Jakarta, danantaranews.id – PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) mulai mengarahkan potensi biomassa Indonesia ke bisnis energi masa depan. Dari sekitar 80 juta ton biomassa yang tersedia setiap tahun, sebanyak 60 juta ton masih belum termanfaatkan.
Potensi besar tersebut kini menjadi modal PLN EPI untuk membangun ekosistem biohidrogen. Langkah ini diharapkan mampu mempercepat dekarbonisasi sektor energi sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional.
60 Juta Ton Biomassa Jadi Amunisi Biohidrogen
Direktur Biomassa PLN EPI Hokkop Situngkir mengatakan, Indonesia memiliki keunggulan berupa ketersediaan biomassa dalam jumlah besar. Dari total potensi sekitar 80 juta ton per tahun, baru sekitar 20 juta ton yang telah dimanfaatkan.
Artinya, masih ada sekitar 60 juta ton biomassa yang dapat dikembangkan menjadi berbagai produk energi rendah karbon. Peluang tersebut mencakup biohidrogen, biochar, biogas, biomethane, hingga produk bioenergi bernilai tambah lainnya.
“Peluang pengembangan bioenergi masih sangat besar. Biomassa tidak hanya dapat dimanfaatkan untuk program co-firing PLTU, tetapi juga menjadi bahan baku biohidrogen, biochar, biogas, biomethane, hingga berbagai produk bioenergi bernilai tambah lainnya,” jelas Hokkop.
Hokkop menyampaikan peluang tersebut dalam konferensi bertema Low Carbon Hydrogen & Ammonia Distribution pada Global Hydrogen Ecosystem Summit & Exhibition (GHES) 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Rabu (22/7).
PLN EPI Tak Lagi Hanya Andalkan Energi Fosil
Sebagai subholding energi primer PLN, PLN EPI selama ini memiliki tugas memastikan ketersediaan energi bagi pembangkit listrik. Namun, arah bisnis perusahaan kini semakin luas dengan memasukkan biomassa, bioenergi, hidrogen, dan amonia dalam strategi transisi energi.
Menurut Hokkop, kebutuhan energi pembangkit pada masa depan tidak hanya bergantung pada batu bara, gas bumi, dan BBM. Karena itu, pengembangan sumber energi rendah karbon menjadi bagian penting dalam menyiapkan sistem energi yang lebih beragam.
“PLN EPI bertugas memastikan seluruh molekul energi yang dibutuhkan pembangkit tersedia. Ke depan kami tidak hanya berbicara energi fosil, tetapi juga biomassa, bioenergi, hidrogen, dan amonia sebagai bagian dari transisi energi nasional,” ujar Hokkop.
Limbah Sawit Ikut Dibidik Jadi Bahan Bakar Masa Depan
Selain biomassa padat, PLN EPI juga melihat peluang besar dari industri kelapa sawit. Indonesia memiliki sekitar 3.000 pabrik kelapa sawit yang menghasilkan limbah Palm Oil Mill Effluent atau POME.
Limbah tersebut berpotensi menjadi bahan baku biogas dan biohidrogen. Dengan begitu, pemanfaatan limbah perkebunan dapat sekaligus meningkatkan nilai tambah dan memperkuat diversifikasi energi.
Sejak 2022, PLN EPI telah membangun ekosistem biomassa melalui kerja sama dengan pemerintah daerah, kelompok tani, koperasi, BUMDes, dan pelaku usaha swasta. Biomassa yang terkumpul kemudian diproses melalui berbagai fasilitas sebelum digunakan sebagai bahan bakar co-firing pada pembangkit listrik tenaga uap atau PLTU.
Perusahaan juga mengembangkan Compressed Biogas (CBG) berbasis limbah sawit, biochar, serta berbagai inisiatif waste-to-energy. Berbagai langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat rantai pasok bioenergi nasional.
Roadmap Biohidrogen PLN EPI Dimulai Bertahap
Dalam roadmap pengembangan bioenergi, PLN EPI menempatkan hidrogen dan amonia sebagai salah satu pilar bisnis masa depan. Pengembangan teknologi pada periode 2026–2030 akan mencakup studi kelayakan, proyek percontohan, hingga uji coba pemanfaatan hidrogen dan amonia pada pembangkit listrik.
