Jakarta, danantaranews.id – Memasuki usia 20-an sering menjadi fase penuh pertanyaan bagi anak muda, terutama ketika harus menentukan arah karier. Chief Financial Officer (CFO) Hypermart Indonesia, Mirtha Sukanto, membagikan panduan agar generasi muda dapat memilih pekerjaan secara lebih realistis tanpa mengesampingkan minat dan kemampuan.
Menurut Mirtha, karier ideal tidak cukup hanya mengejar pekerjaan yang disukai. Anak muda juga perlu melihat kemampuan yang dimiliki serta kebutuhan dunia kerja agar pilihan tersebut tetap relevan secara finansial.
Tiga Hal yang Harus Bertemu
Mirtha menjelaskan bahwa usia 20-an memberikan ruang yang cukup luas untuk bereksplorasi. Karena itu, anak muda tidak perlu terlalu cepat merasa harus menemukan satu pilihan karier yang langsung sempurna.
Namun, eksplorasi tetap membutuhkan arah. Mirtha menyarankan anak muda mencari titik temu antara passion, kemampuan, dan kebutuhan pasar.
“In an ideal scenario adalah tiga hal itu ketemu jadi satu. Jadi imagine kalau kamu gambar Venn diagram, minat which is passion, your skill, then another one adalah what the world wants, dan kamu ketemu di tengah-tengah itu,” ujar Mirtha Sukanto di Jakarta, Rabu (12/8/2026).
Konsep tersebut menggambarkan bahwa pilihan karier terbaik muncul ketika tiga elemen utama saling beririsan. Ketiganya mencakup sesuatu yang disukai, kemampuan yang dikuasai, serta pekerjaan atau keahlian yang dibutuhkan dunia.
Skill Bikin Pekerjaan Lebih Ringan
Elemen pertama yang perlu diperhatikan adalah bakat, kemampuan, dan potensi diri. Menurut Mirtha, pekerjaan akan terasa lebih ringan ketika seseorang mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan kemampuan yang dimilikinya.
Artinya, anak muda perlu mengenali kelebihan diri sebelum menentukan arah pekerjaan. Pemahaman tersebut dapat membantu seseorang memilih bidang yang sesuai dengan kapasitasnya.
“Of course kalau kita mengerjakan sesuatu yang sesuai bakat, kemampuan, potensial, pekerjaan itu akan jadinya ringan, effortless,” tutur Mirtha.
Dengan mengenali skill, seseorang juga dapat mengetahui kemampuan apa yang perlu terus dikembangkan. Langkah ini menjadi penting karena dunia kerja terus membutuhkan kombinasi keterampilan yang semakin beragam.
Passion Bikin Kerja Lebih Happy
Selain kemampuan, minat atau passion juga menjadi bagian penting dalam membangun karier. Mirtha menilai pekerjaan yang sesuai dengan minat dapat memberikan rasa bahagia ketika seseorang menjalani rutinitasnya.
Passion bukan berarti seseorang hanya mengejar kesenangan. Anak muda tetap perlu menghubungkan minat tersebut dengan kemampuan dan peluang yang tersedia di dunia kerja.
“Kalau yang sesuai dengan minat, passion, jadinya happy,” tutur Mirtha.
Karena itu, keputusan karier sebaiknya tidak hanya berdasarkan tren pekerjaan. Anak muda perlu memahami apa yang benar-benar mereka sukai sekaligus menilai apakah minat tersebut dapat berkembang menjadi kemampuan yang bernilai.
Jangan Lupa Lihat Kebutuhan Pasar
Elemen ketiga yang Mirtha tekankan adalah kebutuhan dunia atau pasar kerja. Kemampuan dan passion perlu bertemu dengan kebutuhan nyata agar pilihan karier memiliki relevansi secara finansial.
Pendekatan tersebut menjadi semakin penting ketika kondisi ekonomi menuntut seseorang bersikap realistis. Anak muda tetap dapat mengejar minat, tetapi mereka juga perlu memahami peluang yang tersedia di luar sana.
Dengan menggabungkan passion, skill, dan kebutuhan pasar, pencari kerja dapat membangun pilihan yang lebih seimbang. Strategi tersebut juga membantu menghindari keputusan karier yang hanya berangkat dari satu pertimbangan.
Karier Tak Harus Cuma Satu
Mirtha juga menyoroti tren multi skill dan slash career yang semakin relevan dengan kehidupan modern. Seseorang tidak harus membatasi dirinya hanya pada satu pekerjaan atau satu kemampuan.
Seorang pekerja dapat menjalankan pekerjaan di perusahaan sekaligus mengembangkan bisnis, berinvestasi, atau mempelajari keahlian lain. Pola tersebut membuka ruang bagi seseorang untuk mengembangkan berbagai potensi secara bersamaan.
Menurut Mirtha, kemampuan memiliki lebih dari satu keahlian dapat membantu seseorang menghadapi tuntutan kehidupan modern. Namun, pengembangan berbagai aktivitas tetap membutuhkan energi dan kemampuan mengatur keseimbangan.
“Being multi skill, being hustle, have enough energy untuk dikontribusikan juga, I think still very relevant today untuk hidup kita,” tegas Mirtha.
Aktivitas di Luar Kerja Juga Penting
Keseimbangan hidup tidak hanya berkaitan dengan pekerjaan utama. Mirtha juga melihat aktivitas di luar pekerjaan dapat memberikan manfaat bagi kesehatan mental dan kualitas kehidupan seseorang.
Kegiatan tersebut dapat berupa keterlibatan sebagai relawan dalam organisasi sosial maupun menjadi atlet rekreasional. Aktivitas semacam ini dapat memberikan energi positif sekaligus menghadirkan pengalaman yang berbeda dari rutinitas pekerjaan.
Dengan begitu, kehidupan tidak hanya berputar pada target pekerjaan. Seseorang juga memiliki ruang untuk melakukan aktivitas yang memberikan makna dan menjaga keseimbangan diri.
“If you are happy, if you have energy, it will be more balance and meaningful,” ujar Mirtha.
Usia 20-an Jadi Waktu untuk Eksplorasi
Pandangan Mirtha memberikan gambaran bahwa menentukan karier pada usia 20-an bukan sekadar memilih pekerjaan dengan gaji atau jabatan tertentu. Proses tersebut membutuhkan pemahaman terhadap diri sendiri sekaligus kemampuan membaca kebutuhan dunia kerja.
Anak muda dapat memulai dari mengenali passion dan kemampuan. Setelah itu, mereka bisa mencari irisan dengan kebutuhan pasar agar pilihan karier tetap memiliki prospek dan nilai secara finansial.
Di sisi lain, pengembangan multi skill dapat menjadi bekal tambahan untuk menghadapi perubahan. Aktivitas di luar pekerjaan juga dapat membantu menjaga energi sehingga perjalanan karier tidak terasa hanya sebagai rutinitas.
Pada akhirnya, karier ideal bukan sekadar tentang mengejar pekerjaan yang terlihat menarik. Pilihan yang lebih kuat muncul ketika minat, kemampuan, dan kebutuhan dunia dapat bertemu dalam satu arah yang seimbang. (*)
Leave a comment