Jakarta, Danantaranews.id – Hari pertama perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pasca libur Lebaran 2025 dibuka dengan kejutan besar. IHSG, atau Indeks Harga Saham Gabungan, ditutup anjlok tajam 514,48 poin atau setara 7,90% ke level 5.996,14 pada Selasa (8/4/2025). Kondisi ini menjadi koreksi harian terdalam dalam beberapa waktu terakhir dan sempat memicu trading halt selama 30 menit akibat koreksi ekstrem saat pembukaan pasar.
Sejak bel pembukaan berbunyi, tekanan jual langsung mendominasi lantai bursa. IHSG dibuka turun 598,56 poin atau 9,19% ke posisi 5.912,06—memaksa otoritas bursa menghentikan sementara perdagangan untuk menahan kepanikan pelaku pasar.
Dampak Kebijakan Global Terhadap IHSG
Pelemahan tajam IHSG kali ini tidak berdiri sendiri. Akar masalahnya terletak pada perkembangan global yang terjadi saat pasar domestik tengah libur panjang. Kebijakan perdagangan resiprokal yang diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump selama masa Lebaran mengguncang pasar keuangan internasional. Beberapa bursa saham dunia ikut tertekan, dan efeknya baru dirasakan secara penuh oleh pasar Indonesia hari ini.
Meski bursa Asia seperti Nikkei dan Hang Seng mulai menunjukkan pemulihan, IHSG belum mampu mengejar ketertinggalannya akibat waktu libur yang lebih panjang.
Sektor Material dan Teknologi Paling Tertekan
Seluruh sektor di bursa ikut terseret dalam tekanan. Penurunan paling tajam tercatat pada sektor material dasar dan teknologi, yang masing-masing rontok lebih dari 10%. Sektor industri, infrastruktur, consumer primer, dan energi juga terpukul dengan koreksi di atas 8%. Hanya sektor consumer non primer yang mencatat penurunan paling ringan, yakni 4,97%.
Kondisi ini mencerminkan kepanikan investor terhadap sektor-sektor yang sangat sensitif terhadap sentimen global dan perubahan arah kebijakan perdagangan dunia.
Saham Big Cap Tak Luput dari Koreksi
Deretan saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di BEI juga tidak mampu menghindar dari tekanan. Saham-saham perbankan papan atas seperti BBCA turun 8,53% ke Rp 7.775, BBRI melemah 10,12% ke Rp 3.640, dan BMRI anjlok 10,19% ke Rp 4.670. Sementara itu, saham energi seperti BREN dan AMMN masing-masing rontok 13,82% dan 14,23%.
Saham teknologi DCII turun 10,69% ke level Rp 150.000, sedangkan TLKM melemah 4,98% ke Rp 2.290. Di sisi lain, BYAN hanya terkoreksi ringan 0,75%, dan saham TPIA ditutup stagnan di Rp 7.200—menjadi satu-satunya dari jajaran top 10 market cap yang tidak turun.
Di Tengah Kegelapan, Masih Ada Cahaya
Meski mayoritas saham terkoreksi, beberapa emiten tetap mampu menorehkan kinerja positif. Saham SOSS mencuri perhatian dengan kenaikan maksimal atau auto reject atas (ARA) sebesar 24,73% ke Rp 464. Disusul saham CTBN naik 9,95% ke Rp 2.210, NETV melonjak 9,79% ke Rp 157, IPAC menguat 9,33% ke Rp 164, dan LINK naik 9,24% ke Rp 1.950.
Kenaikan saham-saham ini menjadi bukti bahwa di tengah tekanan pasar, peluang tetap ada bagi investor jeli yang mampu membaca momentum. (*)
Leave a comment