Tahapan tersebut menjadi fondasi sebelum PLN EPI masuk ke fase komersialisasi. Perusahaan menilai pengembangan ekosistem perlu berjalan bertahap agar kesiapan teknologi, rantai pasok, dan pasar dapat tumbuh secara beriringan.
Hokkop menegaskan, pengembangan biohidrogen membutuhkan dukungan banyak pihak. Pemerintah, penyedia teknologi, lembaga pembiayaan, akademisi, dan industri pengguna perlu membangun kolaborasi agar potensi biomassa dapat berkembang menjadi industri hidrogen rendah karbon.
“Kami telah menyiapkan roadmap serta membangun kemitraan dengan berbagai penyedia teknologi. Tantangan berikutnya adalah membangun ekosistem yang kuat melalui kolaborasi agar potensi biomassa Indonesia dapat dioptimalkan menjadi fondasi industri hidrogen rendah karbon di masa depan,” ujarnya.
Gandeng 16 Mitra untuk Bangun Rantai Pasok
Untuk mempercepat pengembangan ekosistem tersebut, PLN EPI telah menjalin kerja sama dengan lebih dari 16 mitra strategis. Kolaborasi itu mencakup pengembangan biomassa, biohidrogen, electro-Sustainable Aviation Fuel atau eSAF, hingga green ammonia.
Salah satu kerja sama berlangsung dengan eFuels SEA Pte Ltd dari Singapura untuk mengembangkan biohidrogen menuju produksi eSAF. PLN EPI juga bekerja sama dengan CISRI Hypore dari Tiongkok bersama PT Pupuk Indonesia (Persero) dalam studi pengembangan biohidrogen dan green ammonia.
Kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa pengembangan biohidrogen tidak berhenti pada pemanfaatan bahan baku. PLN EPI juga mulai membangun jaringan teknologi dan mitra untuk mengembangkan produk energi rendah karbon yang memiliki nilai tambah lebih besar.
Target Besar hingga 2060
Dalam jangka panjang, PLN EPI menargetkan ekosistem hidrogen dan amonia dapat mendukung kebutuhan pembangkit listrik sekaligus menekan emisi dari sektor industri. Penggunaannya diarahkan untuk sektor seperti semen, baja, dan petrokimia.
Perusahaan juga membuka peluang pengembangan pasar hidrogen rendah karbon di tingkat regional. Untuk mencapai target tersebut, PLN EPI membagi pengembangan dalam tiga fase utama.
Fase inisiasi berlangsung pada 2025–2034, kemudian dilanjutkan dengan fase integrasi pada 2035–2044. Setelah itu, pengembangan memasuki fase akselerasi dan komersialisasi penuh pada 2045–2060.
Strategi tersebut menempatkan biomassa sebagai salah satu sumber daya penting dalam perjalanan transisi energi Indonesia. Dengan mengolah potensi yang selama ini belum termanfaatkan, PLN EPI berupaya menciptakan rantai nilai baru dari sektor energi primer.
Biohidrogen Jadi Senjata Baru Transisi Energi
Pengembangan biohidrogen berbasis biomassa menjadi salah satu langkah PLN EPI dalam memperkuat peran energi primer rendah karbon. Strategi ini juga membuka peluang untuk mengubah limbah pertanian dan perkebunan menjadi sumber energi bernilai ekonomi.
Optimalisasi 60 juta ton biomassa yang belum termanfaatkan berpotensi memberikan dampak luas bagi sektor energi. Selain mendukung pengurangan emisi gas rumah kaca, langkah tersebut dapat memperkuat ketahanan energi dan mendorong pertumbuhan industri hijau.
PLN EPI juga menilai pengembangan ekosistem ini dapat mendukung target Net Zero Emissions (NZE) 2060. Karena itu, pengembangan biomassa, biohidrogen, dan turunannya akan terus diarahkan untuk membangun industri energi rendah karbon yang memiliki daya saing di tingkat global.
Dengan roadmap jangka panjang dan kolaborasi lintas sektor, PLN EPI kini menyiapkan fondasi bisnis energi yang tidak hanya mengandalkan sumber fosil. Potensi biomassa nasional pun mulai diposisikan sebagai salah satu amunisi penting untuk menghadapi era hidrogen rendah karbon. (*)
Leave a comment