Jakarta, Danantaranews.id – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) Malaysia bergerak relatif datar pada perdagangan Jumat (8/5/2026). Pelaku pasar memilih menahan transaksi sambil menunggu rilis data resmi pasokan dan permintaan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) pekan depan.
Kontrak acuan CPO pengiriman Juli di Bursa Malaysia Derivatives Exchange bertahan di level 4.541 ringgit per ton hingga jeda perdagangan siang. Meski stabil pada perdagangan harian, harga sawit masih mencatat tekanan mingguan.
Sepanjang pekan ini, kontrak minyak sawit tercatat turun 1,03%. Jika kondisi tersebut berlanjut hingga akhir perdagangan, maka pasar berpotensi mencetak pelemahan mingguan kedua secara berturut-turut.
Trader Tunggu Data Stok Sawit Malaysia dari MPOB
Direktur Pelindung Bestari, Paramalingam Supramaniam, mengatakan pasar saat ini bergerak dalam fase konsolidasi. Investor dan trader global menunggu arah baru dari laporan bulanan MPOB yang dijadwalkan rilis pada Senin mendatang.
Menurutnya, pasar memperkirakan stok akhir minyak sawit Malaysia berada di kisaran 2,3 juta hingga 2,5 juta metrik ton. Angka tersebut menjadi perhatian utama karena dapat menentukan arah harga CPO dalam jangka pendek.
“Pasar saat ini lebih banyak dalam mode konsolidasi, menunggu rilis data bulanan dari MPOB,” ujar Paramalingam.
Ia menambahkan, setiap pergerakan stok di luar ekspektasi pasar kemungkinan besar akan memicu volatilitas baru pada harga minyak sawit global.
Harga Minyak Mentah dan Minyak Nabati Jadi Penentu
Selain menunggu data fundamental dari Malaysia, pergerakan harga sawit juga dipengaruhi fluktuasi minyak mentah dunia serta pasar minyak nabati lainnya.
Kontrak minyak kedelai aktif di Dalian turun 1,14%, sedangkan kontrak minyak sawit Dalian melemah 0,87%. Sebaliknya, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade justru naik 0,65%.
Komoditas sawit memang bersaing ketat dengan berbagai jenis vegetable oil lain dalam memperebutkan pasar ekspor global. Karena itu, perubahan harga minyak kedelai maupun minyak nabati lain sering ikut memengaruhi sentimen perdagangan CPO.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia melonjak sekitar 1% setelah muncul bentrokan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Konflik tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas geopolitik dan pasokan energi global.
Kenaikan harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel. Kondisi ini ikut membantu menjaga harga CPO agar tidak turun lebih dalam.
Ringgit Melemah, Harga Sawit Lebih Kompetitif
Nilai tukar ringgit Malaysia juga memberi pengaruh terhadap perdagangan minyak sawit. Pada perdagangan Jumat, ringgit melemah 0,31% terhadap dolar Amerika Serikat.
Pelemahan mata uang tersebut membuat harga sawit Malaysia menjadi lebih murah bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing. Situasi ini berpotensi meningkatkan daya tarik ekspor CPO Malaysia di pasar internasional.
Analis Prediksi Harga CPO Bisa Rebound
Analis teknikal Reuters, Wang Tao, memperkirakan harga minyak sawit berpeluang rebound dalam waktu dekat. Menurut dia, pasar saat ini berhasil bertahan di level support 4.482 ringgit per ton.
Jika momentum penguatan berlanjut, harga CPO diperkirakan dapat kembali naik menuju level 4.563 ringgit per metrik ton.
Pelaku pasar kini menanti kombinasi sentimen dari data MPOB, pergerakan minyak mentah, hingga arah nilai tukar ringgit untuk menentukan posisi perdagangan berikutnya. (*)
Leave a comment