Jakarta, danantaranews.id – Cita-cita Indonesia Emas 2045 bukan cuma wacana di atas kertas. Pemerintah kini tengah menjalankan langkah konkret lewat program yang cukup revolusioner: pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP). Program ini bukan sekadar bikin koperasi baru, tapi juga memperkuat fondasi ekonomi dari tingkat paling dasar, yaitu masyarakat desa dan kelurahan.
1. Koperasi model baru, bukan sekadar kumpulan warung
Selama ini, koperasi identik dengan toko serba ada atau simpan pinjam biasa. Nah, KDMP/KKMP hadir dengan pendekatan yang jauh lebih modern dan terstruktur. Inisiatifnya datang langsung dari pemerintah pusat lewat Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025, tapi tetap disesuaikan dengan potensi lokal.
Salah satu contohnya ada di Depok. Ketua Koperasi Merah Putih Kelurahan Mekarjaya, Zulkardi Lefrant, bilang bahwa koperasi mereka dibentuk lewat musyawarah, pemilihan pengurus, lalu disesuaikan dengan potensi wilayah seperti pengelolaan sampah, distribusi sembako, hingga layanan digital.
2. Demokratis dan berbasis gotong royong
Berbeda dengan BUMDes yang dikelola pemerintah desa, KDMP/KKMP mengedepankan pengambilan keputusan secara demokratis melalui rapat anggota. Koperasi ini juga punya badan hukum yang kuat dan dapat dukungan modal dari pusat. Gak heran kalau banyak daerah mulai tertarik menerapkannya.
Yang menarik, koperasi ini dirancang untuk menghidupkan kembali semangat gotong royong di tengah masyarakat urban dan semi-urban. Jadi bukan cuma tentang bisnis, tapi juga membangun solidaritas sosial.
3. Memotong rantai distribusi biar harga lebih adil
Salah satu tujuan utama dari koperasi ini adalah memperpendek rantai distribusi barang. Koperasi bisa menjadi jembatan langsung antara produsen dan pembeli, sehingga harga bisa lebih murah untuk konsumen, dan keuntungan lebih besar untuk petani atau UMKM.
Zulkardi menyebut, koperasi di Depok justru ingin jadi pemasok bagi warung dan toko kelontong. Jadi bukan saingan, melainkan mitra yang saling mendukung.
4. Cerita sukses dari Depok dan Jakarta Selatan
Di Depok, koperasi Merah Putih sudah menjalankan beberapa lini usaha, mulai dari sembako, pengelolaan sampah, hingga layanan digital. Mereka bahkan bikin aplikasi sendiri yang terhubung dengan sistem e-wallet menggunakan NIK. Setiap transaksi dikenakan biaya admin Rp2.000, dan sebagian masuk ke kas koperasi.
Sementara di Melawai, Jakarta Selatan, koperasi dikembangkan sebagai toko ritel modern yang menjual produk UMKM dan kebutuhan pokok. Dalam waktu dua minggu, sudah ada 700 ribu transaksi yang tercatat.
“Target kami bukan sekadar menjual produk, tapi membangun ekosistem retail berbasis koperasi,” kata Paiman, Ketua Koperasi Merah Putih Melawai.
5. Didukung penuh pemerintah dan teknologi digital
Pemerintah memberi dukungan berupa bantuan alat, seperti komputer dan printer senilai Rp30 juta per koperasi. Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital juga terlibat lewat pelatihan literasi digital dan pengembangan jaringan internet di desa-desa.
Seluruh transaksi dan data koperasi disimpan dalam sistem terpusat yang bisa diawasi secara transparan. Jadi, kecil kemungkinan terjadi penyelewengan dana atau manipulasi.
6. Ada juga Klinik Koperasi untuk layanan kesehatan masyarakat
KDMP/KKMP bukan cuma fokus di sektor ekonomi. Mereka juga merambah ke bidang kesehatan lewat Klinik Koperasi Merah Putih (KDKMP). Klinik ini bekerja sama dengan Puskesmas, melayani imunisasi, pengobatan ringan, edukasi kesehatan, bahkan skrining penyakit.
Klinik ini bisa melayani semua warga, tanpa syarat harus jadi anggota koperasi. Di daerah 3T, layanan ini bahkan bisa gratis berkat dukungan program BPJS dan pemerintah.
7. Targetnya 267 koperasi aktif di Jakarta
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan pembentukan 267 koperasi Merah Putih di seluruh kelurahan. Koperasi Melawai dijadikan pilot project. Ke depan, koperasi ini akan terhubung dengan Bank Mandiri, Bank DKI, hingga BUMN seperti Pertamina untuk memperkuat suplai barang dan sistem keuangan.
KDMP/KKMP adalah langkah nyata mewujudkan ekonomi kerakyatan berbasis teknologi. Kalau program ini berhasil, bukan gak mungkin koperasi kembali jadi tulang punggung ekonomi Indonesia—seperti yang dulu dicita-citakan Bung Hatta. (*)
Leave a comment