Home Ekonomi Kurs Rupiah Melemah ke Rp16.859/US$, Pasar Cemas soal Independensi The Fed
Ekonomi

Kurs Rupiah Melemah ke Rp16.859/US$, Pasar Cemas soal Independensi The Fed

Share
Rupiah menguat ke Rp16.293 per dolar AS usai pidato dovish pejabat The Fed. Pasar menanti keputusan suku bunga pada akhir Juli
Ilustrasi Rupiah (Foto by pexels-robert-lens)
Share

Jakarta, danantaranews.id – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada akhir perdagangan Selasa (22/4/2025). Mata uang Garuda ditutup di posisi Rp16.859 per dolar AS, melemah 53 poin atau 0,32% dibandingkan penutupan sehari sebelumnya di Rp16.806 per dolar AS.

Pemicu: Ancaman terhadap Independensi The Fed

Analis mata uang Ibrahim Assuaibi menilai koreksi rupiah dipicu kekhawatiran pasar atas kemungkinan campur tangan politik di Federal Reserve. Presiden Donald Trump dikabarkan terus mencari celah untuk mengganti Ketua The Fed Jerome Powell jika bank sentral tidak segera memangkas suku bunga.

“Isu pemecatan Powell kembali muncul setelah penasihat ekonomi Gedung Putih Kevin Hassett mengonfirmasi bahwa opsi tersebut sedang dikaji,” jelas Ibrahim dalam riset sore ini.

Trump sehari sebelumnya kembali menekan The Fed agar agresif menurunkan suku bunga, memperingatkan ekonomi AS bisa melambat tanpa stimulus moneter tambahan. Padahal, Powell menegaskan belum ada alasan kuat memangkas bunga di tengah risiko inflasi dan ketidakpastian ekonomi global.

Sentimen Eksternal: Perang Dagang Memanas

Di luar drama The Fed, pasar juga diguncang ketegangan dagang baru antara Washington dan Beijing. Kementerian Perdagangan Tiongkok menuduh AS menggunakan tarif serta sanksi finansial untuk menekan mitra dagang membatasi hubungan ekonomi dengan Tiongkok, dan mengancam akan mengambil langkah balasan.

“Perpaduan isu independensi bank sentral dan perang dagang menciptakan aversi risiko, memicu arus keluar di aset negara berkembang, termasuk Indonesia,” tambah Ibrahim.

Prospek Jangka Pendek

Selama ketidakpastian ini berlanjut, rupiah diperkirakan bergerak di area Rp16.800–16.950 per dolar AS. Pelaku pasar menanti petunjuk lebih jelas dari pertemuan FOMC bulan depan serta perkembangan diplomasi dagang AS–Tiongkok.

Bank Indonesia diharapkan tetap siaga di pasar valas dan obligasi untuk menahan volatilitas berlebih, sembari menjaga koordinasi kebijakan fiskal–moneter agar stabilitas makro tetap terjaga.


Disclaimer: Informasi di atas bersifat analitis dan bukan rekomendasi jual/beli valas.

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Kapal Pesiar Jumbo Mulai Serbu Bali, Pelindo Benoa Siapkan Jurus Baru

Denpasar, danantaranews.id – Pelabuhan Benoa di Kota Denpasar, Bali, bersiap menghadapi musim kedatangan kapal pesiar internasional periode 2026/2027. PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo) Benoa...

BBM Bali Sempat Telat, Pertamina Ubah Pola Suplai

Bali, danantaranews.id – Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus mengubah pola suplai bahan bakar minyak (BBM) untuk menjaga ketersediaan energi masyarakat di Bali. Langkah...

Related Articles

Sertifikasi Halal Gratis untuk UMKM, BPJPH Siapkan 1,35 Juta Kuota Jelang 18 Oktober

JAKARTA, danantaranews.id – Pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) berkesempatan memperoleh...

Operasional Koperasi Desa Merah Putih Dimulai 15 Oktober, Ini Layanan dan Fasilitas Lengkapnya

SUKOHARJO, danantaranews.id – Pemerintah terus mematangkan persiapan operasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih...

Said Iqbal Minta UMR 2027 Naik Hingga 9,5 Persen, Bongkar Mitos Upah Buat Pabrik Bangkrut!

JAKARTA, danantaranews.id – Diskusi mengenai arah pengupahan nasional kembali memanas menjelang penetapan...

PLN Rugi Rp3,92 Triliun, Formula TOP Disorot! Pemerintah Prabowo Diminta Bergerak

Beban usaha PLN tumbuh lebih cepat daripada pendapatan pada semester I 2026....