Empat E-RTG Jadi Andalan Baru
Jakarta, danantaranews.id – PT Pelindo Terminal Petikemas (SPTP) mulai menggeber transformasi operasional di Terminal Petikemas Banjarmasin (TPK Banjarmasin). Perusahaan resmi mengoperasikan empat unit Electric Rubber Tyred Gantry Crane atau E-RTG untuk mendongkrak produktivitas bongkar muat peti kemas.
Penambahan alat berbasis listrik tersebut datang ketika aktivitas terminal terus bergerak positif. Karena itu, Pelindo Terminal Petikemas menilai tambahan peralatan menjadi langkah penting untuk menjaga kelancaran layanan sekaligus menjawab kebutuhan pengguna jasa.
Terminal Head TPK Banjarmasin Sirin Purnomo mengatakan empat E-RTG tersebut merupakan bagian dari strategi perusahaan untuk memperkuat produktivitas. Selain itu, penggunaan teknologi listrik ikut mendorong pengembangan pelabuhan yang modern, efisien, dan lebih ramah lingkungan.
“Penambahan peralatan bongkar muat berbasis listrik ini menjadi bagian dari strategi meningkatkan produktivitas pelayanan peti kemas sekaligus mendukung transformasi pelabuhan yang modern, efisien, dan ramah lingkungan,” kata Sirin, Selasa.
Arus Peti Kemas Tembus 282.265 TEUs
Investasi peralatan baru ini hadir seiring meningkatnya aktivitas operasional TPK Banjarmasin. Hingga akhir semester I 2026, terminal tersebut telah melayani arus peti kemas sebanyak 236.990 box.
Jika dikonversi berdasarkan satuan TEUs, jumlah tersebut mencapai 282.265 TEUs. Angka itu menunjukkan tingginya aktivitas bongkar muat yang berlangsung di terminal.
Kinerja tersebut sekaligus menjadi dasar bagi perusahaan untuk memperkuat fasilitas dan peralatan operasional. Dengan begitu, kapasitas pelayanan dapat terus berkembang tanpa mengorbankan kelancaran proses bongkar muat.
Sirin menjelaskan bahwa penambahan empat E-RTG menjadi bagian dari komitmen perusahaan dalam memperkuat kapasitas operasional. Langkah tersebut juga diarahkan untuk mengantisipasi pertumbuhan arus peti kemas sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepelabuhanan.
Jumlah RTG Langsung Naik 33%
Kehadiran empat E-RTG membuat jumlah Rubber Tyred Gantry Crane di TPK Banjarmasin melonjak dari 12 unit menjadi 16 unit. Artinya, terminal memperoleh tambahan kapasitas peralatan sekitar 33 persen.
Kenaikan jumlah alat ini memberikan ruang lebih besar bagi terminal untuk mengatur aktivitas di area container yard. Distribusi peralatan pada setiap blok dapat menjadi lebih optimal sehingga proses penerimaan, pengiriman, pemuatan, dan pembongkaran peti kemas bisa berjalan lebih cepat.
Tambahan RTG juga dapat menekan potensi waktu tunggu peralatan. Sebab, terminal memiliki lebih banyak unit untuk mendukung pergerakan peti kemas di berbagai blok.
Selain mempercepat pekerjaan, ketersediaan alat tambahan membuat operasional lebih andal. Ketika satu unit menjalani perawatan, terminal tetap memiliki peralatan lain sebagai cadangan untuk menjaga kesinambungan pelayanan.
Bukan Sekadar Tambah Alat, Ada Uji Berlapis
Pelindo Terminal Petikemas tidak langsung memasukkan empat E-RTG tersebut ke kegiatan operasional. Sebelum beroperasi, seluruh unit melewati serangkaian pengujian untuk memastikan aspek keselamatan, fungsi, dan keandalannya.
Pengujian mencakup pemeriksaan visual dan pengukuran dimensi. Tim juga melakukan Non-Destructive Testing (NDT) dengan metode Magnetic Particle Testing untuk memastikan kondisi peralatan sesuai standar teknis.
Selanjutnya, E-RTG menjalani Function and Performance Test serta Load Test. Tim kemudian melanjutkan pengujian melalui Commissioning Test hingga Endurance Test selama 1×24 jam.
Rangkaian pemeriksaan tersebut menjadi tahapan penting sebelum alat masuk ke area kerja. Dengan pengujian berlapis, perusahaan memastikan peralatan mampu menjalankan fungsi operasional secara aman dan andal.
E-RTG Dorong Konsep Green Port
Pelindo tidak hanya mengejar peningkatan produktivitas melalui penambahan E-RTG. Penggunaan tenaga listrik juga menjadi bagian dari penerapan konsep Green Port yang terus perusahaan kembangkan.
E-RTG memiliki keunggulan dari sisi efisiensi energi jika dibandingkan dengan RTG konvensional yang menggunakan bahan bakar diesel. Teknologi tersebut juga membantu mengurangi konsumsi bahan bakar fosil dalam kegiatan operasional terminal.
Pengurangan konsumsi bahan bakar fosil turut membuka peluang penurunan emisi karbon. Dengan demikian, elektrifikasi peralatan bongkar muat berjalan beriringan dengan upaya membangun operasional pelabuhan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Produktivitas dan Efisiensi Jadi Fokus
Langkah Pelindo Terminal Petikemas di Banjarmasin memperlihatkan bahwa peningkatan kapasitas tidak hanya bergantung pada jumlah arus peti kemas. Ketersediaan alat yang memadai juga menjadi faktor penting agar aktivitas logistik tetap bergerak cepat ketika volume layanan meningkat.
Dengan tambahan empat E-RTG, TPK Banjarmasin kini memiliki 16 RTG untuk mendukung aktivitas di container yard. Kapasitas tersebut memberikan fleksibilitas lebih besar dalam mengatur distribusi peralatan sekaligus menjaga kelancaran layanan.
Di sisi lain, teknologi listrik membawa dimensi baru dalam pengembangan terminal. Pelindo dapat mengejar produktivitas bongkar muat sambil mendorong efisiensi energi dan pengurangan penggunaan bahan bakar fosil.
Ke depan, kombinasi antara peningkatan kapasitas alat, pengaturan distribusi peralatan yang lebih optimal, serta pemanfaatan teknologi listrik menjadi modal penting bagi TPK Banjarmasin. Terlebih, terminal telah mencatat arus 236.990 box atau 282.265 TEUs hingga semester I 2026.
Dengan tambahan empat E-RTG, Pelindo Terminal Petikemas kini memiliki perangkat yang lebih kuat untuk menjaga ritme pelayanan. Investasi tersebut sekaligus mempertegas arah TPK Banjarmasin menuju terminal yang lebih produktif, efisien, andal, dan mendukung konsep pelabuhan hijau.
Leave a comment