Jakarta, danantaranews.id – Nilai tukar rupiah akhirnya menunjukkan taringnya di tengah sentimen global yang panas dingin. Kamis (3/7/2025) pagi, rupiah dibuka menguat signifikan seiring kabar kesepakatan dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Vietnam yang mengguncang pasar. Optimisme ini membuat mata uang Garuda berpotensi terus menguat, bahkan diperkirakan bisa bergerak di kisaran Rp16.200 – Rp16.250 per dolar AS.
“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan menguat di kisaran Rp16.200 – Rp16.250, dipengaruhi oleh sentimen positif dari global terkait kesepakatan tarif antara Vietnam dan AS,” ujar Rully Nova, Analis Bank Woori Saudara, saat dihubungi Kamis (3/7/2025).
Kesepakatan AS-Vietnam Buat Pasar Bergairah
Sentimen positif datang dari pernyataan Presiden AS, Donald Trump, yang mengonfirmasi adanya kesepakatan dagang penting dengan Vietnam. Melansir Anadolu Agency, Trump menyatakan kesepakatan itu dicapai usai ia berbicara langsung dengan Sekretaris Jenderal Partai Komunis Vietnam, To Lam.
Dalam kesepakatan tersebut, Vietnam setuju membayar tarif sebesar 20 persen untuk seluruh barang yang dikirim ke AS, dan tarif 40 persen untuk setiap pengiriman barang tertentu. Namun sebagai gantinya, AS akan mendapatkan akses total ke pasar Vietnam dengan tarif nol.
“Jika negara-negara seperti Vietnam mencapai kesepakatan, pasar langsung membaca ini sebagai sinyal positif untuk perdagangan global. Rupiah pun mendapat sentimen penguatan karena investor melihat stabilitas kawasan Asia semakin terjaga,” jelas Rully.
Inflasi Rendah Buka Peluang BI Turunkan Suku Bunga
Tak hanya faktor eksternal, sentimen domestik juga mendukung penguatan rupiah. Rully menilai inflasi Indonesia yang terkendali memberi ruang bagi Bank Indonesia (BI) untuk mempertimbangkan pemangkasan suku bunga acuannya demi menjaga momentum pemulihan ekonomi.
“Sementara dari domestik, inflasi yang masih rendah memberikan ruang bagi BI untuk penurunan suku bunga acuannya,” kata Rully.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi hingga semester I-2025 masih berada dalam rentang target pemerintah. Inflasi selama Januari hingga Juni 2025 tercatat sebesar 1,38 persen (year-to-date/ytd), masih jauh di bawah target inflasi pemerintah sebesar 2,5 ± 1 persen untuk 2025.
Adapun inflasi bulanan Juni 2025 hanya sebesar 0,19 persen (month-to-month/mtm), sementara secara tahunan berada di level 1,87 persen (year-on-year/yoy).
“Ini angka yang sangat terkendali. BI bisa saja punya ruang untuk memangkas suku bunga, yang tentunya bisa mendorong ekonomi namun tetap menjaga kestabilan rupiah,” ungkap Rully.
Rupiah Dibuka Menguat 45 Poin
Sejalan dengan sentimen positif global dan domestik, rupiah langsung menunjukkan penguatan pada awal perdagangan Kamis pagi di Jakarta. Tercatat rupiah menguat 45 poin atau sekitar 0,27 persen ke level Rp16.202 per dolar AS, dibanding posisi penutupan sebelumnya di Rp16.247 per dolar AS.
Menurut Rully, penguatan rupiah tidak lepas dari kombinasi beberapa faktor mulai dari kabar baik kesepakatan perdagangan, hingga fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga.
“Rupiah punya peluang cukup besar untuk lanjut menguat dalam jangka pendek. Namun tetap perlu waspada terhadap dinamika global, termasuk kebijakan suku bunga The Fed yang bisa tiba-tiba berubah arah,” ujar Rully.
Investor Harus Waspada Volatilitas
Meskipun optimisme menguat, pasar masih dibayangi volatilitas, terutama dari kebijakan moneter Amerika Serikat. Pelaku pasar menanti data tenaga kerja AS yang dijadwalkan rilis akhir pekan ini, yang bisa memengaruhi ekspektasi pasar terhadap kebijakan suku bunga The Fed.
“Pasar masih akan fluktuatif. Data tenaga kerja AS, inflasi global, hingga tensi geopolitik tetap harus dicermati. Investor sebaiknya tidak terlalu agresif,” pungkas Rully.
Dengan kombinasi sentimen positif dari kesepakatan dagang AS-Vietnam dan data fundamental ekonomi Indonesia yang solid, rupiah hari ini tampak kembali menemukan tenaga untuk melawan tekanan dolar AS. Apakah tren ini akan berlanjut? Kita tunggu saja kabar berikutnya! (*)
Leave a comment