Home Lifestyle Menjelajah Baduy di Penghujung Agustus: Panas Ciboleger, Teduh Kampung Adat dan Pesta Durian
Lifestyle

Menjelajah Baduy di Penghujung Agustus: Panas Ciboleger, Teduh Kampung Adat dan Pesta Durian

Share
Patung Keluarga Baduy di Ciboleger (GW)
Share

LEBAK, danantaranews.id – Matahari baru menanjak ketika jarum jam menunjukkan pukul 10.11 WIB. Namun, panasnya sudah terasa menusuk kulit.

Hari itu, Sabtu, 29 Agustus 2026, kawasan Ciboleger, Bojong Menteng, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten, seperti berada di bawah tungku raksasa. Terik matahari memantul dari badan puluhan kendaraan yang memenuhi sisi kiri dan kanan jalan.

Ciboleger merupakan pintu masuk utama bagi wisatawan yang hendak menjelajahi kawasan permukiman masyarakat Baduy.

Deru mesin kendaraan yang keluar-masuk, ditambah padatnya aktivitas wisatawan, membuat udara di kawasan tersebut terasa semakin panas. Peluh dengan cepat membasahi tubuh para pelancong yang baru tiba.

Tak sedikit wisatawan terlihat mencari tempat berteduh atau sekadar mengipas wajah. Perjalanan menuju kawasan Baduy yang seharusnya menjadi pengalaman menyenangkan justru diawali dengan perjuangan menghadapi sengatan matahari.

Namun, bagi warga setempat, kondisi tersebut justru menjadi peluang.

“Naik ojek, Pak. Lima belas ribu sampai atas,” ujar salah seorang pengemudi ojek menawarkan jasanya kepada wisatawan.


tugu memasuki pemukiman warga Baduy (GW)

Jaraknya memang hanya sekitar satu kilometer. Tetapi jalan menuju kawasan permukiman Baduy cukup menanjak. Bagi wisatawan yang membawa barang bawaan atau belum terbiasa berjalan kaki di medan tersebut, jasa ojek menjadi pilihan praktis.

Di tempat yang sama, sejumlah warga lainnya menawarkan tongkat kayu. Benda sederhana itu cukup membantu wisatawan melewati jalan menanjak menuju perkampungan Baduy.

Perjalanan Panjang

Perjalanan menuju Baduy dari Bekasi bukan perjalanan singkat.

Saya bersama rombongan dari Bekasi dan Tebet memilih perjalanan melalui jalan tol harus melewati beberapa ruas tol, mulai Jakarta Outer Ring Road (JORR), Jakarta-Tangerang, Tangerang-Merak, hingga Tol Rangkasbitung.

Setelah keluar dari Tol Rangkasbitung, perjalanan belum selesai.

Jalan berkelok dan naik turun mulai mendominasi perjalanan. Kendaraan harus melintasi kawasan perbukitan sebelum akhirnya tiba di Ciboleger.

Dari Bekasi, perjalanan menuju kawasan wisata Baduy dapat menghabiskan waktu sekitar empat hingga lima jam, tergantung kondisi lalu lintas dan perjalanan.

Rasa lelah setelah perjalanan panjang pun terasa ketika kendaraan akhirnya tiba di Ciboleger.

Pelataran kawasan wisata terlihat ramai. Kendaraan berbagai jenis terparkir memenuhi ruang yang tersedia. Pada akhir pekan, suasana semakin padat karena wisatawan datang hampir tanpa henti.

Tetapi rasa lelah itu perlahan berubah ketika langkah mulai memasuki kawasan permukiman masyarakat Baduy.

Dari Terik Matahari Menuju Kampung yang Teduh

Salah satu kejutan dalam perjalanan menuju Baduy adalah perubahan suasana yang terasa cukup cepat.

Di Ciboleger, panas matahari terasa menyengat. Namun, setelah memasuki kawasan perkampungan, suasana berubah menjadi lebih teduh.

Gapura selamat datang di perkampungan warga Baduy (GW)

Sebuah gapura menyambut wisatawan dengan tulisan:

“Selamat Datang di Saba Budaya Baduy, Lojor Teu Beunang Dipotong, Pondok Teu Beunang Disambung.”

Tak jauh dari pintu masuk terdapat sebuah masjid. Di sepanjang jalan, toko-toko milik warga berjejer menawarkan berbagai produk kerajinan khas Baduy.

Ada kain tenun, udeng Baduy, caping dari anyaman bambu, bakul nasi, pernak-pernik, madu, hingga berbagai hasil bumi.

