Home Pasar Pasar RI Mulai Bernapas, Rupiah Menguat dan Yield Obligasi Turun
Pasar

Pasar RI Mulai Bernapas, Rupiah Menguat dan Yield Obligasi Turun

Share
IHSG naik 0,49 persen ke 7.141. Saham TOBA melesat 18%. Asing borong BMRI dan BBCA, transaksi pasar capai Rp14,8 triliun
Ilustrasi pergerakan IHSG (Dok Antara)
Share

Poin Penting:

  1. Tekanan pada aset Indonesia mulai mereda
    Harga minyak turun lebih dari 7% menjadi di bawah US$88 per barel, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia turun ke sekitar 7%, sementara rupiah menguat di bawah Rp17.700.
  2. Sentimen global membaik, tetapi risiko belum hilang
    Kemajuan diplomatik Iran-Oman di sekitar Selat Hormuz dan penurunan imbal hasil US Treasury membantu memperbaiki sentimen terhadap aset emerging market. Namun, ketegangan di Selat Hormuz, kondisi fiskal AS, dan risiko geopolitik masih perlu diwaspadai.
  3. Investor masih menunggu sejumlah katalis penting
    Pasar mencermati pidato Jackson Hole, perkembangan pembicaraan Iran-Oman, konfirmasi Destry Damayanti sebagai Gubernur BI, rebalancing MSCI, serta data inflasi Indonesia Agustus yang akan keluar awal pekan depan.

Tekanan Pasar Mulai Surut

Jakarta, danantaranews.id – Sejumlah tekanan yang membebani aset Indonesia mulai mereda pada pekan terakhir Agustus 2026. Harga minyak turun tajam, imbal hasil US Treasury melemah, sementara rupiah kembali menguat hingga berada di bawah level Rp17.700.

Perubahan tersebut ikut memberikan ruang bagi pasar obligasi Indonesia untuk bernapas. Imbal hasil surat utang pemerintah tenor 10 tahun turun ke sekitar 7%, menjadi salah satu level terendah dalam beberapa bulan.

PT Ashmore Asset Management Indonesia menilai perkembangan tersebut menjadi sinyal positif bagi aset emerging market. Namun, investor tetap perlu berhati-hati karena sejumlah risiko global dan domestik masih membayangi pasar.

Dalam Weekly Commentary, Ashmore menyebut beberapa tekanan yang telah membebani aset Indonesia sejak Maret mulai mereda secara bersamaan. Kondisi itu memberi dukungan bagi rupiah dan pasar obligasi, meski belum sepenuhnya mengubah lanskap risiko.

IHSG Justru Bergerak Datar

Berbeda dengan penguatan sejumlah aset, pasar saham Indonesia belum menunjukkan lonjakan berarti. IHSG mengakhiri perdagangan Jumat, 28 Agustus 2026, dengan turun 0,06% ke posisi 6.518.

Angka tersebut juga lebih rendah dibandingkan posisi penutupan akhir pekan sebelumnya yang berada di level 6.526. Pada periode yang sama, investor asing mencatatkan arus keluar dari ekuitas Indonesia senilai US$43 juta.

Tekanan paling besar datang dari sektor teknologi serta transportasi dan logistik. Kedua sektor tersebut masing-masing terkoreksi 1,95% dan 1,89% sepanjang pekan.

Sementara itu, sektor basic materials dan consumer cyclicals justru mencatat kinerja positif. Masing-masing sektor menguat 1,76% dan 1,11%.

Pergerakan IHSG yang relatif datar juga berlangsung ketika pasar menghadapi agenda rebalancing MSCI. Perubahan tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat investor masih menahan diri.

Harga Minyak Anjlok, Rupiah Dapat Angin Segar

Salah satu perubahan paling mencolok terjadi di pasar komoditas. Harga minyak mentah turun 5,19% sepanjang pekan, sementara harga CPO terkoreksi 3,57%.

Penurunan harga minyak berkaitan dengan perkembangan diplomatik di sekitar Selat Hormuz. Situasi tersebut membuat kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi sedikit berkurang.

Harga Brent bahkan merosot lebih dari 7% sepanjang pekan dan berada di bawah US$88 per barel. Pergerakan itu memberi dampak positif bagi negara seperti Indonesia karena tekanan biaya energi ikut mereda.

Rupiah kemudian menguat hingga menembus level Rp17.700. Bersamaan dengan itu, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia turun ke sekitar 7%.

Ashmore melihat kombinasi harga minyak yang lebih rendah, rupiah yang lebih kuat, serta penurunan yield AS sebagai faktor pendukung aset domestik. Kondisi tersebut juga membantu memperbaiki sentimen terhadap pasar emerging market.

Yield Obligasi RI Turun dari 7,3%

Pasar surat utang Indonesia mencatat perbaikan yang cukup signifikan. Yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun sebelumnya berada di atas 7,3% pada akhir Juli, lalu turun ke sekitar 7%.

