JAKARTA, danantaranews.id – Mobil listrik berbasis baterai (Battery Electric Vehicle/BEV) kini semakin menjamur di jalanan Indonesia.
Selain menawarkan sensasi berkendara yang senyap dan responsif, kendaraan ramah lingkungan ini kerap digaungkan memiliki biaya perawatan berkala yang jauh lebih terjangkau dibandingkan mobil bermesin pembakaran internal (Internal Combustion Engine/ICE).
Departemen Energi Amerika Serikat (DOE) mencatat bahwa populasi komponen bergerak pada mobil listrik jauh lebih sedikit dibandingkan mobil konvensional. Hal ini memangkas kebutuhan penggantian cairan dan suku cadang secara signifikan.
Namun, apakah memelihara mobil listrik otomatis membuat dompet Anda jauh lebih hemat? Berikut adalah 7 fakta mengenai biaya perawatan mobil listrik yang wajib Anda ketahui:
1. Bebas Biaya Ganti Oli Mesin
Perbedaan paling terasa ada pada sistem penggeraknya. Tanpa mesin pembakaran internal, mobil listrik tidak memerlukan penggantian oli mesin, filter oli, hingga pembersihan busi secara rutin. Poin ini secara langsung memangkas anggaran servis berkala yang biasanya rutin dikeluarkan pemilik mobil bensin.
2. Komponen Mekanis Bergerak Lebih Sedikit
Mobil bensin mengandalkan ratusan komponen mekanis bergesekan yang rentan aus seiring pemakaian. Sebaliknya, mobil listrik digerakkan oleh motor listrik dengan konstruksi yang lebih ringkas. Risiko kerusakan komponen bergerak pun menjadi jauh lebih rendah.
3. Kampas Rem Lebih Awet Berkat Regenerative Braking
Mobil listrik dibekali teknologi regenerative braking yang memanfaatkan motor listrik untuk memperlambat laju kendaraan sekaligus memanen daya ke baterai.
Karena tidak melulu bergantung pada gesekan kampas rem konvensional, tingkat keausan sistem rem menjadi lebih minim dan usia pakai kampas rem bisa bertahan lebih lama.
4. Risiko Biaya Penggantian Baterai
Meski biaya rutin bulanan relatif murah, mobil listrik menyimpan potensi pengeluaran besar jika komponen utama seperti baterai traksi mengalami kerusakan di luar masa garansi.
Kendati demikian, sebagian besar produsen otomotif memberikan jaminan garansi baterai yang cukup panjang, rata-rata mencapai 8 tahun atau 160.000 km.
5. Tetap Membutuhkan Perawatan Rutin
Bebas oli bukan berarti bebas servis total. Pemilik mobil listrik tetap wajib melakukan pemeriksaan berkala pada komponen keselamatan, seperti sistem pendingin baterai (coolant), minyak rem, filter AC, bilah wiper, hingga pengetesan sistem kelistrikan tegangan tinggi sesuai petunjuk buku manual.
6. Keausan Ban Cenderung Lebih Cepat
Karakteristik motor listrik yang mampu menyalurkan torsi instan sejak pijakan pertama, ditambah bobot kendaraan yang lebih berat akibat membawa paket baterai, membuat kerja ban menjadi lebih berat.
Akibatnya, pemilik mobil listrik perlu lebih sering mengecek tekanan angin, melakukan rotasi ban, dan mengganti ban saat tapaknya mulai aus.
7. Ketergantungan pada Bengkel Resmi dan Teknisi Khusus
Penanganan sistem kelistrikan tegangan tinggi membutuhkan peralatan khusus dan teknisi bersertifikasi. Hal ini membuat pengerjaan servis mobil listrik belum bisa dilakukan di sembarang bengkel umum, sehingga ketersediaan jaringan bengkel resmi merek terkait menjadi krusial sebelum Anda memutuskan untuk membeli.
Secara umum, biaya perawatan rutin mobil listrik memang terbukti lebih hemat dan ramah kantong dibandingkan mobil bensin.
Namun, Anda tetap perlu memperhitungkan potensi biaya penggantian komponen besar di masa depan, ketersediaan jaringan bengkel resmi, serta cakupan garansi baterai yang ditawarkan oleh pabrikan.
Leave a comment