ketersediaan bahan baku. PLN juga memerlukan dukungan mitra teknologi dan investor agar rantai produksi serta pemanfaatan bahan bakar ini dapat berkembang.
“Perlu banyak mitra untuk penyediaan bahan baku, perlu juga mitra teknologi, dan mitra investasi bersama untuk mendukung pengembangan BioCNG,” kata Hokkop.
200 Pembangkit Gas PLN Berpotensi Gunakan Energi Hijau
Peluang pengembangan BioCNG tidak terbatas pada PLTGU Belawan. Hokkop menyebut PLN mengelola sekitar 200 unit Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) dan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG) di berbagai wilayah Indonesia.
Menurutnya, setiap pembangkit memiliki potensi tersendiri untuk mendukung pengembangan energi hijau. Karena itu, PLN dapat mengkaji pemanfaatan BioCNG berdasarkan lokasi pembangkit dan ketersediaan bahan baku di sekitarnya.
Strategi tersebut membuka peluang untuk menghubungkan sumber limbah organik dengan kebutuhan bahan bakar pembangkit. Dengan pendekatan itu, pengembangan BioCNG dapat disesuaikan dengan karakteristik sumber daya di setiap daerah.
Lampung, Riau, hingga Kalimantan Masuk Potensi Pengembangan
PLN EPI juga melihat peluang pengembangan BioCNG di luar Sumatera Utara. Lampung menjadi salah satu daerah yang berpotensi memanfaatkan kotoran hewan sebagai sumber bahan baku, sedangkan Riau dan Kalimantan dapat mengandalkan limbah cair industri kelapa sawit.
Perbedaan sumber bahan baku tersebut membuat PLN perlu menyesuaikan lokasi pengembangan dengan kondisi masing-masing wilayah. Perusahaan akan melihat pembangkit gas terdekat dan mengidentifikasi mitra yang memiliki limbah penghasil metana.
“Untuk itu, nanti dilihat PLTG yang terdekat untuk pengembangan bersama tim, baik dari sisi pengujian maupun mitra terkait limbah yang menghasilkan gas metana tersebut,” kata Hokkop.
Pengembangan BioCNG Masih Bertahap
Pemanfaatan BioCNG di PLTGU Belawan menandai dimulainya penggunaan bahan bakar tersebut melalui pengiriman kontraktual. Pada tahap ini, PLN masih mengandalkan pasokan dari mitra yang telah memiliki fasilitas produksi.
Selanjutnya, PLN EPI berencana mengembangkan fasilitas produksi secara mandiri dengan menggandeng berbagai mitra. Ketersediaan bahan baku, dukungan teknologi, dan investasi akan menjadi bagian penting dalam pengembangan tersebut.
Dengan sekitar 200 unit PLTG dan PLTMG yang dikelola PLN, perusahaan memiliki sejumlah lokasi potensial untuk mengkaji pemanfaatan BioCNG. Namun, setiap lokasi tetap memerlukan kajian dan pengujian sesuai kondisi pembangkit serta sumber bahan baku yang tersedia.
Pengembangan ini memperlihatkan upaya PLN EPI untuk menghubungkan pemanfaatan limbah organik dengan kebutuhan energi. PLTGU Belawan menjadi titik awal, sementara Lampung, Riau, dan Kalimantan masuk dalam daftar wilayah yang berpotensi dikembangkan berikutnya.(*)
Leave a comment