Sekitar 100 meter kemudian, suasana semakin berbeda.

Sebuah tugu bertuliskan “Gunung Ulah Dilebur, Lebak Ulah Dirusak” menjadi penanda kawasan perkampungan.

Di baliknya, jalan bebatuan yang tersusun rapi membawa wisatawan memasuki deretan rumah tradisional Baduy.

Pemandangan itu terasa kontras dengan suasana ramai di Ciboleger.

Pepohonan dan bangunan tradisional membuat udara terasa lebih sejuk. Suara kendaraan perlahan menghilang, berganti dengan suasana kampung yang jauh lebih tenang.

Rumah-rumah panggung berdiri berderet di kanan dan kiri jalan.

Bangunan tersebut dikenal sebagai sulah nyanda, rumah tradisional yang menggunakan kayu dan bambu dengan atap dari ijuk atau rumbia.

Kesederhanaan justru menjadi kekuatan pemandangan di kawasan ini.

Teras Rumah Menjadi Lapak Dagangan

Di depan hampir setiap rumah, terdapat teras bambu berukuran sekitar 2 x 7 meter. Teras tersebut tidak hanya berfungsi sebagai bagian rumah, tetapi juga menjadi tempat warga menawarkan berbagai produk kepada wisatawan.

Kain tenun Baduy menjadi salah satu produk yang banyak dicari.

Harganya bervariasi, mulai dari ratusan ribu rupiah, tergantung jenis dan ukuran.

Rumah tradisional masyarakat Baduy (GW)

Ada pula madu Baduy yang ditawarkan dalam berbagai ukuran dengan harga mulai sekitar Rp30 ribu hingga Rp170 ribu.

Namun, pada akhir Agustus kali ini, ada satu komoditas yang seolah menjadi bintang utama.

Durian.

Saat Baduy Menggelar “Pesta Durian”

Jika ada satu alasan tambahan yang membuat wisatawan rela menempuh perjalanan berjam-jam ke Baduy pada akhir Agustus, jawabannya adalah durian.

Musim panen durian tengah berlangsung di hutan-hutan Baduy dan sejumlah wilayah Kabupaten Lebak.

Buah berduri itu hampir mudah ditemui sepanjang perjalanan.

Warga Baduy menjajakannya di pinggir jalan, di depan rumah, hingga di kawasan sekitar pintu masuk wisata.

Harga yang ditawarkan relatif terjangkau.

Beberapa durian dijual sekitar Rp50 ribu hingga Rp70 ribu per buah. Ada pula penjual yang menawarkan paket Rp100 ribu untuk empat hingga lima buah, bahkan ada yang memberikan enam buah dalam satu paket, tergantung ukuran dan kualitas.

Tak mengherankan apabila wisatawan yang hendak pulang justru membawa lebih banyak barang dibandingkan ketika datang.

Bukan hanya satu atau dua durian.

Ada yang membawa beberapa buah sekaligus, bahkan sampai puluhan.

 

Sebagian wisatawan membawanya sendiri. Sebagian lainnya meminta bantuan anak-anak Baduy untuk memikul durian hingga ke area parkir.

Suasana itu membuat perjalanan pulang terasa seperti membawa oleh-oleh sekaligus cerita.

Selain durian, manggis juga sedang memasuki musimnya. Buah berkulit ungu tersebut dijual warga dengan harga sekitar Rp7.500 hingga Rp10 ribu per kilogram.

Bagi pencinta buah lokal, penghujung Agustus menjadi waktu yang cukup menarik untuk berkunjung ke kawasan Baduy.

Bukan Sekadar Durian, Ada Budaya yang Dijaga

Namun, tentu saja, Baduy bukan hanya tentang durian.

Ada sesuatu yang jauh lebih penting dan menjadi alasan wisatawan datang dari berbagai daerah: budaya.

Masyarakat Baduy dikenal sebagai bagian dari etnis Sunda yang mempertahankan adat istiadat dan aturan leluhur.

Secara umum, masyarakat Baduy terbagi menjadi Baduy Dalam dan Baduy Luar.

Perbedaan keduanya salah satunya terlihat dari cara menjalankan pikukuh, yakni aturan dan prinsip adat yang menjadi pedoman kehidupan masyarakat Baduy.

Perbedaan juga terlihat dari pakaian.

Masyarakat Baduy Dalam identik dengan pakaian dan ikat kepala berwarna putih. Sementara masyarakat Baduy Luar umumnya mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam.

Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat Baduy menggunakan bahasa Sunda Banten.