Penurunan tersebut mendapat dukungan dari beberapa faktor sekaligus. Selain harga minyak yang lebih murah dan rupiah yang menguat, yield US Treasury juga mulai turun.

Kejelasan mengenai kepemimpinan bank sentral turut menjadi faktor yang diperhatikan investor. Parlemen menggelar uji kelayakan terhadap Destry Damayanti sebagai satu-satunya calon Gubernur Bank Indonesia.

Investor mencermati pandangan Destry mengenai inflasi dan stabilitas nilai tukar. Pasar juga menunggu strateginya untuk menarik kembali modal asing ke aset Indonesia.

Ashmore menilai konfirmasi gubernur bank sentral akan mengakhiri ketidakpastian yang mengikuti pergantian kepemimpinan sebelumnya. Transisi tersebut dimulai setelah gubernur sebelumnya meninggalkan jabatannya pada bulan sebelumnya.

AS Jadi Penentu Arah Pasar Global

Pergerakan aset Indonesia tidak terlepas dari kondisi pasar Amerika Serikat. Ashmore mencatat tekanan pada pasar obligasi pemerintah AS mulai berkurang setelah yield US Treasury 30 tahun sempat menembus lebih dari 5,3% pada pertengahan Agustus.

Level tersebut mendekati posisi tertinggi dalam 19 tahun. Pada periode yang sama, utang nasional Amerika Serikat telah melewati US$40 triliun.

Departemen Keuangan AS juga bergerak untuk setidaknya menggandakan pembelian kembali utang jangka panjang. Setelah itu, yield Treasury 30 tahun turun menuju sekitar 5,20%.

Perubahan tersebut penting bagi pasar global karena yield jangka panjang AS menjadi acuan biaya pinjaman internasional. Ketika yield AS turun, tekanan terhadap mata uang dan obligasi emerging market cenderung ikut berkurang.

Pasar juga menunggu pidato Ketua The Fed Kevin Warsh di simposium Jackson Hole. Investor mencari petunjuk mengenai pandangannya terhadap inflasi dan faktor yang dapat mendorong Federal Reserve mengambil kebijakan.

Ekonomi AS Mulai Mendingin

Dari sisi ekonomi, estimasi kedua pertumbuhan PDB AS kuartal II menunjukkan pertumbuhan 1,5%. Angka tersebut sesuai ekspektasi, tetapi melambat cukup jelas dibandingkan pertumbuhan 2,1% pada kuartal sebelumnya.

Sementara itu, indeks harga core PCE yang menjadi salah satu ukuran inflasi pilihan Federal Reserve naik 0,2% pada Juli. Angka tersebut sesuai ekspektasi dan sedikit lebih cepat dibandingkan bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga mendasar masih bertahan. Namun, pendapatan pribadi tumbuh 0,4%, atau dua kali lipat dari tingkat yang diperkirakan.

Menurut Ashmore, kondisi itu menunjukkan rumah tangga AS masih memiliki kemampuan belanja meski perekonomian mulai mendingin. Kombinasi pertumbuhan ekonomi dan inflasi tersebut membuat The Fed memiliki sedikit alasan untuk bergerak cepat ke salah satu arah kebijakan.

Eropa Mulai Tunjukkan Tanda Stabil

Perkembangan positif juga datang dari Jerman. Indeks Ifo Business Climate meningkat menjadi 88,8 dari 86,7 dan mencatat perbaikan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.

Kepercayaan konsumen GfK juga membaik menjadi -26,6 dari -29,4. Meski levelnya masih menunjukkan kepercayaan yang lemah, arah pergerakan tersebut memberikan sinyal bahwa ekonomi Jerman mulai stabil.

Perbaikan ekonomi Jerman berpotensi menjadi kabar baik bagi pertumbuhan kawasan Eropa. Kondisi tersebut juga dapat memberikan dampak positif bagi eksportir Asia.

Asia Hadapi Tekanan Inflasi

Di Asia, Bank Sentral Korea Selatan menaikkan suku bunga kebijakan menjadi 3% dari sebelumnya 2,75%. Kebijakan tersebut sesuai ekspektasi dan menjadi salah satu langkah pengetatan di Asia pada tahun ini.

Korea Selatan mengambil langkah tersebut di tengah tekanan mata uang dan inflasi yang tinggi. Di sisi lain, kepercayaan konsumen Korea Selatan turun menjadi 104,5, meski masih berada di atas batas yang memisahkan optimisme dan pesimisme.

Indonesia juga menghadapi dinamika likuiditas domestik. Jumlah uang beredar luas tumbuh 8,3% secara tahunan pada Juli, melambat dari 8,7% sebelumnya.

Pada saat yang sama, pertumbuhan kredit perbankan meningkat menjadi 13,58%. Pertumbuhan kredit yang lebih cepat daripada jumlah uang beredar menunjukkan kondisi likuiditas yang sedikit lebih ketat dalam sistem perbankan.

