Surat Utang Korporasi Capai Rp46,7 Triliun di Awal 2025, Sektor Pulp and Paper Pimpin Penerbitan
Jakarta, Danantaranews.id – Aktivitas penerbitan surat utang korporasi pada triwulan pertama tahun 2025 menunjukkan geliat yang signifikan. Berdasarkan data dari PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), total penerbitan sepanjang Januari hingga Maret 2025 telah mencapai Rp46,7 triliun.
Dari total tersebut, mayoritas berupa obligasi korporasi dan sukuk senilai Rp46,4 triliun. Angka ini melonjak tajam dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp25,1 triliun.
Suhindarto, Kepala Divisi Riset Ekonomi Pefindo, dalam konferensi pers virtual, menyebut bahwa peningkatan ini menandai geliat yang lebih positif pada awal tahun. “All in all, sebenarnya kondisi pasar surat utang korporasi di triwulan pertama tahun ini memang relatif lebih semarak dibandingkan kuartal pertama 2024,” ungkapnya.
Namun, tidak semua instrumen mengalami tren positif. Medium Term Notes (MTN) justru mengalami penurunan menjadi Rp400 miliar, lebih rendah dari Rp700 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Sementara itu, belum ada penerbitan efek utang lain seperti perpetual, Surat Berharga Komersial (SBK), maupun sekuritisasi, yang pada tahun sebelumnya sempat menyumbang Rp500 miliar.
Dari sisi sektor, industri pulp and paper mendominasi penerbitan surat utang korporasi dengan total nilai Rp13,2 triliun, terdiri dari obligasi senilai Rp8 triliun dan sukuk Rp5,1 triliun. Diikuti oleh sektor pertambangan (Rp9,2 triliun), multifinance (Rp8,3 triliun), telekomunikasi (Rp5,5 triliun), dan perbankan (Rp5 triliun).
Pefindo juga mencatat bahwa sebagian besar dana yang dihimpun digunakan untuk refinancing (53,6%) dan modal kerja (41,5%). Hal ini menunjukkan tren korporasi yang lebih fokus menjaga likuiditas dan mendukung operasional bisnis.
Lebih lanjut, per 31 Maret 2025, nilai mandat penerbitan yang telah diterima Pefindo dan belum terealisasi mencapai Rp74,46 triliun. Mayoritas berasal dari sektor multifinance dengan estimasi sebesar Rp14,6 triliun, diikuti perbankan Rp12,6 triliun, lembaga keuangan khusus Rp10,5 triliun, perusahaan induk Rp7 triliun, dan sektor pertambangan Rp6,4 triliun.
Instrumen yang mendominasi dalam pipeline penerbitan adalah PUB obligasi senilai Rp52,43 triliun, kemudian obligasi biasa Rp9,5 triliun, PUB sukuk Rp7,94 triliun, sukuk Rp2,28 triliun, MTN Rp2 triliun, dan sekuritisasi Rp300 miliar.
Dari sisi kepemilikan institusi, perusahaan non-BUMN mendominasi dengan 33 dari total 51 penerbit, sementara BUMN dan anak usahanya tercatat sebanyak 18. Meski begitu, dari sisi nilai, total penerbitan antara swasta (Rp37,6 triliun) dan BUMN/BUMD (Rp36,8 triliun) relatif seimbang.
Lonjakan ini menjadi sinyal positif bagi dinamika pasar modal Indonesia, sekaligus mencerminkan kepercayaan pelaku usaha terhadap potensi pemulihan ekonomi nasional di tahun 2025. (*)
Leave a comment