Home Opini Dukungan lintas kalangan menguat, Gus Gudfan sosok tepat untuk Sekjen PBNU
Opini

Dukungan lintas kalangan menguat, Gus Gudfan sosok tepat untuk Sekjen PBNU

Share
Share

Oleh: Achmad Baha’ur Rifqi
Presidium Nasional BEM PTNU Se-Nusantara

 

 

Pasca-Muktamar ke-35 Tambakberas Jombang, NU memasuki fase baru. Kontestasi telah selesai. Kini tantangan terbesarnya adalah bagaimana seluruh energi, jaringan, dan sumber daya organisasi kembali dipersatukan untuk menjalankan mandat Muktamar.

Karena itu, Sekretaris Jenderal PBNU ke depan tidak cukup hanya memiliki kemampuan administratif. Posisi ini membutuhkan figur yang memahami kultur NU, memiliki kemampuan komunikasi luas, serta mampu menerjemahkan keputusan organisasi menjadi kerja bersama.

Dalam konteks tersebut, Gus Gudfan Arif Ghofur memiliki modal yang relevan.

Pertama, pengalaman di lingkungan NU dan jejaring pesantren.

Gus Gudfan bukan figur yang hadir secara tiba-tiba. Pengalamannya di berbagai lingkungan organisasi NU dan pesantren memberinya pemahaman terhadap NU sebagai struktur sekaligus kultur.

Modal ini penting karena NU dihuni oleh lintas generasi. Ada para kiai dan masyayikh, pengasuh pesantren, kader senior, hingga generasi muda yang tumbuh dalam ruang digital dan profesional.

Gus Gudfan memiliki ruang komunikasi dan dukungan dari berbagai kelompok tersebut. Ia dapat berdialog dengan generasi muda tanpa kehilangan kedekatan dengan kalangan senior dan pesantren.

Kedua, kemampuan komunikasi struktural dan kultural.

Keputusan PBNU harus dapat diterjemahkan sampai PWNU, PCNU, lembaga, badan otonom, dan struktur di bawahnya. Pada saat yang sama, aspirasi dari daerah, pesantren, kader, dan jamaah juga membutuhkan saluran yang efektif menuju pusat.

Di sinilah kemampuan komunikasi menjadi penting.

Gus Gudfan memiliki pengalaman berinteraksi dengan berbagai simpul NU, sehingga dapat memainkan peran sebagai penghubung antara keputusan organisasi dan realitas di lapangan.

Ketiga, jejaring yang memungkinkan terbukanya ruang konsolidasi.

NU memiliki jaringan yang sangat luas dan beragam. Karena itu, Sekjen membutuhkan kemampuan membangun komunikasi tanpa terjebak pada sekat kelompok.

Gus Gudfan memiliki modal jejaring yang cukup luas untuk berinteraksi dengan berbagai unsur, baik di lingkungan struktural maupun kultural. Karakter inilah yang relevan untuk membawa NU memasuki fase konsolidasi setelah Muktamar.

Dukungan agar Gus Gudfan mengemban amanah sebagai Sekretaris Jenderal PBNU pun semakin menguat di sejumlah kalangan, baik lintas generasi maupun antara unsur struktural dan kultural.

Dari kalangan muda hingga senior, dari jaringan organisasi hingga pesantren, mulai muncul pandangan yang sama bahwa PBNU membutuhkan figur yang dapat diterima secara luas dan mampu bekerja melampaui sekat-sekat kepentingan.

Tentu, keputusan mengenai struktur PBNU merupakan kewenangan kepemimpinan hasil Muktamar. Namun, kebutuhan organisasi tetap harus menjadi pertimbangan utama.

NU membutuhkan Sekjen yang memahami tradisi, mampu membaca perubahan, terbuka terhadap berbagai kalangan, dan sanggup mengubah mandat organisasi menjadi kerja nyata.

Dalam konteks itulah Gus Gudfan adalah sosok yang kuat untuk mengemban amanah Sekretaris Jenderal PBNU.

Kontestasi telah selesai. Saatnya konsolidasi.

Dan konsolidasi membutuhkan figur yang mampu membuat berbagai simpul NU kembali berbicara dalam satu bahasa: pengabdian dan kerja organisasi. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Haji Isam Akuisisi Saham BBCA, Ini Penjelasan Resmi BCA

JAKARTA, danantaranews.id – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memberikan respon tegas terkait kabar angin yang tengah membual di media sosial. Manajemen BCA...

Harga Pakan Bikin Resah Peternak, Kementan dan Satgas Pangan Polri Pantau Stok Jagung Nasional

JAKARTA, danantaranews. IdPemerintah bergerak cepat mengantisipasi lonjakan harga pakan ternak yang mengancam keberlanjutan usaha peternak rakyat, khususnya peternak ayam petelur. Kementerian Pertanian (Kementan)...

Related Articles

Jangan Sampai Skandal Cibinong Menenggelamkan Kasus-kasus Lebih Besar

Oleh  Edy Mulyadi, Wartawan Senior Temuan Ombudsman di lingkungan asimilasi Lapas Kelas...

Subsidi BBM Sudah Saatnya Pemerintah Harus Berani Berbenah

Oleh: Sofyano Zakaria Pengamat Kebijakan Energi     Wacana mengoreksi harga BBM...

Menimbang Ulang Subsidi Transportasi: Saatnya Menggeser Fokus dari Motor ke Bus Listrik

Oleh Djoko Setijowarno Akademisi Prodi Teknik Sipil Unika Soegijapranata dan Dewan Penasihat...

Antrian BBM Subsidi di Daerah: Ada Apa di Balik Antrean dan Siapa yang Dirugikan?

Oleh: Sofyano Zakaria Pengamat Kebijakan Energi Direktur Pusat Studi Kebijakan Publik (PUSKEPI)...