JAKARTA, danantaranews.id – Kebiasaan mengorok atau mendengkur sering kali disalahartikan sebagai tanda seseorang sedang tidur nyenyak.
Padahal, bagi individu yang mengalami obesitas, mengorok merupakan alarm tubuh yang perlu diwaspadai karena berkaitan erat dengan Obstructive Sleep Apnea (OSA) atau kondisi henti napas saat tidur.
Dokter Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah Konsultan Aritmia dari Universitas Indonesia, dr. Rizky Aulia Fanani, Sp.JP, Subsp. Ar.(K), mengungkapkan bahwa kebiasaan mengorok merupakan masalah kesehatan yang masih sangat jarang terdiagnosis (under-diagnosed) maupun mendapat penanganan medis yang tepat.
“Pasien-pasien yang obesitas dan terkait dengan fibrilasi atrium (AF), itu banyak yang mengorok. Jadi, mengorok ini harus diintervensi melalui konsultasi dengan dokter,” ujar dr. Rizky dalam konferensi pers di Jakarta.
Bagaimana Mengorok dan Sleep Apnea Merusak Jantung?
Kondisi OSA ditandai dengan berhentinya suplai oksigen secara berkala selama beberapa detik saat tidur. Saat tubuh berulang kali kekurangan oksigen, akan memicu timbulnya reaksi inflamasi (peradangan) di dalam tubuh.
Dalam jangka panjang, proses peradangan ini akan mempercepat pembentukan aterosklerosis (penumpukan plak pada dinding pembuluh darah). Penumpukan plak inilah yang kemudian menjadi faktor risiko tersembunyi penyebab fibrilasi atrium—salah satu jenis gangguan irama jantung (aritmia) yang berbahaya.
Dokter Rizky menambahkan bahwa gangguan irama jantung bahkan bisa terjadi pada orang yang memiliki pembuluh darah koroner normal jika kualitas tidurnya buruk.
Langkah Penanganan dan Cara Deteksi Dini
Penanganan kebiasaan mengorok harus disesuaikan dengan akar penyebabnya:
-
Faktor Lemak/Metabolik: Jika dipicu oleh kadar lemak darah atau obesitas, maka pengelolaan berat badan dan resistensi insulin menjadi prioritas utama.
-
Faktor Saluran Napas/Alergi: Jika terdapat masalah pada organ pernapasan atau alergi, pasien disarankan berkonsultasi dengan Dokter Spesialis Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT).
Untuk deteksi awal, dr. Rizky menyarankan beberapa cara praktis dalam mengukur kualitas tidur:
-
Konfirmasi Orang Terdekat: Tanyakan kepada pasangan atau teman tidur mengenai kebiasaan mengorok serta adanya jeda napas saat tidur.
-
Gunakan Teknologi Pintar: Manfaatkan perangkat smartwatch yang dilengkapi fitur pelacak kualitas tidur untuk memantau adanya pola gangguan pernapasan atau episode penurunan oksigen malam hari.
Bagi penderita obesitas tingkat lanjut (obesitas morbid) yang sudah terlanjur mengalami gangguan irama jantung seperti fibrilasi atrium, penanganan medis lebih lanjut dapat dilakukan melalui tindakan ablasi jantung sesuai rekomendasi dokter spesialis.
Leave a comment