Jakarta, danantaranews.id – Perkembangan teknologi komputasi kuantum bergerak sangat pesat dan membawa konsekuensi baru bagi peta keamanan siber global. Membentengi infrastruktur digital nasional dari potensi ancaman di masa depan, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menggelar Workshop Post-Quantum Cryptography (PQC) di Malang, Jawa Timur, pada awal Juli 2026.
Forum kolaborasi nasional ini menjembatani pemerintah, industri, akademisi, lembaga riset, hingga sektor strategis nasional. Langkah antisipatif ini krusial untuk memperkuat kesiapan Indonesia menghadapi era baru dalam proteksi data digital.
Ancaman Komputer Kuantum terhadap Sistem Keamanan Siber
Komputer kuantum memang belum merusak sistem kriptografi yang beroperasi saat ini. Namun, di masa depan, teknologi komputasi super cepat ini berpotensi mengikis tingkat keamanan algoritma kriptografi kunci publik seperti RSA dan Elliptic Curve Cryptography (ECC).
Padahal, kedua algoritma tersebut menjadi fondasi utama berbagai layanan digital penting, mulai dari identitas digital, sertifikat elektronik, hingga transaksi keuangan dan komunikasi rahasia. Oleh karena itu, migrasi menuju Post-Quantum Cryptography (PQC) menjadi strategi mutlak demi menjaga daya tahan infrastruktur digital dalam jangka panjang.
Sinergi Regulator dan Pemangku Kepentingan Nasional
sejumlah pejabat tinggi dan pakar dari berbagai instansi hadir memaparkan strategi mitigasi risiko. Di antaranya Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah, Direktur Kebijakan Teknologi Keamanan Siber dan Sandi BSSN Giyanto Awan Sularso, Managing Director Strategic Technology Initiatives BPI Danantara Ricardo Irwan Rei, serta Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom Seno Soemadji.
Selain jajaran regulator, akademisi dan praktisi dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Telkom University, Universitas Pertahanan RI, Universitas Brawijaya, IBM, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Peruri, dan BSSN turut membagikan hasil riset terbaru serta uji coba implementasi PQC.
Edwin Hidayat Abdullah menekankan pentingnya menyelaraskan riset akademik dengan regulasi industri. Menurutnya, tantangan utama saat ini terletak pada kemampuan menerjemahkan konsep akademik PQC menjadi kebijakan, standar baku, dan implementasi teknis yang siap adopsi oleh industri secara luas.
Dari sisi pertahanan siber, BSSN telah menyiapkan kerangka migrasi PQC yang terstruktur. Giyanto Awan Sularso menjelaskan bahwa BSSN memulai langkah ini dari inventarisasi aset kriptografi, penilaian risiko, penyusunan prioritas, hingga pelaksanaan dan pemantauan berkala pada kementerian, lembaga, BUMN, dan sektor vital nasional.
Sementara itu, Ricardo Irwan Rei menegaskan bahwa keamanan digital melekat erat dengan perlindungan aset strategis negara. Ia mendorong penguatan kapabilitas SDM serta kolaborasi lintas sektor agar proses transformasi menuju era quantum-safe berjalan terarah dan berkesinambungan.
Komitmen Telkom Mengorkestrasi Keamanan Digital Nasional
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, menegaskan bahwa percepatan transformasi digital harus berjalan seiring dengan penguatan keamanan siber. Semakin tinggi tingkat digitalisasi suatu negara, semakin besar pula kebutuhan akan sistem proteksi yang mampu mengantisipasi ancaman di masa depan.
“Post-Quantum Cryptography bukan sekadar isu teknologi, tetapi bagian dari kesiapan nasional menjaga kepercayaan terhadap ekosistem digital Indonesia. Karena itu, Telkom menyelenggarakan workshop ini untuk membangun kolaborasi lintas ekosistem agar pemerintah, BUMN, industri, akademisi, dan seluruh pemangku kepentingan dapat mulai menyiapkan langkah bersama sejak sekarang,” ujar Seno.
Seno menambahkan bahwa Indonesia tidak bisa menghadapi ancaman era kuantum secara parsial. Seluruh pihak harus membangun sinergi yang kokoh dalam penetapan standar, pengembangan talenta siber, penguatan riset, hingga eksekusi di lapangan agar Indonesia mandiri menjaga kedaulatan data nasional.
Uji Coba Teknologi dan Rekomendasi Strategis
Selama workshop berlangsung, para peserta menyaksikan berbagai riset dan simulasi penerapannya. Diskusi menghadirkan inovasi konkret seperti pengembangan Quantum-Safe QRIS, simulasi komputasi kuantum, hingga penerapan hybrid cryptography untuk identitas digital dan komunikasi aman.
Forum ini juga menghasilkan beberapa rekomendasi penting untuk pemerintah dan pelaku industri:
1. Penyusunan Roadmap PQC Nasional
Merumuskan peta jalan transisi kriptografi pasca-kuantum yang terintegrasi secara nasional.
2. Identifikasi Sektor Prioritas
Menentukan use case utama untuk penerapan awal, seperti sektor keuangan, infrastruktur komunikasi, identitas digital, layanan cloud, hingga Public Key Infrastructure (PKI) dan Hardware Security Module (HSM).
3. Pengembangan Pilot Project dan Talenta
Mendorong proyek percontohan di sektor pelayanan publik serta memperkuat riset dan pelatihan SDM di bidang keamanan siber kuantum.
Melalui inisiatif ini, Telkom terus mengorkestrasi kolaborasi lintas sektor demi menciptakan ekosistem digital Indonesia yang tangguh, terpercaya, dan siap menghadapi tantangan teknologi masa depan. (*)
Leave a comment