Home Ekonomi AI Tak Bisa Gantikan Manusia, Bos Teknologi Ungkap Keunggulan Manusia
Ekonomi

AI Tak Bisa Gantikan Manusia, Bos Teknologi Ungkap Keunggulan Manusia

Share
Diskusi Workvolution bertema "Talent Wars: Human or AI? Preparing for Opportunities in a Changing World" yang diselenggarakan, Rabu, 12 Agustus 2026 di Twin House Cipete
Diskusi Workvolution bertema "Talent Wars: Human or AI? Preparing for Opportunities in a Changing World" yang diselenggarakan, Rabu, 12 Agustus 2026 di Twin House Cipete, yang diselenggarakan oleh Woman Hub
Share

Jakarta, danantaranews.id – Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin cepat dan masuk ke berbagai sisi kehidupan. Namun, Founder and CEO Wahana Piranti Teknologi Lenna Phang menilai manusia tetap memiliki keunggulan yang tidak mudah digantikan oleh teknologi.

Menurut Lenna, AI bekerja berdasarkan data dan informasi yang tersedia. Sementara itu, manusia memiliki kemampuan berpikir serta pengalaman yang membentuk cara seseorang mengambil keputusan.

AI Hanya Memberikan Rekomendasi

Founder and CEO Wahana Piranti Teknologi Lenna Phang

Lenna menegaskan bahwa dirinya tidak percaya manusia dapat sepenuhnya tergantikan oleh AI. Ia melihat perbedaan mendasar antara manusia dan teknologi terletak pada sumber kemampuan masing-masing.

“I don’t believe humans can be replaced by AI. Manusia adalah ciptaan Tuhan, sementara AI hanya memberikan rekomendasi berdasarkan data dan informasi yang dimilikinya,” ujar Lenna Phang dalam diskusi Workvolution di Twin House Cipete, Jakarta, Rabu, 12 Agustus 2026.

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa AI memiliki peran sebagai alat bantu dalam mengolah informasi. Namun, keputusan dan pemikiran manusia tetap memiliki ruang yang berbeda karena manusia membawa pengalaman yang tidak sekadar berasal dari kumpulan data.

Lenna menjelaskan bahwa AI hanya mampu memberikan rekomendasi berdasarkan informasi yang dimilikinya. Sebaliknya, manusia dapat menggunakan pengalaman untuk berpikir dan melihat persoalan dari berbagai sudut pandang.

“AI hanya bisa memberikan rekomendasi dari apa yang ia punya. Tapi kita bisa berpikir. Dari begitu banyak pengalaman yang kita miliki, itulah yang membuat kita berbeda,” kata Lenna.

Pengalaman Jadi Pembeda

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin pesat, pengalaman menjadi salah satu aspek penting yang membedakan manusia dari AI. Pengalaman membantu seseorang membangun cara berpikir yang berkembang seiring perjalanan hidup dan pekerjaannya.

Karena itu, Lenna mendorong setiap orang untuk terus bertumbuh melalui hal yang mereka sukai dan mampu lakukan. Ia menilai proses tersebut dapat menjadi titik awal untuk mengembangkan potensi diri.

“Start from what you love and what you can do, then continue to grow,” ujar Lenna.

Pesan tersebut menempatkan minat dan kemampuan sebagai dua hal penting dalam proses pengembangan diri. Setelah menemukan keduanya, seseorang perlu terus belajar dan berkembang agar kemampuannya semakin kuat.

Usia 20-an Tak Harus Takut Salah

Pesan mengenai pengembangan diri juga datang dari Chief Financial Officer Hypermart Indonesdia, Mirtha Sukanto. Ia menyoroti fase usia 20-an sebagai masa yang masih memberikan ruang untuk mencoba berbagai hal.

Lenna Phang menilai AI tak bisa menggantikan manusia. Pengalaman, kemampuan berpikir, dan proses belajar tetap jadi pembeda.
Chief Financial Officer Hypermart Indonesdia, Mirtha Sukanto

Mirtha mengatakan bahwa membuat kesalahan pada usia tersebut merupakan sesuatu yang masih wajar. Karena itu, seseorang tidak perlu terburu-buru menentukan apa yang benar-benar memiliki arti bagi dirinya.

“Di usia 20-an, it’s still okay to make mistakes. Take your time to figure out what truly means something to you,” ujar Mirtha Sukanto.

Pernyataan tersebut menekankan pentingnya proses dalam menentukan arah kehidupan dan karier. Seseorang dapat menggunakan berbagai pengalaman untuk memahami hal yang benar-benar bermakna bagi dirinya.

