danantaranews.id – Keputusan akhir selalu membawa cerita unik. Hari itu, Jumat, 2 Oktober 2026, Ketua Umum Safari Jumat Tebet-Bekasi menyerahkan penuh mandat penentuan lokasi ibadah Salat Jumat kepada Ketua Tim (Katim) Divisi Bekasi.
Tanpa butuh waktu lama, Dodi M, Katim Divisi Bekasi menyodorkan dua opsi masjid yang strategis: Masjid Darussalam di Kota Wisata Cibubur dan Masjid Al-Barkah di Cileungsi, Kabupaten Bogor.
Pemilihan kedua lokasi tersebut bukan tanpa perhitungan. Selain berdekatan, lokasinya berada tak jauh dari Rumah Makan Saung Apung —tempat yang sudah dijadwalkan beberapa hari sebelumnya untuk agenda makan siang bersama.
Sinyal perjalanan pun dimulai. Melalui WhatsApp Group (WA), Ketum menyampaikan informasi bahwa Divisi Tebet bersiap berangkat pukul 08.30 WIB dan berencana singgah sejenak di base camp Jatiasih.
“Nanti Kami tidak turun dan langsung jalan,” pesan Ketum Safari Jumat, Pak Andy R di grup percakapan.

Menerima kabar tersebut, Divisi Bekasi bersiap antusias. Sesuai kesepakatan bersama, seluruh tim tampil kompak berbalut dress code warna biru dongker dipadu sepatu baru yang didistribusikan pekan lalu.
Tepat pukul 09.09 WIB, lima anggota dari Divisi Tebet mendarat di Base Camp Jatiasih, yang berlokasi di Workshop Arlet Laundry Jatikramat.
Kejutan kecil mewarnai kedatangan mereka. Sesosok anggota yang sudah cukup lama absen tiba-tiba muncul di balik kemudi. Rupanya, ia merupakan anggota Divisi Tebet yang berdomisili di kawasan Mampang. Namanya Mr Bidin.
Canda Tawa di Kedai Kopi
Sebelum beranjak ke masjid tujuan, momen kebersamaan diisi dengan diskusi ringan. Sosok asisten Ketum menjadi pusat perhatian pagi itu. Wajahnya tampak begitu sumringah, fresh, dan penuh ceria.
“Tadi mau pegang kemudi, tapi masih agak lemes,” celetuk asisten Ketum Pak Wid beralasan sambil tersenyum ceria, yang langsung disambut derai tawa seluruh tim.
Raut bahagia itu tentu sangat dimaklumi. Pasalnya, dalam sepekan terakhir, asisten Ketum baru saja meluapkan segala emosi batin dan raganya yang sekian lama terpendam.

Sebuah kalimat tersirat yang mungkin sudah dipahami para pembaca. Namun jika belum, biarlah hal itu menjadi rahasia hangat antaranggota Safari Jumat Tebet-Bekasi.
Sekitar 10 menit berselang, rombongan Divisi Bekasi dan Tebet bergeser menuju tempat ngopi pagi di Kedai Alana, yang berjarak hanya beberapa kilometer dari base camp.
Pesanan seperti Hot and Cold Americano, Coffee Latte, hingga Hot Chocolate tersaji hangat di meja, melengkapi renyahnya croissant dan bollen. Canda tawa soal “luapan emosi” asisten Ketum pun berlanjut riang di meja kopi.
“Bagaimana, sudah lupa belum jalan untuk melepaskan dahaga yang telah terpendam lama?” goda salah satu anggota.
“Dituntun lagi. Biar gak salah,” sahut asisten Ketum tertawa.
“Memangnya lupa?” celetuk anggota lain menimpali.
“Spesifikasi dan modelnya kan berbeda,” jawabnya jenaka yang kembali memecah tawa seisi tim.
Menyapa Sejarah dan Kesejukan Masjid Al-Barkah
Setelah satu jam menikmati hangatnya seduhan kopi dan kebersamaan di Alana, perjalanan ibadah dilanjutkan. Masjid Al-Barkah Cileungsi akhirnya terpilih menjadi tujuan utama Salat Jumat kali ini.
Pukul 11.17 WIB, rombongan tiba di masjid yang berdiri anggun di Kampung Tengah, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tersebut.
Di balik megahnya bangunan saat ini, masjid yang berdiri sejak tahun 1885 di atas tanah wakaf seluas 250 meter persegi ini menyimpan rekam jejak panjang dalam syiar dakwah Sunnah di Indonesia.

Menjawab pertumbuhan jumlah jemaah, Masjid Al-Barkah sempat mengalami perluasan area serta renovasi besar-besaran pada periode 2020-2022. Kini, arsitekturnya memadukan nuansa modern dan kesederhanaan, terdiri dari tiga lantai utama serta dua lantai mezzanine.
Sekilas melangkah ke area luar, ingatan akan terbang melayang ke Masjid Nabawi di Madinah berkat kehadiran payung peneduh raksasa. Bedanya, payung peneduh di Masjid Al-Barkah dipasang permanen dan tidak menggunakan sistem hidrolik.
Sensasi nyaman dan dingin langsung menyambut saat kaki melangkah ke area dalam. Hamparan karpet merah nan lembut serta hembusan udara sejuk seketika melapangkan dada. Meski ruang utama dipadati jemaah Jumat, kekhusyukan ibadah tetap terjaga—baik saat menyimak khutbah maupun kala mendirikan salat.
Dalam risalah Jumatnya, khotib menyampaikan pesan mendalam: umat Islam hendaknya senantiasa bertawakal dalam menghadapi setiap ujian keimanan dan ketakwaan.
Hati harus disandarkan secara total serta memohon pertolongan hanya kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk. Masa-masa sulit dan ujian hidup tak lain adalah sarana penempaan dari Allah untuk meninggikan derajat seorang hamba dan mendekatkan dirinya kepada Sang Pencipta.
Santap Siang dan Candaan Ustadz Adi
Usai menunaikan salat, perjalanan berlanjut ke RM Saung Apung untuk agenda makan siang yang dijamu langsung oleh Bapak Ketua Umum.
Namun, ada kejadian menggelitik di dalam mobil rombongan Divisi Bekasi yang dikemudikan oleh Pak Ustadz. Kendaraan tersebut beberapa kali nyaris salah mengambil jalur jalan.
“Tadz, gimana sih? Kayak yang belum pernah lewat sini aja?” tegur Katim Bekasi penuh keakraban.
Pak Ustadz hanya merespons santai dengan tawa khasnya, “Hik… hik… hik…”

Tingkah Ustadz Betawi asli kelahiran Bekasi bernama Ustadz Adi itu memicu tanda tanya kocak di pikiran anggota tim.
Apakah ia sedang melamunkan sesuatu yang hanya diketahui dirinya sendiri, ataukah sekadar tak fokus karena kondisi lambung yang sudah memberi sinyal lapar? Hanya Pak Ustadz yang tahu jawabannya.
Lebih dari 60 menit rombongan Safari Jumat Tebet-Bekasi menikmati hidangan lezat di RM Saung Apung, sembari kembali menginventarisir daftar masjid yang pernah mereka singgahi.
Usai santap siang, rombongan pun berpisah dengan kenangan hangat, bersiap menyambut petualangan Safari Jumat pada pekan berikutnya.
Salam Jumat dan Tetap Istikomah Beribadah.
Leave a comment