Jakarta, danantaranews.id – Persaingan mendapatkan pekerjaan di perusahaan besar semakin ketat. Senior General Manager Human Capital PT Telkom Indonesia Tbk, Sendy Kamesvara, mengungkap bahwa perusahaan kini tidak hanya melihat nilai akademik atau sertifikasi ketika menilai calon tenaga kerja.
Menurut Sendy, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, dan adaptasi justru menjadi bekal penting bagi pencari kerja. Perubahan tersebut terjadi karena dunia kerja terus menghadapi perkembangan teknologi yang cepat.
IPK Tinggi Bukan Jaminan Lolos
Sendy mengatakan standar perekrutan telah mengalami perubahan dibandingkan masa lalu. Kandidat dengan IPK tinggi dari perguruan tinggi ternama tidak otomatis mendapatkan tempat jika mereka tidak mampu menghadapi situasi kerja yang dinamis.
Perusahaan kini melihat lebih jauh kemampuan seseorang dalam berpikir dan berinteraksi dengan lingkungan. Karena itu, pencari kerja perlu menunjukkan bahwa mereka mampu menerapkan pengetahuan dalam situasi nyata.
“Dulu orang yang IPK-nya tinggi dari perguruan tinggi yang kita kenal itu langsung diterima. Tapi sekarang, orang yang IPK-nya tinggi kalau dia kemudian tidak bisa berpikir kritis dan tidak bisa beradaptasi dengan lingkungannya, tidak akan diterima,” ujar Sendy Kamesvara.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa prestasi akademik tetap memiliki nilai, tetapi perusahaan membutuhkan lebih dari sekadar angka. Kandidat juga perlu membuktikan kemampuan menghadapi masalah dan menyesuaikan diri dengan perubahan.
Hard Skill Bisa Cepat Berubah
Menurut Sendy, kemampuan teknis atau hard skill memang penting dalam dunia kerja. Namun, perkembangan teknologi membuat keterampilan teknis dapat mengalami perubahan dalam waktu relatif singkat.
Kehadiran kecerdasan buatan atau AI dan robotik menjadi salah satu contoh perubahan yang dapat mengubah kebutuhan perusahaan. Skill teknis yang relevan saat ini dapat mengalami perubahan besar dalam kurun waktu lima tahun.
“Hard skill atau skill teknis itu 5 tahun dia berubah. Yang penting sebenarnya bagaimana adik-adik semua bisa menyesuaikan dengan semua perubahannya. Itu jauh lebih penting,” tutur Sendy.
Karena itu, pencari kerja perlu memiliki kemampuan belajar dan beradaptasi secara berkelanjutan. Dengan begitu, mereka tidak hanya mengandalkan satu keterampilan teknis yang sewaktu-waktu dapat kehilangan relevansinya.
Soft Skill Jadi Pembeda
Di tengah perubahan tersebut, Sendy menilai karakter dan soft skill memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan seseorang di organisasi. Kemampuan seperti kejujuran, kedisiplinan, kemampuan bergaul, kepemimpinan, dan kerja keras menjadi bagian penting dari perjalanan karier.
Karakter juga membantu seseorang menghadapi berbagai situasi yang tidak selalu bisa diselesaikan dengan kemampuan teknis. Sebab, dunia kerja membutuhkan orang yang mampu bekerja bersama, mengambil keputusan, serta menyesuaikan diri dengan lingkungan.
Dengan demikian, pencari kerja perlu membangun keseimbangan antara kompetensi teknis dan kemampuan interpersonal. Pengetahuan dapat menjadi modal awal, sedangkan karakter dan kemampuan beradaptasi membantu seseorang mempertahankan performa ketika kondisi berubah.
Empat Skill yang Wajib Diasah
Sendy menyarankan mahasiswa dan pencari kerja mengembangkan empat kemampuan yang ia sebut sebagai 4C. Keempatnya terdiri dari Critical Thinking, Communication, Creativity, dan Adaptivity.
1. Critical Thinking
Critical Thinking atau berpikir kritis membantu seseorang memahami persoalan sebelum mengambil keputusan. Kemampuan ini juga menjadi penting ketika perusahaan menghadapi masalah yang membutuhkan analisis dan pertimbangan.
