Home Pasar Harga Emas Tertekan, Menuju Pekan Terburuk dalam Tiga Bulan
Pasar

Harga Emas Tertekan, Menuju Pekan Terburuk dalam Tiga Bulan

Share
Ketidakpastian tarif Amerika picu lonjakan harga emas. Investor beralih ke logam kuning sebagai aset aman
Emas batangan (Pixabay)
Share

Harga Emas Anjlok, Penguatan Dolar AS Jadi Faktor Utama

Jakarta, Danantaranews.id – Harga emas mengalami tekanan signifikan pada pekan ini, dengan penurunan 3,1%—terburuk sejak November. Pada perdagangan Jumat (28/2), harga emas spot turun 1% ke level $2.846,19 per ons pada pukul 01:44 ET (1844 GMT), sementara emas berjangka AS ditutup 1,6% lebih rendah di level $2.848,50.

Penyebab utama kejatuhan harga emas adalah penguatan dolar AS. Indeks dolar (.DXY) terus menguat sepanjang pekan, membuat emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.

Ekspektasi The Fed dan Aksi Ambil Untung Tekan Harga Emas

Data inflasi AS terbaru sesuai ekspektasi, dengan Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) naik 0,3% pada Januari, sama seperti Desember. Hal ini memperkuat spekulasi bahwa Federal Reserve akan berhati-hati dalam memangkas suku bunga lebih lanjut.

“Saya pikir faktor utama yang memengaruhi pasar emas dan perak adalah aksi ambil untung serta penguatan dolar AS,” kata Jim Wyckoff, analis pasar senior di Kitco Metals.

Suku bunga yang lebih tinggi mengurangi daya tarik emas, karena aset ini tidak memberikan imbal hasil. Meskipun demikian, pedagang kontrak berjangka masih mempertahankan ekspektasi bahwa The Fed akan mulai menurunkan suku bunga pada Juni.

Tekanan dari Pasar Saham dan Ketidakpastian Kebijakan Trump

Pasar saham utama di Wall Street dibuka lesu, meningkatkan tekanan deleveraging pada emas. “Kerugian di pasar saham telah memicu tekanan tambahan pada emas, memperpanjang penurunan sejak rekor tertinggi pada Senin,” ujar Peter Grant, Wakil Presiden dan Strategis Logam Senior di Zaner Metals.

Selain itu, ketidakpastian terkait kebijakan tarif Presiden Trump juga memengaruhi sentimen pasar. Trump mengumumkan tarif impor baru sebesar 25% untuk barang-barang dari Meksiko dan Kanada yang akan berlaku mulai 4 Maret, serta tambahan 10% untuk produk dari Tiongkok.

Outlook Pasar Emas: Masih Ada Potensi Kenaikan?

Meskipun mengalami tekanan dalam jangka pendek, emas tetap dalam tren bullish secara bulanan, mencatat kenaikan dua bulan berturut-turut sebagai aset safe-haven. Prospek emas masih akan bergantung pada perkembangan kebijakan The Fed dan stabilitas ekonomi global.

Di sisi lain, harga logam mulia lainnya juga mengalami pelemahan:

  • Perak turun 0,8% menjadi $31 per ons.
  • Platinum turun 1,1% menjadi $938,50 per ons.
  • Paladium turun 0,6% menjadi $914 per ons.

Ketiga logam tersebut diperkirakan akan mencatatkan penurunan bulanan, sejalan dengan tekanan yang dialami emas.

Disclaimer: Artikel ini hanya bersifat informatif dan bukan rekomendasi investasi

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Bursa Efek Indonesia Diujung Tanduk! Skandal Transparansi Picu IHSG Longsor 8 Persen

Jakarta, danantaranews.id – Badai besar tengah menerjang pasar modal tanah air. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun bebas hingga 8 persen pada penutupan...

Trump Mengamuk! Ancam Kenakan Tarif Impor Tambahan bagi Negara yang Tolak Pencaplokan Greenland

Jakarta, danantaranews.id – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, kembali mengguncang panggung perdagangan global dengan ancaman yang sangat berani! Dalam pernyataan terbarunya, sang petahana...

Related Articles

Jadwal RUPS Emiten 11-15 Mei 2026: WIKA, Garuda hingga Chandra Asri Bersiap Ambil Keputusan Strategis

Jakarta, Danantaranews.id – Sejumlah emiten besar di Bursa Efek Indonesia (BEI) bersiap...

Skema Bagi Hasil Minerba Dikritik API-IMA, Industri Tambang RI Dinilai Bisa Kehilangan Daya Saing

Jakarta, Danantaranews.id – Wacana Kementerian ESDM untuk menerapkan skema bagi hasil di...

Harga CPO Masih Tertahan, Trader Global Bersiap Sambut Data Stok Sawit Malaysia

Jakarta, Danantaranews.id – Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO)...

Saham Properti Masih Berdarah, Laba Developer Turun Meski Penjualan Rumah Premium Tetap Laris

Jakarta, Danantaranews.id – Kinerja sektor properti pada kuartal I-2026 masih menghadapi tekanan....