Surabaya, danantaranews.id – Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina tancap gas memperkuat rantai pasok industri hulu migas nasional. Strategi tersebut mengemuka dalam Supplier Engagement Day 2026 yang berlangsung di Surabaya pada 28–29 Juli 2026.
Forum bertema “Collaborating for Resilient Supply Chain, Strong National Capacity, and Sustainable Energy Future” itu mempertemukan perusahaan dengan para penyedia barang dan jasa (PBJ). Sebanyak 168 perusahaan mengirimkan 492 peserta yang terdiri dari mitra kerja, pemangku kepentingan, dan jajaran manajemen Pertamina.
Tiga Fokus Jadi Senjata Utama
Supplier Engagement Day 2026 menjadi momentum untuk memperkuat kemampuan vendor sekaligus memperluas kerja sama strategis. Regional Indonesia Timur ingin membangun rantai pasok yang tangguh, adaptif, kompetitif, dan mampu menopang operasi hulu migas secara berkelanjutan.
Regional Indonesia Timur menetapkan tiga fokus utama dalam forum tersebut. Pertama, perusahaan mendorong kolaborasi dengan PBJ untuk meningkatkan daya saing industri pendukung hulu migas di dalam negeri.
Kedua, transformasi digital menjadi perhatian untuk mempercepat dan menyederhanakan proses pengadaan. Pemanfaatan teknologi juga diharapkan mampu meningkatkan efektivitas rantai pasok.
Ketiga, perusahaan memperkuat penerapan Safety, Security, Health, and Environment (SSHE). Aspek tersebut menjadi fondasi untuk menciptakan rantai pasok yang aman, andal, serta berkelanjutan.
TKDN dan Produk Lokal Didorong
Senior Manager Supply Chain Management Regional Indonesia Timur Harmadi mengatakan forum tersebut menjadi ruang penting untuk meningkatkan daya saing rantai pasok nasional. Perusahaan juga mendorong peningkatan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) melalui kolaborasi bersama mitra.
“Melalui Supplier Engagement Day ini, kami terus mendorong penguatan kapasitas nasional melalui peningkatan TKDN, digitalisasi proses bisnis, serta membangun ruang dialog yang konstruktif bersama para mitra kerja,” ujar Harmadi.
Ia menambahkan, proses pengadaan mengacu pada Pedoman Tata Kerja (PTK) 007 SKK Migas. Ketentuan tersebut menjadi landasan untuk menjaga proses pengadaan tetap transparan, akuntabel, dan berkelanjutan.
Mitra Jadi Kunci Ketahanan Energi
Direktur Regional Indonesia Timur Ruby Mulyawan menilai penyedia barang dan jasa memegang posisi strategis dalam menjaga kelancaran operasi hulu migas. Dukungan mitra juga berperan dalam memperkuat ketahanan energi nasional.
Ruby menekankan pentingnya membangun kemitraan berdasarkan kepercayaan, keterbukaan, dan kolaborasi jangka panjang. Menurutnya, sinergi tersebut dapat memperkuat rantai pasok sekaligus meningkatkan penggunaan Produk Dalam Negeri (PDN).
“Keberhasilan operasi hulu migas tidak dapat dicapai tanpa dukungan para mitra kerja,” kata Ruby.
Karena itu, Regional Indonesia Timur terus membuka ruang kerja sama dengan para mitra strategis. Kolaborasi tersebut diharapkan memberikan kontribusi nyata terhadap ketahanan energi Indonesia.
Integritas Pengadaan Jadi Harga Mati
Selain mengejar penguatan kapasitas nasional, Regional Indonesia Timur menaruh perhatian besar pada tata kelola pengadaan. Perusahaan menegaskan komitmen menerapkan Good Corporate Governance (GCG) dan budaya zero tolerance against fraud dalam seluruh proses bisnis.
PT Pertamina EP Cepu menjadi salah satu contoh implementasi komitmen tersebut. Perusahaan telah menerapkan ISO 37001:2016 Sistem Manajemen Anti Penyuapan (SMAP) sejak 2019 untuk memperkuat integritas dan transparansi dalam proses pengadaan.
Manager Compliance Board Support Regional Indonesia Timur Edy Purnomo mengajak seluruh mitra kerja menjaga etika bisnis dan mematuhi peraturan yang berlaku. Ia juga mendorong mitra bersama-sama membangun tata kelola perusahaan yang bersih dan berintegritas.
“Kami percaya bahwa rantai pasok yang kuat harus dibangun di atas fondasi integritas,” ujar Edy.
Rantai Pasok Hulu Migas Makin Strategis
Gelaran Supplier Engagement Day 2026 memperlihatkan bahwa penguatan industri hulu migas tidak hanya bergantung pada kegiatan produksi. Kapasitas vendor, digitalisasi, penggunaan produk dalam negeri, keselamatan, serta integritas pengadaan ikut menentukan ketangguhan rantai pasok.
Dengan menggabungkan aspek tersebut, Regional Indonesia Timur ingin menciptakan ekosistem pengadaan yang sehat dan kredibel. Langkah itu sekaligus mendukung keberlanjutan operasi hulu migas dan memperkuat kapasitas nasional.
Forum tersebut turut dihadiri Direktur Regional Indonesia Timur Ruby Mulyawan, jajaran SKK Migas, Vice President Supply Chain Management PT Pertamina Hulu Energi Bongbongan Tampubolon, manajemen Subholding Upstream Group, serta mitra strategis lainnya. (*)
Leave a comment