Kandidat tidak cukup hanya mengetahui jawaban dari sebuah persoalan. Mereka perlu menunjukkan bagaimana cara berpikir dan menyusun solusi ketika menghadapi tantangan.
2. Communication
Communication atau kemampuan komunikasi menjadi bekal penting dalam lingkungan kerja. Seseorang perlu mampu menyampaikan gagasan dan menjelaskan pengalaman secara jelas agar orang lain dapat memahami kontribusinya.
Kemampuan tersebut juga berkaitan dengan cara kandidat menyampaikan jawaban ketika mengikuti proses wawancara. Komunikasi yang baik membantu perusahaan memahami cara seseorang menyampaikan ide dan pengalaman.
3. Creativity
Creativity atau kreativitas menjadi kemampuan berikutnya yang perlu diasah. Dunia kerja membutuhkan orang yang mampu melihat persoalan dari sudut pandang berbeda dan menghasilkan gagasan.
Kreativitas juga dapat membantu seseorang ketika menghadapi perubahan. Dengan cara berpikir yang lebih terbuka, kandidat memiliki ruang untuk mencari pendekatan baru terhadap persoalan.
4. Adaptivity
Adaptivity atau kemampuan beradaptasi menjadi semakin penting ketika teknologi berkembang cepat. Kandidat perlu mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan dan perubahan kebutuhan pekerjaan.
Kemampuan adaptasi juga menjadi alasan mengapa perusahaan tidak hanya mengandalkan IPK dalam proses perekrutan. Kandidat dengan kemampuan belajar dan menyesuaikan diri memiliki bekal untuk menghadapi perubahan yang terus berlangsung.
Portofolio Jadi Bukti Nyata
Selain mengembangkan 4C, Sendy mendorong pencari kerja membangun portofolio yang kuat. Portofolio dapat membantu kandidat menunjukkan pengalaman dan kontribusi yang pernah mereka hasilkan.
Hal tersebut menjadi penting ketika kandidat memasuki tahap wawancara. Pelamar perlu menjelaskan pengalaman kerja atau proyek secara terstruktur agar perusahaan dapat melihat cara mereka menghadapi persoalan.
Sendy menyarankan kandidat menggunakan pendekatan yang mencakup situasi, tugas, tindakan, dan hasil. Dengan pola tersebut, pelamar dapat menjelaskan konteks masalah, tanggung jawab, langkah yang mereka ambil, hingga hasil nyata dari tindakan tersebut.
Pendekatan itu membuat pengalaman kandidat tidak berhenti pada daftar kegiatan di dalam CV. Pelamar juga dapat menunjukkan kontribusi dan hasil yang mereka capai dari pengalaman tersebut.
4C Jadi Bekal Hadapi Persaingan
Persaingan memasuki perusahaan besar membuat pencari kerja perlu mempersiapkan diri lebih dari sekadar mengejar IPK. Mereka juga harus membangun kemampuan yang dapat bertahan ketika kebutuhan industri berubah.
Sendy menilai 4C dapat menjadi bekal penting untuk menghadapi situasi tersebut. Kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kreativitas, dan adaptasi dapat digunakan di berbagai lingkungan kerja.
“Kalau teman-teman punya 4C ini, tidak usah khawatir. Teman-teman bisa survive dan pasti dipakai ke mana saja. Nanti tetap jadi orang yang mulai dipilih oleh perusahaan,” kata Sendy.
Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan semakin membutuhkan kandidat dengan kombinasi kemampuan teknis dan karakter yang kuat. Karena itu, mahasiswa dan pencari kerja perlu mulai membangun kompetensi sejak sekarang, bukan hanya ketika proses rekrutmen sudah dimulai.
Pada akhirnya, IPK dan sertifikasi tetap dapat menjadi bagian dari profil kandidat, tetapi keduanya bukan satu-satunya penentu. Kemampuan berpikir, berkomunikasi, berkreasi, beradaptasi, serta membuktikan kontribusi melalui portofolio menjadi modal penting untuk menghadapi dunia kerja yang terus berubah. (*)
Leave a comment