Jakarta, Danantaranews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS berpotensi menguat pada perdagangan hari ini, setelah data penjualan ritel Amerika Serikat (AS) untuk Februari 2025 mencatat pertumbuhan lebih rendah dari perkiraan pasar. Perlambatan ini meningkatkan ekspektasi bahwa ekonomi AS masih berada di bawah tekanan, yang dapat berdampak pada kebijakan moneter The Federal Reserve ke depan.
Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa pagi (18/3) pukul 09.04 WIB, rupiah diperdagangkan di level Rp16.391 per dolar AS, menguat 15 poin atau 0,09% dibandingkan dengan level penutupan Senin sore (17/3/2025) di Rp16.406 per dolar AS.
Faktor Penguatan Rupiah
Pengamat pasar keuangan, Ariston Tjendra, mengungkapkan bahwa indeks dolar AS masih mengalami tekanan dan pagi ini bergerak di kisaran 103,40-an. Pelemahan indeks dolar ini didorong oleh kekhawatiran pasar terhadap kondisi ekonomi AS yang belum sepenuhnya pulih.
“Data penjualan ritel AS bulan Februari yang dirilis semalam hanya tumbuh 0,2%, jauh di bawah ekspektasi pasar yang memproyeksikan 0,6%. Pelemahan ini menunjukkan bahwa belanja konsumen masih lemah, yang berpotensi mengurangi tekanan inflasi di AS,” jelas Ariston dalam keterangan tertulisnya, Selasa (18/3/2025).
Dari dalam negeri, surplus neraca perdagangan Indonesia pada Februari 2025 juga menjadi faktor pendukung bagi rupiah. Ariston menambahkan bahwa stimulus ekonomi yang diumumkan oleh pemerintah China pada akhir pekan lalu turut memberikan sentimen positif terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ancaman Terhadap Stabilitas Rupiah
Namun, di sisi lain, pasar masih mencermati potensi risiko eksternal yang dapat menghambat penguatan rupiah. Salah satunya adalah kebijakan mantan Presiden AS, Donald Trump, yang terus mendorong kenaikan tarif impor terhadap sejumlah negara mitra dagang utama. Kebijakan proteksionisme ini dikhawatirkan memicu eskalasi perang dagang baru yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi global.
Selain itu, ketegangan geopolitik semakin meningkat setelah AS memulai serangan terhadap kelompok Houthi di Yaman. Konflik ini berpotensi memperkuat posisi dolar AS sebagai aset safe haven dan menekan nilai tukar mata uang negara berkembang.
Prediksi Pergerakan Rupiah
Ariston memprediksi bahwa nilai tukar rupiah hari ini masih memiliki peluang untuk menguat ke level Rp16.300 per dolar AS, didukung oleh sentimen positif dari data ekonomi domestik dan stimulus China. Namun, jika kekhawatiran terhadap perang dagang dan ketegangan geopolitik meningkat, rupiah bisa kembali melemah ke kisaran Rp16.450 per dolar AS.
“Kita masih harus melihat bagaimana dinamika global ke depan, terutama kebijakan moneter The Fed serta perkembangan ekonomi AS dan China, yang menjadi faktor dominan dalam pergerakan nilai tukar rupiah,” tutupnya. (*)
Leave a comment