Jakarta, danantaranews.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada akhir perdagangan Selasa (22/4/2025). Mata uang Garuda ditutup di posisi Rp16.859 per dolar AS, melemah 53 poin atau 0,32% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp16.806 per dolar AS.
Pemicu: Ancaman terhadap Independensi The Fed
Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai koreksi rupiah dipicu kekhawatiran pasar atas kemungkinan campur tangan politik di Federal Reserve. Presiden Donald Trump dikabarkan terus mencari celah untuk mengganti Ketua The Fed Jerome Powell jika bank sentral tidak segera memangkas suku bunga.
“Isu pemecatan Powell kembali muncul setelah penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengonfirmasi bahwa opsi tersebut sedang dikaji,” jelas Ibrahim dalam riset sore ini.
Trump sehari sebelumnya kembali menekan The Fed agar agresif menurunkan suku bunga, memperingatkan ekonomi AS bisa melambat tanpa stimulus moneter tambahan. Padahal, Powell menegaskan belum ada alasan kuat memangkas bunga di tengah risiko inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.
Sentimen Eksternal: Perang Dagang Memanas
Di luar drama The Fed, pasar juga diguncang ketegangan dagang baru antara Washington dan Beijing. Kementerian Perdagangan Tiongkok menuduh AS menggunakan tarif serta sanksi finansial untuk menekan mitra dagang membatasi hubungan ekonomi dengan Tiongkok, dan mengancam akan mengambil langkah balasan.
“Perpaduan isu independensi bank sentral dan perang dagang menciptakan aversi risiko, memicu arus keluar di aset negara berkembang, termasuk Indonesia,” tambah Ibrahim.
Prospek Jangka Pendek
Selama ketidakpastian ini berlanjut, rupiah diperkirakan bergerak di area Rp16.800–16.950 per dolar AS. Pelaku pasar menanti petunjuk lebih jelas dari pertemuan FOMC bulan depan serta perkembangan diplomasi dagang AS–Tiongkok.
Bank Indonesia diharapkan tetap siaga di pasar valas dan obligasi untuk menahan volatilitas berlebih, sembari menjaga koordinasi kebijakan fiskal–moneter agar stabilitas makro tetap terjaga.
Disclaimer: Informasi di atas bersifat analitis dan bukan rekomendasi jual/beli valas.
Leave a comment