Home Pasar Rupiah Menguat Usai Negosiasi Tarif RI-AS, Analis Soroti Sentimen The Fed dan BRICS
Pasar

Rupiah Menguat Usai Negosiasi Tarif RI-AS, Analis Soroti Sentimen The Fed dan BRICS

Share
Rupiah menguat ke Rp16.293 per dolar AS usai pidato dovish pejabat The Fed. Pasar menanti keputusan suku bunga pada akhir Juli
Ilustrasi Rupiah (Foto by pexels-robert-lens)
Share

Jakarta, danantaranews.id – Penguatan nilai tukar rupiah tengah menarik perhatian pasar. Apa pemicunya? Bagaimana kaitannya dengan negosiasi tarif Indonesia-Amerika Serikat (AS) dan sentimen global seperti kebijakan The Fed? Simak ulasan lengkapnya berikut ini agar kamu tidak ketinggalan perkembangan ekonomi terbaru, seperti dilansir dari berbagai sumber pada Kamis (10/7/2025).

Rupiah Menguat 34 Poin, Pasar Respon Positif Negosiasi Tarif

Nilai tukar rupiah berhasil menguat terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (10/7/2025). Rupiah ditutup naik 34 poin atau 0,21 persen di level Rp16.224 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp16.258 per dolar AS.

Tak hanya di pasar spot, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga mengalami apresiasi, menguat ke Rp16.220 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.254 per dolar AS.

Direktur Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuabi, mengungkapkan bahwa penguatan rupiah terjadi karena respons positif pasar terhadap kabar terbaru negosiasi tarif antara Indonesia dan AS. Menurutnya, pasar melihat peluang besar tercapainya kesepakatan yang bisa menguntungkan kedua pihak.

“Bahkan, komunikasi kedua belah pihak terus dibangun agar mendapatkan win‑win solution,” ujar Ibrahim dalam keterangan tertulis di Jakarta.

Negosiasi Tarif RI‑AS Jadi Kunci Stabilitas Rupiah

Indonesia dan AS sepakat melanjutkan perundingan tarif dalam tiga minggu ke depan. Langkah ini diambil menyusul kebijakan Presiden AS Donald Trump yang menetapkan tarif 32 persen atas produk ekspor Indonesia pada 7 Juli 2025.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memimpin delegasi Indonesia dalam pertemuan dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick dan Kepala USTR Jamieson Greer di Washington D.C. Pertemuan itu diharapkan mengokohkan kerja sama dagang dan meminimalkan gejolak nilai tukar.

“Pertemuan ini menjadi langkah penting dalam upaya memperkuat kerja sama perdagangan antara Indonesia dan AS,” kata Airlangga.

Isu Strategis yang Dibahas: Dari Ekonomi Digital hingga Mineral Kritis

Selain tarif, negosiasi juga mencakup hambatan non‑tarif, ekonomi digital, keamanan ekonomi, hingga peluang investasi. Salah satu fokus utama adalah pengembangan sektor mineral kritis—nikel, tembaga, dan kobalt—yang dibutuhkan AS untuk industri baterai kendaraan listrik.

“AS menunjukkan ketertarikan kuat memperkuat kemitraan di bidang mineral kritis. Indonesia memiliki cadangan besar, dan kita perlu mengoptimalkan potensi kerja sama pengolahan mineral tersebut,” papar Airlangga.

Dampak Keanggotaan Indonesia di BRICS Terhadap Perdagangan

Ibrahim Assuabi menilai, kebijakan tarif ini juga terkait keanggotaan Indonesia di BRICS. “Sejak tarif 32 persen diberlakukan pasca BRICS, pemerintah aktif menyiapkan skema deregulasi hingga peningkatan impor AS. Namun hingga kini belum ada sinyal perubahan dari Washington,” ujarnya.

Upaya deregulasi dan diplomasi dagang diharapkan meredam tekanan rupiah di tengah ketidakpastian global.

Sentimen The Fed Juga Ikut Mempengaruhi Rupiah

Tak hanya negosiasi tarif, kebijakan moneter AS turut memengaruhi rupiah. Ibrahim menyebut banyak pejabat The Fed mempertimbangkan penurunan suku bunga pada FOMC berikutnya, mengingat tekanan inflasi yang mereda dan potensi perlambatan ekonomi.

“Namun sebagian pejabat The Fed masih menilai suku bunga perlu dipertahankan sepanjang 2025. Inilah yang membuat pasar, termasuk rupiah, bergerak dinamis,” terang Ibrahim.

Outlook Rupiah Masih Waspada

Meskipun menguat, rupiah berpotensi kembali tertekan jika negosiasi tarif tidak mencapai titik temu atau The Fed tidak menurunkan suku bunga. “Rupiah bisa lebih menguat jika ada sinyal positif dari negosiasi RI‑AS, tapi risiko masih tinggi,” pungkas Ibrahim.

Pelaku pasar serta pelaku usaha disarankan memantau perkembangan tarif dan kebijakan global agar dapat mengantisipasi fluktuasi nilai tukar. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

DETIK-DETIK RAKSASA KONSTRUKSI LAHIR! BUMN Karya Merger: BP BUMN Pede Rampung Desember 2025

Jakarta, danantaranews.id – Kabar sensasional datang dari jantung kebijakan perusahaan pelat merah! Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sedang dalam mode...

Kreativitas Ala Negeri 1001 Malam: SD Al Azhar Kelapa Gading Cetak Generasi Anti-Bullying dengan Kurikulum Berbasis Project

Jakarta, danantaranews.id – SD Islam Al Azhar Kelapa Gading baru-baru ini mencuri perhatian publik dengan menyelenggarakan acara puncak tahunan mereka, Alazfair 2025, pada...

Related Articles

Siaga Satu! Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Mendadak Goyang

Jakarta, danantaranews.id – Pasar energi global sedang berada di ujung tanduk. Harga...

Kurs Rupiah Tertekan Risiko Perang AS-Iran, Cek Posisi Mata Uang Garuda Hari Ini!

Jakarta, danantaranews.id – Pasar keuangan global mendadak tegang. Nilai tukar rupiah terpaksa...

Negosiasi Iran-AS Menemui Jalan Buntu, Harga Minyak Dunia Langsung Melambung Akibat Risiko Konflik

Jakarta, danantaranews.id – Harga minyak dunia menutup perdagangan akhir pekan dengan tren...

Reformasi Pasar Modal Indonesia: Ashmore Optimis Dampak Struktural Positif Meski IHSG Tertekan

Jakarta, danantaranews.id – Pasar modal Indonesia melewati pekan pertama Februari 2026 dengan...