danantaranews.id – Sensasi sejuk angin Purwakarta langsung menyapa saat rombongan Safari Jumat Tebet-Bekasi mendarat di Masjid Endan Andansih, Jumat (11/9/2026).
Langkah kaki terasa lebih ringan, membelah kesegaran pagi di tempat ibadah anggun bernuansa serba putih yang berdiri megah di atas lahan seluas 18.965 m² ini.
Perjalanan kali ini penuh cerita unik, kehangatan rombongan, hingga keindahan arsitektur masjid yang berdiri kokoh di Kampung Nenggeng, Desa Neglasari, Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta.
Serba Cepat
Semua bermula pada Kamis malam (10/9/2026).Usai agenda rutin malam Jumat, Kepala Tim (Katim) Safari Jumat divisi Bekasi mengumumkan dress code warna cokelat. Di saat yang sama, asisten Katim divisi Tebet sibuk merapikan dan membagikan rundown perjalanan.
Jumat pagi pukul 05.27 WIB, notifikasi WhatsApp Group (WAG) mendadak ramai. Mahpudi yang akrab disapa Pak Dodi, selaku Katim Divisi Bekasi mendadak memajukan jam keberangkatan menjadi pukul 07.00 WIB dari rencana awal 07.30 WIB.
“Kalau cepat diselesaikan, jadi lebih tenang,” ujar sosok asal Malingping, Banten tersebut.

Karakter cekatan Pak Dodi rasanya tak lepas dari profesinya sebagai General Manager Arlet Laundry. Prinsipnya jelas: makin cepat berangkat, makin santai menikmati kopi pagi tanpa perlu dikejar waktu salat.
Pagi itu, Divisi Bekasi memboyong tiga orang istri anggota, meski Pak Ustadz dan Gus Temanggung terpaksa absen karena urusan mendadak.
Insiden Sepatu Ketum di Rest Area KM 88
Sekitar satu jam menembus jalan tol, Divisi Bekasi tiba di titik kumpul Rest Area (RA) KM 88 Tol Cipularang. Divisi Tebet rupanya sudah mendarat 15 menit lebih awal.
Di sinilah gelak tawa pecah. Sepatu Katim Tebet yang juga Ketua Umum (Ketum) Safari Jumat Tebet-Bekasi mendadak ‘berulah’. Sol sepatunya lepas begitu saja di lokasi.
“Sudah lama nggak dipakai. Begitu dipakai lagi langsung begini,” cetus Pak Ketum yang disambut senyum-senyum geli dari sang istri dan anggota rombongan.

Suasana cair dan penuh banyolan hangat mengiringi momen ngopi pagi tersebut, sebelum akhirnya sandal jepit hadir sebagai juru selamat.
Kemegahan Masjid Endan Andansih
Setelah sejam beristirahat, rombongan melanjutkan perjalanan sekitar 13–15 km menuju lokasi utama. Keluar melalui Exit Toll KM 99, kendaraan melaju menembus jalanan menanjak dan berkelok sejauh 4 km yang mulus serta lebar.
Pukul 10.05 WIB, rombongan tiba di Masjid Endan Andansih. Tempat ibadah ini diresmikan pada Sabtu, 17 Juni 2023 setelah mulai dibangun pada 2021 oleh Kepala BPKP, Muhammad Yusuf Ateh.
Tak hanya Yusuf Ateh, ada nama Mochamad Basuki Hadimuljono yang kala itu menjabat sebagai Menteri PUPR dan Bahlil Lahadalia Kepala BKPM.
Nama masjid bernuansa serba putih ini didedikasikan khusus untuk mengenang sang ibu.
Tak jauh dari pintu masuk, berdiri tugu berlafaz Allah yang langsung menyedot perhatian.

Kawasan ini juga dirancang sangat lengkap, mulai dari fasilitas taman bermain, rumah singgah, Telaga Mulya, Restoran Rakyat Indonesia, hingga area UMKM Mandiri. Masjid dua tingkat ini mampu menampung hingga 1.200 jamaah dan ditopang area parkir yang sangat luas.
Sambil menunggu waktu jumatan, rombongan menyempatkan diri menyantap teh hangat dan gorengan di Restoran Rakyat Indonesia yang berada di sebelah Telaga Mulya.
Menjelang pukul 11.13 WIB, rombongan berjalan menaiki undakan tangga berhias tanaman bunga dan tempat duduk menuju ruang utama. Masuk ke dalam masjid dua tingkat ini, mata langsung dimanjakan hijau mewahnya karpet empuk, serta keindahan lukisan kaligrafi di area mimbar dan plafon lampu yang menambah kesan elegan.

Khutbah Jumat hari itu membawa pesan mendalam: mengingatkan jamaah untuk memperbanyak amal ibadah, menjauhi larangan Allah, dan berdoa agar tergolong dalam 7 golongan yang masuk surga tanpa hisab.
Penutup Manis di Jantung Kota
Usai menunaikan ibadah, rombongan bersiap pulang. Namun atas arahan Ketua Umum, perjalanan belum sepenuhnya usai.

Usai makan siang di salah satu rumah makan di Jalan Ciganea, rombongan menyempatkan diri mampir ke area parkir Masjid Agung Baing Yusuf, salah satu masjid bersejarah yang didirikan sejak tahun 1862 di pusat Kota Purwakarta.
Tanpa masuk ke dalam area masjid, kunjungan singkat ini ditutup secara sempurna dengan menikmati kelezatan Es Krim Cincau Mang Lili yang legendaris.
Safari Jumat Tebet-Bekasi hari itu pun menyisakan lebih dari sekadar perjalanan menuju sebuah masjid.
Ada kebersamaan di sepanjang jalan, kopi dan gorengan di rest area, sol sepatu yang lepas, sandal jepit sebagai penyelamat, perjalanan menanjak menuju masjid, keteduhan karpet hijau, pesan khotbah Jumat, hingga es krim cincau sebagai penutup perjalanan.
Sebuah perjalanan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi justru di situlah cerita-cerita kecil tercipta dan menjadi kenangan bersama.
Leave a comment