Kehidupan mereka juga lekat dengan berbagai aturan adat yang hingga kini masih dipertahankan.

Di wilayah Baduy Dalam, misalnya, terdapat larangan penggunaan berbagai perangkat elektronik. Pengunjung pun harus menghormati aturan yang berlaku ketika memasuki kawasan tersebut.

Wisatawan tidak diperbolehkan sembarangan mengambil foto atau video di area tertentu Baduy Dalam. Pengunjung juga harus memperhatikan aturan terkait penggunaan barang-barang seperti sabun, deterjen, dan pasta gigi.

Aturan tersebut bukan sekadar larangan.

Bagi masyarakat Baduy, adat merupakan bagian penting dari cara mereka menjaga keseimbangan kehidupan dan lingkungan.

Baduy Luar dan Persentuhan dengan Modernitas

Berbeda dengan Baduy Dalam, kehidupan masyarakat Baduy Luar relatif lebih terbuka terhadap pengaruh modernitas.

Sejumlah warga sudah menggunakan telepon seluler, lampu darurat, hingga berbagai barang yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat modern.

Namun, pengaruh tersebut tidak serta-merta menghapus identitas budaya mereka.

Tradisi, bentuk rumah, pakaian, kerajinan, serta berbagai aturan adat masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

Elis, salah seorang warga Baduy Luar, mengatakan sejumlah tradisi dalam kehidupan masyarakat setempat masih bertahan hingga kini.

Menurut dia, perempuan di Baduy pada umumnya masih menikah pada usia muda dan sebagian perjodohan telah dilakukan sejak usia dini. Tidak semua anak juga mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan formal seperti masyarakat pada umumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perjalanan ke Baduy bukan sekadar perjalanan wisata.

Di balik hamparan rumah bambu, kain tenun, madu, durian, dan jalan berbatu, terdapat kehidupan masyarakat yang sedang berhadapan dengan perubahan zaman sembari berusaha mempertahankan adat yang diwariskan leluhur.

Baduy, Antara Wisata dan Kearifan Lokal

Ketika matahari masih terasa menyengat di Ciboleger, para wisatawan mungkin hanya melihat panas, kendaraan yang berdesakan, ojek yang menawarkan jasa, dan pedagang yang menjajakan durian.

Namun, beberapa ratus meter kemudian, suasananya berubah.

Udara terasa lebih teduh. Rumah-rumah bambu berdiri sederhana. Warga menjalankan aktivitas seperti biasa. Kain tenun bergantung di teras rumah, madu ditawarkan kepada pelancong, sementara durian musim panen menjadi magnet tersendiri.

Perjalanan empat hingga lima jam dari Bekasi seakan menemukan jawabannya di sini.

Bukan hanya karena durian yang murah dan melimpah.

Bukan pula sekadar karena pemandangan perkampungan tradisional.

Tetapi karena Baduy menawarkan pengalaman melihat bagaimana sebuah masyarakat menjaga identitas, hidup berdampingan dengan alam, sekaligus menghadapi arus modernitas.

Dan pada penghujung Agustus 2026 itu, pengalaman tersebut datang bersama aroma khas durian yang menguar dari sepanjang jalan pulang.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Menyikapi Dugaan Penistaan Agama via Miras…

Oleh: Tulus Abadi, pegiat perlindungan konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI).   Aksi mempromosikan produk miras dengan salah satu surat Qur’an, memang...

Sofyano Zakaria Desak Danantara Bangun Depo Peti Kemas, Begini Alasannya!

Jakarta, danantaranews.id – Persoalan tarif depo peti kemas kembali menjadi sorotan karena dampaknya dinilai jauh lebih besar daripada sekadar mahal atau murahnya layanan...

Related Articles

HUT ke-41 Dufan: 1.000 Anak Yatim Diajak Main Gratis

Jakarta, danantaranerws.id — Dunia Fantasi atau Dufan Ancol memasuki usia ke-41 dengan...

CEO Astra Infra Bongkar 5 Jurus Karier: Networking Saja Tak Cukup!

Depok, danantaranews.id – Group Chief Executive Officer (CEO) Astra Infra, Firman Yosafat...

OCTO Arena by CIMB Niaga Resmi Hadir, Padukan Padel, Lifestyle dan Layanan Digital

JAKARTA, danantaranews.id – PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) semakin agresif memperluas...

IPK Tinggi Tak Cukup! Sendy Kamesvara Ungkap 4 Skill yang Dicari Perusahaan

Jakarta, danantaranews.id – Persaingan mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar semakin ketat. Senior...