Home Pasar Ancaman Tarif Trump Bikin Dolar Tertekan, Rupiah Rebound Tipis
Pasar

Ancaman Tarif Trump Bikin Dolar Tertekan, Rupiah Rebound Tipis

Share
Ancaman Tarif Trump Bikin Dolar Tertekan, Rupiah Rebound Tipis
Ilustrasi Rupiah (Istimewa)
Share

Jakarta, danantaranews.id – Rupiah ditutup menguat terbatas terhadap dolar AS pada Selasa sore (8/7/2025), di tengah meningkatnya kekhawatiran atas potensi pecahnya kembali perang dagang global.

Mengutip data Bloomberg, rupiah menguat 34 poin atau 0,21% ke level Rp16.205 per dolar AS pada pukul 15.00 WIB. Sehari sebelumnya, rupiah berada di level Rp16.239 per dolar AS.

Penguatan ini terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS yang tertekan oleh rencana tarif impor baru yang diumumkan Presiden AS Donald Trump. Kebijakan tersebut diprediksi mulai berlaku per 1 Agustus 2025 dan menyasar sejumlah negara termasuk Korea Selatan, Jepang, dan Indonesia.

Kebijakan Trump Tekan Sentimen Pasar

Menurut Ibrahim Assuaibi, pengamat mata uang dan komoditas, sentimen risiko global semakin memburuk menjelang tenggat waktu 9 Juli. Saat itu, AS diperkirakan akan secara resmi memberitahukan mitra dagangnya terkait tarif baru hingga 70% untuk lebih dari 100 negara.

“Ancaman tarif Trump juga memacu kekhawatiran inflasi di AS,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis.

Rencana agresif Trump tersebut diumumkan melalui media sosial dan langsung mengguncang pasar keuangan global. Investor cemas terhadap dampaknya pada harga barang dan arus perdagangan internasional, yang bisa memicu volatilitas dan memperlambat pertumbuhan global.

Dampak Langsung ke Ekonomi Indonesia

Meski pelaksanaan tarif untuk Indonesia mundur sekitar tiga minggu, ketidakpastian tetap membayangi. Indonesia dijadwalkan akan dikenai tarif resiprokal sebesar 32% mulai 1 Agustus.

Pemerintah RI memperkirakan bahwa kebijakan tersebut dapat memangkas pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 0,3% hingga 0,5%, terutama karena tekanan terhadap sektor padat karya seperti tekstil dan alas kaki yang sangat bergantung pada ekspor ke AS.

Ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) massal pun tak bisa dihindari jika kebijakan ini benar-benar diterapkan.

Meski begitu, Ibrahim menyatakan bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap tangguh. Proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2025 memang direvisi turun dari 5,2% menjadi 4,7–5%. Namun, angka tersebut masih jauh lebih baik dibandingkan proyeksi pertumbuhan ekonomi global yang hanya 2,3%. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Model Taktis JNE: Sukses Angkut 500 Ton Donasi Gratis Ongkir, Menjadi Tulang Punggung Bantuan Bencana Sumatera

Transformasi Logistik Menjadi Aksi Kemanusiaan: JNE Buktikan Kapasitas Distribusi Nasional Jakarta, danantaranews.id – Respons cepat dan terstruktur ditunjukkan oleh perusahaan logistik terdepan, JNE, dalam...

DPR RI Kirim 15 Ton Logistik ke Banjir Sumatera, Ahmad Sahroni Dampingi Pengiriman

Jakarta, danantaranews.id — Banjir besar yang melanda tiga provinsi di Sumatera membuat anggota DPR RI non aktif Ahmad Sahroni ikut memberikan dukungan kepedulian....

Related Articles

Fitch Kasih Rating ‘BBB’ untuk Obligasi Euro dan Yuan! Sinyal Kuat Investasi atau Harus Waspada?

Jakarta, danantaranews.id – Pasar keuangan Indonesia baru saja mendapat kabar besar yang...

Siaga Satu! Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Mendadak Goyang

Jakarta, danantaranews.id – Pasar energi global sedang berada di ujung tanduk. Harga...

Kurs Rupiah Tertekan Risiko Perang AS-Iran, Cek Posisi Mata Uang Garuda Hari Ini!

Jakarta, danantaranews.id – Pasar keuangan global mendadak tegang. Nilai tukar rupiah terpaksa...

Negosiasi Iran-AS Menemui Jalan Buntu, Harga Minyak Dunia Langsung Melambung Akibat Risiko Konflik

Jakarta, danantaranews.id – Harga minyak dunia menutup perdagangan akhir pekan dengan tren...