Cikarang, Danantaranews.id – PT Katup Industri Indonesia (KII) resmi menjalin kerja sama lisensi dengan produsen asal Italia, OMS. Langkah strategis ini bertujuan untuk memperkuat industri valve nasional melalui transfer teknologi, peningkatan kualitas manufaktur, serta penguatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) di sektor minyak dan gas (migas).
Kolaborasi ini tidak hanya berfokus pada lini produksi. Kedua perusahaan juga menyepakati pengembangan kemampuan rekayasa (engineering), sistem mutu, manajemen rantai pasok, hingga riset dan pengembangan (R&D). Melalui skema mitra lisensi ini, KII optimistis mampu menghadirkan produk valve berstandar internasional yang lahir langsung dari fasilitas produksi di dalam negeri.
Managing Director PT Katup Industri Indonesia, Evelyn Angelita, menjelaskan bahwa OMS memiliki rekam jejak yang solid dengan pengalaman lebih dari 130 tahun di industri valve global. Pengalaman panjang tersebut menjadi modal utama dalam proses alih teknologi bersama KII.
“Mereka sudah 130 tahun, pengalamannya sudah sangat luas. Jadi kalau kami bekerja sama dengan mereka, tinggal transfer knowledge, transfer teknologi. Kami memiliki quality system yang sama dengan di Italia sehingga harapannya produknya ber-TKDN tetapi kualitasnya tetap memenuhi standar internasional,” ujar Evelyn dalam seremoni penandatanganan MOU di Pabrik Valve KII, Kawasan Industri Cikarang Pusat, Kabupaten Bekasi, Selasa (30/6/2026).
Komitmen Alih Teknologi Secara Menyeluruh
Chairman PT Katup Industri Indonesia, Jacob Mailoa, menegaskan bahwa ruang lingkup kemitraan ini melampaui penggunaan lisensi produk semata. KII dan OMS menyelaraskan seluruh aspek operasional, termasuk pengelolaan rantai pasok material yang berkaitan langsung dengan kualitas produk akhir.
“Kerja sama ini dimulai dari engineering, penerapan quality system yang sama, kemudian supply chain material hingga R&D. Harapannya melalui license partner ini terjadi alih teknologi sehingga kami bisa mengembangkan R&D untuk kemajuan industri valve di Indonesia,” kata Jacob.
Jacob menambahkan, valve merupakan komponen kritis di sektor oil and gas. Oleh karena itu, aspek sertifikasi, rekayasa teknik, dan kualitas pasokan menjadi hal mutlak yang tidak boleh mengalami kompromi.
Pengamat industri penunjang migas, Taufik Hidayat, menilai kolaborasi strategis ini sebagai pembuka jalan yang krusial bagi kemandirian industri hulu energi di tanah air.
“Kemitraan antara KII dan OMS Italia ini menjadi bukti nyata bahwa pabrikan lokal mampu sejajar dengan pemain global. Alih teknologi ini akan memangkas ketergantungan impor komponen kritis dan secara langsung menaikkan posisi tawar industri manufaktur Indonesia di mata dunia,” kata Taufik Hidayat saat dihubungi terpisah.
Perjalanan KII Menuju Standar Global

Sejak memulai pembangunan fasilitas produksi pada 2021 di Cikarang, KII terus bersiap diri dengan melengkapi berbagai sertifikasi internasional. Saat ini, perusahaan telah mengantongi sertifikasi API dan ISO, serta sukses mengamankan 18 sertifikat TKDN untuk jajaran produknya.
Seluruh proses manufaktur di pabrik KII mengacu pada standar American Petroleum Institute (API), seperti API 6D, API Q1, dan API 600, yang menjadi kiblat utama industri valve dunia.
Proses negosiasi untuk meyakinkan OMS Italia sendiri memakan waktu sekitar satu tahun. Indonesia menjadi negara pertama yang mendapatkan skema alih teknologi dari OMS, karena biasanya perusahaan asal Italia tersebut lebih memilih untuk membangun pabrik sendiri di negara lain.
“Mereka memutuskan bekerja sama setelah proses yang panjang, kurang lebih satu tahun. Mereka ingin memastikan kami benar-benar partner yang serius, profesional, dan memiliki misi mengembangkan valve berkualitas tinggi,” tutur Jacob.
Sasar Proyek Energi Skala Besar
Produk hasil kolaborasi ini akan menggunakan identitas bersama dengan merek KII OMS. Produk ini dirancang khusus untuk menyasar kebutuhan industri migas, LNG, offshore, refinery, hingga aktivitas eksplorasi berskala besar.
KII mampu memproduksi valve dengan diameter monster mulai dari 36 inci hingga 48 inci demi memenuhi spesifikasi proyek energi makro. Berbeda dengan manufaktur massal, KII menerapkan sistem produksi berbasis pesanan (customized by purchase order) untuk memastikan setiap produk sesuai dengan kebutuhan spesifik tiap proyek.
Langkah maju ini mendapat apresiasi dari Director General of Oil and Gas Engineering and Environment, Joko Hadi Wibowo. Pemerintah terus mendorong swasembada energi melalui penguatan kapasitas industri penunjang nasional.
“Kerja sama ini tidak hanya penting dari sisi bisnis, tetapi juga memiliki makna strategis dalam mendorong penguasaan teknologi, peningkatan kemampuan produksi dalam negeri, serta daya saing internasional,” ucap Joko.
Joko juga mengingatkan bahwa TKDN tidak boleh sekadar menjadi angka administratif, melainkan harus mencerminkan peningkatan kapasitas nyata, perluasan investasi, serta peningkatan kompetensi SDM domestik.
Senada dengan hal tersebut, Director of The National Capacity and Quality Assurance Working Group, Djoko Budiyanto, berharap pengembangan yang KII lakukan dapat mengintegrasikan ekosistem industri hulu dan hilir di Indonesia.
“Ke depan pengembangan yang dilakukan PT Katup Industri Indonesia diharapkan bisa lebih mengembangkan industri valve, termasuk menghubungkan industri dalam negeri satu dengan lainnya sehingga capaian pekerjaannya lebih tinggi dan penggunaan produk dalam negeri semakin optimal,” pungkas Djoko.
Leave a comment