JAKARTA, danantaranews.id – Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta berencana mengevaluasi tarif LRT rute Kelapa Gading-Manggarai setelah tarif khusus dan tarif flat yang diberlakukan pada masa awal pengoperasian berakhir.
Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung Wibowo mengatakan evaluasi diperlukan untuk mencari besaran tarif yang tetap terjangkau bagi masyarakat, tetapi tidak membuat beban subsidi pemerintah daerah menjadi terlalu besar.
“Kami akan melakukan evaluasi. Bagaimana dan angka berapa yang tepat yang kemudian bisa diterima oleh publik dengan baik, dan juga tentunya bagi LRT agar subsidinya tidak terlalu berlebihan dari Pemerintah DKI Jakarta,” ujar Pramono di Balai Kota Jakarta, Kamis.
Menurut Pramono, penentuan tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai perlu mempertimbangkan dua kepentingan sekaligus. Di satu sisi, harga tiket harus tetap menarik agar masyarakat mau menggunakan transportasi publik. Di sisi lain, besaran subsidi yang ditanggung APBD DKI Jakarta juga harus dijaga agar tetap proporsional.
Tarif Khusus
Sebelum resmi beroperasi, Pemprov DKI Jakarta menyiapkan tarif khusus sebesar Rp8 untuk perjalanan LRT Kelapa Gading-Manggarai.
Tarif tersebut diberikan sebagai bagian dari program sosialisasi kepada masyarakat. Dengan harga yang sangat murah, pemerintah berharap warga dapat mencoba sekaligus mengenal rute baru LRT yang menghubungkan kawasan Kelapa Gading hingga Manggarai.
Pramono mengatakan penerapan tarif khusus tersebut juga berkaitan dengan persiapan penyelesaian sejumlah hal yang masih diperlukan sebelum layanan beroperasi secara penuh.
Setelah peresmian, tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai akan diberlakukan sebesar Rp5.000 secara flat hingga Oktober 2026.
Artinya, masyarakat dapat menggunakan rute tersebut dengan tarif yang sama selama periode tersebut tanpa membedakan jarak perjalanan.
Dihitung Ulang Setelah Oktober 2026
Pemprov DKI Jakarta tidak akan mempertahankan tarif Rp5.000 selamanya.
Pramono mengatakan pemerintah akan melakukan perhitungan ulang setelah Oktober 2026 untuk menentukan tarif yang paling sesuai bagi layanan LRT Kelapa Gading-Manggarai.
Evaluasi tersebut akan menjadi penting karena jumlah pengguna menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi efisiensi operasional sekaligus kebutuhan subsidi.
Pemerintah berharap tarif yang murah pada masa awal pengoperasian mampu menarik banyak penumpang baru.
Pramono bahkan memperkirakan jumlah pelanggan baru LRT dapat menembus lebih dari 40.000 orang per hari setelah masyarakat mendapatkan kesempatan mencoba layanan tersebut dengan tarif khusus.
“Mudah-mudahan, dalam sosialisasi dengan tarif itu menjadi Rp8, saya meyakini pasti setiap hari mungkin sudah bisa di atas 40.000 pelanggan yang baru, yang selama ini belum pernah menggunakan LRT lintasan dari Kelapa Gading sampai Manggarai,” katanya.
Peresmian Sempat Ditunda
Pengoperasian LRT Kelapa Gading-Manggarai sebelumnya dijadwalkan diresmikan pada 26 Agustus 2026.
Namun, agenda tersebut batal dilaksanakan. Pemprov DKI kemudian memutuskan untuk menjadwalkan kembali peresmian setelah melakukan evaluasi terhadap kesiapan kegiatan dan layanan.
Meskipun pembangunan jalur dan rel telah disebut rampung, masih terdapat sejumlah fasilitas yang perlu disempurnakan sebelum layanan LRT tersebut benar-benar dibuka untuk masyarakat.
Penundaan dilakukan agar seluruh aspek pelayanan dapat dipastikan siap sehingga masyarakat nantinya dapat menggunakan moda transportasi baru tersebut dengan aman dan nyaman.
Pilihan Transportasi Publik
Kehadiran LRT Kelapa Gading-Manggarai diharapkan memperkuat konektivitas transportasi publik di Jakarta.
Dengan terhubungnya kawasan Kelapa Gading dan Manggarai, masyarakat memiliki alternatif perjalanan selain menggunakan kendaraan pribadi maupun moda transportasi jalan raya.
Namun, keberhasilan layanan tersebut tidak hanya ditentukan oleh selesainya pembangunan infrastruktur. Jumlah penumpang, kualitas pelayanan, ketepatan waktu, kenyamanan, serta tarif yang terjangkau juga akan menjadi faktor penting.
Karena itu, kebijakan tarif LRT Kelapa Gading-Manggarai menjadi salah satu perhatian utama Pemprov DKI Jakarta.
Tarif Rp8 pada masa sosialisasi diharapkan mampu memperkenalkan layanan tersebut kepada masyarakat secara luas. Setelah itu, tarif Rp5.000 hingga Oktober 2026 akan menjadi tahap awal untuk melihat respons dan pola penggunaan masyarakat.
Selanjutnya, evaluasi tarif akan dilakukan dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat sekaligus keberlanjutan pembiayaan layanan.
Dengan demikian, Pemprov DKI Jakarta ingin memastikan LRT Kelapa Gading-Manggarai bukan hanya menjadi proyek infrastruktur baru, tetapi juga menjadi moda transportasi publik yang benar-benar digunakan masyarakat secara luas dan dapat beroperasi secara berkelanjutan.
Leave a comment