Mirtha juga menyarankan agar anak muda mencari titik temu antara minat, kemampuan, dan kebutuhan dunia. Menurutnya, irisan ketiga hal tersebut dapat membantu seseorang menemukan arah yang lebih sesuai.

“Cari irisan antara apa yang kamu suka, apa yang kamu bisa, dan apa yang dunia butuhkan,” kata Mirtha.

Jangan Berhenti Saat Lelah

Sendy Kamesvara mengungkap 4 skill yang kini diburu perusahaan. IPK tinggi dan sertifikasi saja tak cukup untuk lolos seleksi.
Senior GM Human Capital PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Sendy Kamesvara

Perjalanan untuk menemukan kemampuan dan arah yang tepat tentu membutuhkan proses. Dalam perjalanan tersebut, seseorang juga dapat menghadapi rasa lelah ketika terus mencoba dan berkembang.

Senior GM Human Capital PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk, Sendy Kamesvara, menyampaikan pesan singkat mengenai pentingnya tetap bergerak ketika menghadapi kondisi tersebut.

“Ketika kita merasa lelah, jangan pernah berhenti melangkah,” ujar Sendy Kamesvara.

Pesan tersebut menyoroti pentingnya konsistensi dalam menjalani proses. Rasa lelah tidak harus menjadi alasan untuk menghentikan langkah, terutama ketika seseorang masih berada dalam proses mencari dan mengembangkan potensi dirinya.

Manusia Tetap Punya Peran di Era AI

Jika dirangkum, ketiga tokoh tersebut memberikan sudut pandang yang saling melengkapi mengenai manusia, teknologi, dan perjalanan karier. Lenna menekankan pengalaman dan kemampuan berpikir manusia, Mirtha berbicara mengenai proses menemukan arah, sedangkan Sendy menyoroti ketekunan.

Perkembangan AI tidak harus dilihat hanya sebagai ancaman terhadap manusia. Teknologi juga dapat menjadi alat yang memberikan rekomendasi berdasarkan data dan informasi, sementara manusia tetap memiliki peran dalam berpikir dan menentukan langkah.

Pada saat yang sama, generasi muda memiliki ruang untuk mencoba dan belajar. Kesalahan pada usia 20-an tidak harus menjadi akhir dari perjalanan, karena proses tersebut dapat membantu seseorang memahami apa yang disukai, apa yang mampu dilakukan, dan apa yang dibutuhkan dunia.

Pandangan Lenna juga menegaskan pentingnya pengalaman manusia di tengah perkembangan AI. Semakin banyak pengalaman yang dimiliki, semakin banyak pula hal yang dapat menjadi bahan pertimbangan ketika seseorang berpikir dan mengambil keputusan.

Karena itu, tantangan di era AI bukan sekadar bagaimana manusia bersaing dengan teknologi. Tantangan lainnya adalah bagaimana manusia terus mengembangkan kemampuan, memanfaatkan teknologi secara tepat, serta mempertahankan keunggulan yang berasal dari pengalaman dan kemampuan berpikir.

Pesan para tokoh tersebut pada akhirnya mengarah pada satu benang merah: terus berkembang tanpa kehilangan kemampuan manusiawi. Mulai dari hal yang disukai dan dikuasai, berikan waktu untuk menemukan makna, lalu tetap melangkah meski perjalanan terasa melelahkan. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

PSEL Legok Nangka Gaspol! PLN Siap Serap Listrik Sampah hingga 20 Tahun

PLN Kunci Komitmen Beli Listrik PSEL Bandung, danantaranews.id – PLN siap menyerap listrik dari fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL Legok...

Distribusi BBM Jadi Sorotan, Sofyano: Jangan Lepas Kendali ke Swasta

Distribusi BBM Bukan Sekadar Urusan Logistik Jakarta, danantaranews.id – Distribusi bahan bakar minyak (BBM) dari terminal menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU)...

Related Articles

Kriptografi Pasca-Kuantum: Langkah Telkom Bentengi Keamanan Digital Indonesia

Jakarta, danantaranews.id – Perkembangan teknologi komputasi kuantum bergerak sangat pesat dan membawa...

Investasi China Rp1,25 Triliun di IKN, Lebih 100 Apartemen Star Bright Sudah Dipesan

Nusantara, danantaranews.id – Investasi asing di Ibu Kota Nusantara (IKN) mulai menunjukkan...

Sofyano Zakaria Desak Danantara Bangun Depo Peti Kemas, Begini Alasannya!

Jakarta, danantaranews.id – Persoalan tarif depo peti kemas kembali menjadi sorotan karena...

Tekan Rokok Ilegal, Kemenkeu Godok Layer Baru Tarif Cukai Rokok!

JAKARTA, danantaranews.id – Pemerintah terus memutar otak untuk meredam peredaran rokok tanpa...