Home Opini Perkuat Sistem, Tingkatkan Kepekaan
Opini

Perkuat Sistem, Tingkatkan Kepekaan

Share
Share

Oleh: A. Sheamyo Recsam

Indonesia Strategic Forum

 

Belakangan ini negeri kita seolah tak pernah kehabisan kabar yang mengusik nurani. Berita datang silih berganti, menampar rasa kemanusiaan kita, lalu perlahan menghilang, menyisakan rasa sesak yang tak mudah dilupakan.

Di Matraman, Jakarta, tawuran kembali terjadi. Konflik antarwarga menelan korban dan meninggalkan luka yang dalam, tidak hanya pada tubuh, tetapi juga pada masa depan mereka yang terlibat maupun yang menyaksikan. Seorang anak kehilangan ayahnya dalam peristiwa yang penuh amarah. Kehilangan itu meninggalkan ruang kosong yang sulit diisi dan luka yang membutuhkan waktu panjang untuk pulih.

Di sisi lain, kita menyaksikan perbedaan perlakuan terhadap seorang tersangka kasus tindak pidana pencucian uang yang digiring ke Rutan KPK. Ia datang dengan pakaian rapi, tanpa rompi tahanan dan tanpa borgol yang selama ini sering menjadi atribut tersangka korupsi lainnya. Pemandangan ini memunculkan pertanyaan di masyarakat mengenai konsistensi penegakan hukum dan rasa keadilan.

Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar rangkaian berita. Ia menjadi gejala bahwa kohesi sosial kita sedang berada di bawah tekanan. Persoalannya tidak hanya terletak pada mengapa kejadian serupa terus berulang, melainkan pada kecenderungan kita untuk hadir setelah api membesar, bukan ketika percikannya baru muncul.

Yang dihadapi hari ini bukan sekadar persoalan kriminalitas, kekerasan, atau korupsi yang berdiri sendiri. Ini merupakan akumulasi berbagai persoalan yang kurang mendapat respons dini sehingga terus berkembang. Retakan dalam kohesi sosial sering kali tidak terlihat jelas hingga akhirnya memunculkan tragedi.

Karena itu, situasi seperti ini tidak cukup dijawab hanya dengan tindakan setelah peristiwa terjadi. Negara perlu hadir dengan kepekaan terhadap gejala sosial yang berkembang. Memperkuat sistem early warning dan early detection menjadi penting agar persoalan dapat dicegah sebelum berkembang menjadi krisis. Negara idealnya dikenal bukan hanya sebagai pihak yang datang ketika korban sudah berjatuhan atau ketika amarah publik sudah memuncak, melainkan sebagai pihak yang mampu membaca tanda-tanda lebih awal.

Keresahan semacam ini sebenarnya sudah lama dirasakan. Para seniman dan musisi di tanah air telah lebih dahulu merekamnya melalui karya-karya mereka. Banyak lagu yang mengangkat isu kepekaan sosial, ketimpangan, dan pentingnya menjaga rasa saling percaya. Karya-karya itu tidak sekadar hiburan, melainkan pengingat agar kita tetap peka sebagai manusia dan sebagai warga bangsa.

Dalam konteks itu, lagu-lagu bertema kesadaran sosial dari Iwan Fals, misalnya, tetap relevan. Melalui syair-syairnya, ia sering mengajak pendengar untuk melihat lebih jernih kondisi di sekitar, tidak menutup mata terhadap ketimpangan, dan menjaga kepekaan terhadap sesama. Lagu-lagu semacam itu menjadi alarm lembut sekaligus ajakan untuk tidak terbiasa dengan ketidakpedulian.

Ketika kohesi sosial melemah, rasa percaya mudah terkikis. Masyarakat menjadi lebih mudah terprovokasi dan lebih sulit meyakini bahwa hukum serta rasa keadilan bekerja secara merata. Jika kondisi ini dibiarkan, ketidakpercayaan dapat perlahan menjadi suasana kebatinan yang meluas.

Pada akhirnya, kepercayaan publik tidak lahir ketika krisis sudah meledak. Ia tumbuh ketika negara mampu membaca tanda-tandanya sejak dini dan meresponsnya dengan tepat. Memperkuat sistem sekaligus meningkatkan kepekaan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan prasyarat untuk menjaga kohesi sosial.

Ketika kepercayaan publik terjaga, ruang bagi kekerasan, kemarahan, dan keputusasaan akan semakin sempit. Dengan demikian, kita berpeluang membangun suasana kebangsaan yang lebih diikat oleh rasa saling percaya antara warga dan negara, bukan oleh luka yang terus berulang. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Harga Pertalite dan Biosolar Dipastikan Aman Hingga Akhir 2026, Ternyata Ini Alasan Pemerintah

JAKARTA, danantaranews.id – Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang kian bergejolak, kabar menenangkan datang bagi masyarakat Indonesia. Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber...

Kehangatan Safari Jumat Tebet-Bekasi di Masjid Al-Barkah Cileungsi: Dari Gelak Tawa Kedai Kopi Hingga Syahdunya Beribadah

danantaranews.id – Keputusan akhir selalu membawa cerita unik. Hari itu, Jumat, 2 Oktober 2026, Ketua Umum Safari Jumat Tebet-Bekasi menyerahkan penuh mandat penentuan...

Related Articles

Jangan Sampai Skandal Cibinong Menenggelamkan Kasus-kasus Lebih Besar

Oleh  Edy Mulyadi, Wartawan Senior Temuan Ombudsman di lingkungan asimilasi Lapas Kelas...

Dukungan lintas kalangan menguat, Gus Gudfan sosok tepat untuk Sekjen PBNU

Oleh: Achmad Baha’ur Rifqi Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara     Pasca-Muktamar...

Subsidi BBM Sudah Saatnya Pemerintah Harus Berani Berbenah

Oleh: Sofyano Zakaria Pengamat Kebijakan Energi     Wacana mengoreksi harga BBM...

Menimbang Ulang Subsidi Transportasi: Saatnya Menggeser Fokus dari Motor ke Bus Listrik

Oleh Djoko Setijowarno Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat...