Jakarta, danantaranews.id – Perkembangan teknologi informasi membawa perubahan besar sekaligus tantangan baru bagi kedaulatan data dan tata kelola digital di Indonesia. Di tengah dinamika yang serba cepat, masyarakat menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks dan sulit terprediksi. Senior Advisor PT Telkom Indonesia Tbk, Khairi Fuady, menekankan pentingnya kesiapsiagaan seluruh elemen bangsa dalam merespons lanskap digital yang terus berubah.
Dua Kata Kunci Era Digital: Uncertain dan Unpredictable
Khairi Fuady menyampaikan pandangannya dalam diskusi publik bertajuk “Digital Governance sebagai Fondasi Pembangunan Berkelanjutan: Memperkuat Kedaulatan Data dan Keamanan Ruang Digital Indonesia”. Ia menggarisbawahi bahwa situasi ruang digital saat ini ditandai oleh dua hal utama.
“Kata kuncinya hari ini itu dua, yang pertama uncertain, yang kedua unpredictable. Segala sesuatunya tidak pasti,” ujar Khairi Fuady.
Menurutnya, pola kehidupan masyarakat dan lanskap pekerjaan telah bergeser secara drastis dibandingkan dekade sebelumnya. Munculnya profesi baru seperti big data expert, social media analyst, hingga pembuat konten digital membuktikan alur dinamika yang tidak lagi bisa dibaca dengan kacamata konvensional.
Ancaman Kejahatan Siber Menyasar Semua Lapisan

Seiring pesatnya transformasi teknologi, ancaman kejahatan digital seperti scamming, phishing, dan penyalahgunaan data pribadi kian marak. Khairi membagikan pengalaman pribadinya yang hampir menjadi korban modus penipuan berbasis kode OTP (One-Time Password). Modus tersebut mengatasnamakan lembaga perbankan untuk memanipulasi korban.
Kejadian tersebut menunjukkan bahwa potensi ancaman kejahatan siber dapat mengintai siapa saja, bahkan praktisi yang bekerja di industri telekomunikasi sekalipun. Oleh karena itu, penguatan digital governance atau tata kelola digital menjadi krusial untuk melindungi data masyarakat serta menjaga kedaulatan digital nasional.
Adaptasi dan Inovasi Menjadi Kunci Survival
Untuk menghadapi ketidakpastian dan kerentanan di ruang digital, Khairi mengajak generasi muda dan mahasiswa untuk terus meningkatkan kemampuan beradaptasi. Keterampilan menangkap peluang baru serta pemahaman terhadap mekanisme algoritma media sosial menjadi modal penting dalam menghadapi perubahan zaman.
“Maka gak ada pilihan lain. Jawabannya adalah adaptasi. Sahabat-sahabat, teman-teman harus punya kemampuan adaptasi. Kalau beradaptasi saya kira survive. Kalau kita punya inovasi saya kira kita bisa bertahan,” tegasnya.
Kolaborasi Menghadapi Era Perubahan
Ia menambahkan bahwa era saat ini merupakan era kolaborasi. Perubahan cara kerja dan pergeseran perilaku digital menuntut masyarakat untuk menyesuaikan pola pikir serta cara bergerak. Dengan tata kelola yang kuat, keamanan ruang digital yang andal, serta pemuda yang adaptif, Indonesia dapat memperkokoh kedaulatan datanya menuju pembangunan yang berkelanjutan. (*)
Leave a comment