JAKARTA, danantaranews.id – PT Danantara Investment Management (Persero) atau Danantara Investment Management (DIM) menjajaki investasi strategis bersama PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) untuk mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik komersial di Indonesia.
Langkah tersebut ditandai dengan penandatanganan non-binding term sheet oleh ketiga perusahaan sebagai kerangka awal untuk membahas potensi kolaborasi dan investasi.
Chief Investment Officer (CIO) Danantara, Pandu Sjahrir, mengatakan elektrifikasi kendaraan komersial merupakan bagian penting dari agenda transisi energi jangka panjang Indonesia.
Menurut Pandu, pengembangan kendaraan listrik untuk sektor komersial tidak hanya berkaitan dengan pengurangan emisi karbon, tetapi juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat industri nasional dan mendorong hilirisasi.
“Selaras dengan prioritas pemerintah Indonesia, kami melihat kolaborasi ini sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi emisi, memperkuat industri nasional, mendorong hilirisasi, dan membangun fondasi ekonomi yang lebih berkelanjutan,” ujar Pandu dalam keterangan resmi di Jakarta, Rabu.
Fokus pada Bus dan Truk Listrik
Kolaborasi DIM, VKTR, dan BNBR diarahkan untuk mendorong adopsi kendaraan listrik komersial, khususnya bus dan truk listrik.
Salah satu pendekatan yang akan dikembangkan adalah Mobility as a Service (MaaS). Konsep ini menawarkan ekosistem mobilitas listrik yang terintegrasi untuk membantu mengurangi berbagai hambatan dalam peralihan armada konvensional menuju kendaraan listrik.
Model MaaS juga diharapkan dapat membuka akses pembiayaan yang lebih luas bagi operator kendaraan komersial, termasuk operator bus listrik yang beroperasi di berbagai daerah di Indonesia.
Dengan skema tersebut, transisi menuju kendaraan listrik tidak hanya bertumpu pada kemampuan operator membeli kendaraan, tetapi juga mencakup pengembangan ekosistem pembiayaan dan layanan mobilitas yang mendukung operasional armada.
Perkuat Industri Baterai dan Hilirisasi Mineral
Selain mempercepat penggunaan bus dan truk listrik, kerja sama ini juga memiliki sasaran yang lebih luas, yakni memperdalam rantai nilai industri baterai nasional.
Penguatan rantai pasok baterai dinilai penting seiring meningkatnya kebutuhan kendaraan listrik di Indonesia. Kolaborasi tersebut sekaligus diarahkan untuk mendukung agenda hilirisasi mineral kritikal yang menjadi salah satu sektor prioritas investasi DIM.
Pandu menegaskan, penandatanganan non-binding term sheet belum merupakan keputusan final mengenai realisasi investasi.
Menurutnya, dokumen tersebut baru menjadi pijakan awal bagi para pihak untuk melanjutkan pembahasan. Selanjutnya, proses uji tuntas atau due diligence akan dilakukan secara komprehensif sebelum masuk ke tahap transaksi definitif.
“Non-binding term sheet yang ditandatangani merupakan kerangka awal. Proses uji tuntas yang komprehensif akan dilakukan untuk memastikan transaksi dapat memberikan nilai komersial yang baik dan memberikan kontribusi positif bagi pembangunan ekonomi Indonesia,” kata Pandu.
VKTR Sambut Kolaborasi Strategis
Direktur Utama VKTR, Anindra Ardiansyah Bakrie, menyambut positif kepercayaan dan dukungan yang diberikan melalui kerja sama tersebut.
Ia menilai kolaborasi dengan DIM dan BNBR bukan sekadar kerja sama bisnis, tetapi juga menjadi momentum bagi VKTR untuk memasuki tahap pertumbuhan berikutnya sekaligus mengambil peran dalam perkembangan industri kendaraan listrik nasional.
“Bersama-sama, kami ingin turut membentuk masa depan mobilitas Indonesia agar menjadi lebih maju, berkelanjutan, dan mandiri,” ujar Anindra.
Menurut dia, kerja sama tersebut menjadi momentum penting untuk membuka babak baru dalam pengembangan solusi mobilitas listrik di Indonesia.
Kolaborasi berbagai pihak dengan keahlian dan kapasitas yang saling melengkapi dinilai dapat menghasilkan dampak yang lebih besar bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Investasi Masih Menunggu Perjanjian Definitif
Melalui kerja sama ini, DIM dan VKTR kembali menegaskan komitmen untuk mendukung transisi energi Indonesia, memperkuat kemampuan industri dalam negeri, serta mengembangkan solusi mobilitas yang lebih berkelanjutan.
Meski demikian, potensi investasi yang dibahas dalam non-binding term sheet tersebut belum bersifat mengikat secara final.
Realisasi investasi masih akan bergantung pada hasil uji tuntas, pembahasan lanjutan, serta penyusunan dan penandatanganan perjanjian definitif oleh seluruh pihak.
Dengan demikian, penandatanganan term sheet menjadi langkah awal bagi DIM, VKTR, dan BNBR untuk mengeksplorasi peluang investasi sekaligus membangun ekosistem kendaraan listrik komersial yang lebih terintegrasi di Indonesia.
Leave a comment