Ashmore mengaitkan kondisi tersebut dengan penempatan dana pemerintah yang baru dilakukan pada bank-bank BUMN. Dinamika likuiditas ini menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan investor di pasar domestik.

Risiko Timur Tengah Belum Hilang

Meski ketegangan di sekitar Selat Hormuz mulai mereda, Ashmore mengingatkan bahwa situasinya belum sepenuhnya aman. Iran masih menegaskan bahwa jalur tersebut belum akan terbuka sepenuhnya hingga perang berakhir, blokade laut dicabut, dan persoalan di Yaman terselesaikan.

Militer Iran menyatakan telah mencapai kesepakatan pembagian pendapatan dengan Oman terkait perairan masing-masing di Selat Hormuz. Kedua pihak juga melanjutkan pembicaraan teknis mengenai koridor maritim sementara.

Koridor tersebut mencakup pengelolaan lalu lintas, pertukaran informasi, serta pengaturan keamanan. Perkembangan itu membantu menurunkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global.

Serangan Amerika juga dihentikan sementara. Selain itu, paket sanksi terbaru Washington tidak seagresif kekhawatiran sebelumnya karena tidak menyasar mitra dagang Iran.

Namun, risiko geopolitik belum berakhir. Perhatian pasar mulai bergeser ke Eropa Timur setelah muncul laporan mengenai rencana Rusia meningkatkan serangan di Ukraina.

Investor Masih Harus Waspada

Ashmore menilai pekan terakhir Agustus menjadi periode ketika beberapa tekanan terhadap aset Indonesia mereda secara bersamaan. Meski demikian, perusahaan investasi tersebut belum melihat alasan untuk menghilangkan sikap hati-hati.

Selat Hormuz belum sepenuhnya terbuka, sementara posisi fiskal Amerika Serikat masih menjadi sumber kekhawatiran di pasar obligasi. Dampak perubahan MSCI juga belum sepenuhnya terasa.

Untuk saham Indonesia, harga minyak yang lebih rendah dan yield obligasi yang turun memberikan dukungan. Saham Asia secara umum juga menguat setelah ketegangan Timur Tengah mereda dan yield AS bergerak turun.

Di pasar global EM Sukuk, membaiknya sentimen risiko regional berpotensi membantu menghidupkan kembali penerbitan setelah periode yang lambat. Namun, harga minyak yang lebih rendah juga dapat mengurangi pendapatan yang menopang penerbit di kawasan Teluk.

Ashmore mempertahankan strategi dengan memilih perusahaan yang likuid, transparan, dan memiliki fundamental kuat. Untuk obligasi, fokus tetap tertuju pada instrumen berkualitas yang menawarkan pendapatan relatif dapat diandalkan dan tersebar di berbagai wilayah serta kelas aset.

Investor kini menghadapi sejumlah agenda penting pada awal September. Respons pasar terhadap pidato Jackson Hole, kelanjutan pembicaraan Iran-Oman, konfirmasi gubernur Bank Indonesia, penerapan perubahan MSCI, serta data inflasi Indonesia Agustus menjadi perhatian utama.

Dengan berbagai katalis tersebut, pergerakan aset Indonesia berpotensi kembali berubah cepat. Meredanya tekanan saat ini memberi ruang bernapas, tetapi belum cukup untuk membuat investor mengabaikan risiko yang masih tersisa. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Menyikapi Dugaan Penistaan Agama via Miras…

Oleh: Tulus Abadi, pegiat perlindungan konsumen, Ketua Forum Konsumen Berdaya Indonesia (FKBI).   Aksi mempromosikan produk miras dengan salah satu surat Qur’an, memang...

Sofyano Zakaria Desak Danantara Bangun Depo Peti Kemas, Begini Alasannya!

Jakarta, danantaranews.id – Persoalan tarif depo peti kemas kembali menjadi sorotan karena dampaknya dinilai jauh lebih besar daripada sekadar mahal atau murahnya layanan...

Related Articles

Harga TBS Sawit Naik Lagi, Petani Mulai Bernapas Lega

PEKANBARU, danantaranews.id – Harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit petani swadaya...

Babak Baru Ekspor SDA Indonesia, Danantara Fokus Awasi Batu Bara, CPO dan Ferroaloy

JAKARTA, danantaranews.id – Chief Executive Officer (CEO) Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan...

Sidak Pasar Sukoharjo, Mendag: Harga Telur Anjlok, Daging Ayam Aman! Cek Daftar Lengkap Sembako Terbaru

SUKOHARJO, danantaranews.id – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso melakukan peninjauan langsung terkait...

Update Resmi! Daftar Harga BBM Terbaru SPBU Pertamina, Shell, BP, dan Vivo

JAKARTA, danantaranews.id – Sejumlah operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di...