JAKARTA, danantaranews.id – Di tengah gempuran informasi dan perubahan perilaku masyarakat modern, mendapatkan perhatian publik (attention) saja tidak lagi cukup bagi lembaga filantropi. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana mengubah perhatian tersebut menjadi kepercayaan yang berujung pada tindakan nyata.
Menjawab tantangan ini, Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) RI membeberkan tiga langkah strategis komunikasi dalam penghimpunan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS).
Kepala Divisi Pengumpulan Digital BAZNAS RI, Fahrudin, menegaskan bahwa kepercayaan publik (public trust) adalah nyawa dari perjalanan seorang donatur. Dari sekadar mengenal lembaga, mempertimbangkan, menaruh percaya, hingga akhirnya berdonasi secara berulang dan merekomendasikannya kepada orang lain.
Lantas, bagaimana cara membangun kepercayaan tersebut di ekosistem digital saat ini? Berikut tiga langkah kuncinya:
1. Integrasikan Data (Connect the Data)
Langkah pertama adalah meruntuhkan sekat antara tim komunikasi dan tim fundraising. Seluruh data—mulai dari media, aktivitas digital, hingga profil donatur—harus terintegrasi dengan baik.
“Komunikasi dan fundraising perlu dipandang sebagai satu perjalanan yang saling terhubung, bukan dua fungsi yang berjalan sendiri-sendiri,” ujar Fahrudin.
2. Ukur Kepercayaan, Bukan Sekadar Angka (Measure Trust)
Keberhasilan komunikasi tak lagi bisa diukur hanya dari angka reach, engagement, atau banyaknya pemberitaan media. BAZNAS mendorong pengukuran yang lebih substantif melalui kerangka measure trust.
Indikator yang dinilai mencakup sentimen publik, kredibilitas pesan, tingkat keyakinan donatur, angka konversi, retensi, hingga dorongan untuk berdonasi kembali (repeat donation).
3. Ubah Data Menjadi Keputusan Konkret (Turn Data into Decision)
Data yang menumpuk tidak akan berguna jika berhenti dalam bentuk laporan. Setiap angka dan grafik harus mampu menjawab dua pertanyaan krusial: “So what?” (lalu apa dampaknya?) dan “What’s next?” (apa langkah selanjutnya?).
Jawaban inilah yang menjadi kompas dalam menentukan pesan yang tepat, pilihan saluran media, segmentasi audiens, waktu eksekusi, hingga alokasi anggaran yang efisien.
Dari Sekadar Dilihat Menjadi Dipercaya
Pendekatan ini sejalan dengan kerangka pengukuran yang dikembangkan BAZNAS, yang memetakan alur keputusan donatur mulai dari attention, trust, confidence, action, hingga pembentukan long-term relationship.
Lewat metode ini, efektivitas komunikasi dapat terhubung langsung dengan indikator pengumpulan dana, seperti akuisisi donatur, retensi, dan lifetime value.
Artinya, indikator seperti tingginya traffic atau liputan media harus selalu ditindaklanjuti dengan pertanyaan substantif: Apakah traffic tersebut terkonversi menjadi donasi? Apakah donatur kembali menyalurkan ZIS-nya? Dan apakah rasa percaya mereka semakin menguat?
“Yang kita ukur bukan hanya apakah masyarakat melihat kita, tetapi apakah komunikasi membantu masyarakat percaya kepada kita,” tegas Fahrudin.
Dengan menggabungkan bukti kuantitatif dan kualitatif, BAZNAS mengajak seluruh lembaga filantropi untuk bergeser dari sekadar berburu eksposur menuju penyajian bukti kepercayaan (evidence of trust) yang berdampak nyata bagi keberlanjutan penghimpunan ZIS.
Leave a comment