BOGOR, danantaranews.id – Kehangatan cangkir kopi dan canda tawa di Rest Area KM 34 Tol Jagorawi pagi itu mendadak mengubah arah angin.
Jumat, 4 September 2026, rombongan Safari Jumat gabungan dari Bekasi dan Tebet semula hanya merencanakan ibadah di salah satu masjid besar perkotaan Bogor, yaitu Masjid Al Amaliyah, Masjid Al Mustofa, Masjid Raya Bogor, Masjid Al Hikmah, dan Masjid Agung Bogor.
Namun, sebuah celetukan spontan di tengah obrolan santai justru melahirkan petualangan spiritual yang berkesan.
“Bagaimana kalau kita Salat Jumat di Kampung Maghfirah saja?” usul salah satu anggota jamaah.
Gagasan itu disambut sumringah. Terlebih, perjalanan kali ini terasa lebih istimewa karena didampingi oleh para istri.
Bayangan tentang masjid yang berdiri tenang di lereng barat Gunung Pangrango dengan hembusan udara sejuk langsung meluluhkan rencana awal. Tanpa ragu, rombongan sepakat mengarahkan kemudi menuju Kampung Tangkil, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Tepat pukul 10.02 WIB, kami mulai bergerak meninggalkan titik kumpul. Menyusuri Tol Jagorawi hingga melintasi Tol Bocimi, rombongan akhirnya keluar di Pintu Tol Caringin.
Dari sana, tantangan sesungguhnya dimulai. Jarak 21 kilometer menuju lokasi harus ditempuh melalui jalanan berliku, mendaki, dan menurun khas kontur pegunungan. Badan jalan yang tergolong sempit menuntut kehati-hatian ekstra saat berpapasan dengan kendaraan lain.
Namun, lelahnya navigasi terbayar tuntas oleh lanskap alam yang tersaji di sepanjang jendela. Perkampungan mungil dan hamparan hijau lereng pegunungan menyegarkan mata siapa pun yang memandang.
Sekitar pukul 11.00 WIB, roda kendaraan akhirnya berhenti di kawasan Masjid I’Tikaf Kampung Maghfirah. Meski terik matahari siang itu cukup menyengat, hembusan angin pegunungan yang berembus pelan langsung menyapu rasa gerah. Begitu membasuh wajah dengan air wudhu yang dingin dan segar, rasa lelah perjalanan seolah lenyap seketika.
Masjid I’Tikaf berdiri megah di atas lahan seluas 2.700 meter persegi dan mampu menampung hingga 3.000 jemaah. Arsitekturnya dirancang terbuka menyatu dengan alam, memanfaatkan sirkulasi udara alami khas kaki Gunung Pangrango untuk menghadirkan kenyamanan ibadah jangka panjang.
Saat melangkahkan kaki ke dalam, karpet merah yang empuk menyambut hangat, diiringi alunan merdu ayat-ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan para santri.
Menariknya, seluruh prosesi Salat Jumat di sini digerakkan oleh para santri muda Kampung Maghfirah yang bertugas sebagai khatib dan imam. Kawasan ini memang dirancang sebagai pusat pendidikan Islam lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga lansia.
Didirikan pada tahun 2016 oleh KH Ahmad Hatta, Lc., M.A., Ph.D., Kampung Maghfirah lahir dari cita-cita mulia: menjadi “Sumur Zamzam” kebaikan yang mengalirkan manfaat tiada henti bagi umat.
Perjalanan dadakan ini ditutup dengan perasaan hangat. Rombongan Safari Jumat pulang tidak hanya membawa kenangan manis akan sejuknya alam Pangrango, tetapi juga bekal spiritual dari khutbah Jumat tentang pentingnya memahami sekaligus mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Leave a comment