JAKARTA, danantaranews.id – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyiapkan langkah intervensi strategis untuk meredam fluktuasi harga daging ayam ras di tingkat konsumen. Bapanas resmi mengalokasikan subsidi biaya angkut distribusi dari wilayah sentra produksi menuju daerah-daerah yang mengalami kelangkaan atau gejolak harga.
Langkah ini diambil menyusul laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat daging ayam ras sebagai salah satu penyumbang inflasi pada September 2026. Lonjakan permintaan tersebut salah satunya dipicu oleh peningkatan kebutuhan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sejumlah wilayah.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, Hermawan, mengonfirmasi bahwa kesiapan anggaran subsidi transportasi ini dipastikan aman untuk memperlancar rantai pasok nasional.
“(Untuk) angkutan distribusi, kita bisa subsidi dari Bapanas, supaya penyerapan produksi dari tempat produsen yang lebih, bisa menyebar ke seluruh daerah,” ujar Hermawan di Jakarta, Minggu (4/10/2026).
Harga Melandai & Stok Surplus
Meski sempat mengalami fluktuasi di beberapa daerah non-produsen, data Bapanas per 2 Oktober 2026 mencatat rata-rata harga daging ayam ras secara nasional berada di level Rp40.961 per kg. Angka ini sebenarnya telah mengalami penurunan tipis sebesar 0,62 persen dibanding pekan sebelumnya (Rp41.218 per kg).
Dari segi ketahanan pangan, pasokan nasional dipastikan sangat aman hingga akhir tahun:
-
Stok Awal 2026: 200 ribu ton
-
Estimasi Produksi Nasional: 4,7 juta ton
-
Kebutuhan Konsumsi Nasional: 3,9 juta ton
-
Proyeksi Surplus Akhir 2026: 1 juta ton
Intervensi Hulu
Tidak hanya mengintervensi hilir melalui subsidi distribusi, pemerintah juga menjaga stabilitas dari sisi hulu demi melindungi peternak unggas mandiri.
Atas instruksi Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, Perum Bulog diperintahkan menambah alokasi Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) jagung pakan sebesar 150 ribu ton.
Penambahan kuota ini melengkapi program SPHP jagung pakan 2026 yang realisasinya telah mencapai 71,36 persen(172,1 ribu ton) per 2 Oktober 2026 dan telah diakses oleh puluhan ribu peternak skala UMKM di 29 provinsi—termasuk wilayah terbanyak di Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Sinergi antara subsidi angkut di hilir dan jaminan pakan terjangkau di hulu ini diharapkan dapat menjaga keseimbangan harga yang adil: peternak tetap untung, dan masyarakat mendapatkan harga daging ayam yang wajar.
Leave a comment