Home Ekonomi Indonesia Pertahankan Moratorium Perkebunan Sawit, Harga CPO Terus Meningkat
Ekonomi

Indonesia Pertahankan Moratorium Perkebunan Sawit, Harga CPO Terus Meningkat

Share
Indonesia mempertahankan moratorium perkebunan sawit, memicu lonjakan harga CPO akibat pasokan terbatas dan meningkatnya permintaan global untuk biodiesel
Indonesia mempertahankan moratorium perkebunan sawit, memicu lonjakan harga CPO akibat pasokan terbatas dan meningkatnya permintaan global untuk biodiesel
Share

Jakarta, Danantaranews,id – Indonesia tetap mempertahankan moratorium izin baru bagi perkebunan kelapa sawit, kebijakan yang dimulai sejak 2018. Keputusan ini memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak sawit mentah (CPO) dan melonjaknya harga komoditas tersebut di pasar global.

Menurut Dorab Mistry, analis industri sekaligus Direktur Godrej International, pembatasan ini dapat menyebabkan kelangkaan pasokan dan lonjakan harga minyak sawit. “Jika moratorium tetap berlaku, harga CPO akan terus meningkat, berdampak pada miliaran konsumen di negara berkembang,” ujarnya dikutip dari Reuters, Senin (10/3/2025).

Mistry menegaskan bahwa era harga murah CPO telah berakhir. Produksi yang melambat serta prioritas Indonesia untuk biodiesel membuat minyak sawit lebih mahal dibandingkan kompetitor. Saat ini, Indonesia telah meningkatkan campuran wajib CPO dalam biodiesel menjadi 40% dan menargetkan 50% pada 2026. Hal ini akan memangkas ekspor CPO Indonesia menjadi 20 juta metrik ton pada 2030, turun dari 29,5 juta ton pada 2024, menurut Eddy Martono, Ketua Umum GAPKI.

Produksi CPO juga terdampak oleh banjir di Malaysia, yang menghambat pasokan dan meningkatkan harga minyak sawit di atas minyak kedelai. Di sisi lain, ekspansi perkebunan di Indonesia dan Malaysia menghadapi kendala akibat isu deforestasi, lahan terbatas, serta lambatnya penanaman ulang oleh petani kecil yang menyumbang 40% dari produksi nasional.

Analis Thomas Mielke dari Oil World memperkirakan pertumbuhan produksi CPO global hanya mencapai 1,3 juta ton per tahun dalam dekade ini, jauh lebih rendah dibandingkan rata-rata 2,9 juta ton pada dekade sebelumnya. Selain itu, faktor lain seperti kekurangan tenaga kerja, perkebunan yang menua, serta penyebaran jamur Ganoderma turut memperlambat produksi.

Sementara negara lain seperti Kolombia, Ekuador, Pantai Gading, dan Nigeria meningkatkan produksi minyak sawit, pertumbuhan di wilayah tersebut belum mampu menandingi lonjakan permintaan global, terutama untuk biofuel. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

BSU 2026 Cair Rp900 Ribu! Ini Link Resmi Kemnaker dan Cara Cek Status via NIK

JAKARTA, danantaranews.id – Kabar gembira untuk para pekerja! Pemerintah kembali menyiapkan Bantuan Subsidi Upah (BSU) untuk kuartal IV 2026. Program BSU 2026 ini...

Cetak Rekor Produksi Listrik Panas Bumi, Laba Bersih PGE Melonjak 15,48 Persen

JAKARTA, danantaranews.id – Emiten energi terbarukan PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) membukukan laba bersih sebesar 79,6 juta dolar AS pada semester I...

Related Articles

Said Iqbal Minta UMR 2027 Naik Hingga 9,5 Persen, Bongkar Mitos Upah Buat Pabrik Bangkrut!

JAKARTA, danantaranews.id – Diskusi mengenai arah pengupahan nasional kembali memanas menjelang penetapan...

PLN Rugi Rp3,92 Triliun, Formula TOP Disorot! Pemerintah Prabowo Diminta Bergerak

Beban usaha PLN tumbuh lebih cepat daripada pendapatan pada semester I 2026....

Inflasi September Tembus 3,28 Persen, Mendagri Tito Karnavian Wanti-wanti Pemda Soal Harga Pangan

JAKARTA, danantaranews.id – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian mewanti-wanti seluruh...

Aprindo: Ritel Indonesia Siap Kuasai Asia Pasifik

TANGERANG, danantaranews.id – Industri ritel Indonesia terbukti tidak hanya menjadi penonton di...