Home Pasar Ketegangan Iran-IAEA Dorong Harga Minyak Naik, Pasar Cemas Risiko Pasokan
Pasar

Ketegangan Iran-IAEA Dorong Harga Minyak Naik, Pasar Cemas Risiko Pasokan

Share
Ketegangan Iran-IAEA Dorong Harga Minyak Naik, Pasar Cemas Risiko Pasokan
Fasilitas minyak lepas pantai (Dok. Pertamina)
Share

Jakarta, danantaranews.id – Harga minyak dunia kembali jadi sorotan. Rabu (2/7/2025) waktu New York atau Kamis (3/7/2025) pagi WIB, harga minyak melonjak sekitar 3 persen setelah Iran memutuskan menghentikan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Situasi ini memicu kekhawatiran pasar soal stabilitas pasokan minyak di kawasan Timur Tengah.

Brent, patokan minyak dunia, ditutup melesat USD2,00 atau 3 persen menjadi USD69,11 per barel. Sementara West Texas Intermediate (WTI) yang menjadi acuan Amerika Serikat, naik USD2,00 atau 3,1 persen ke posisi USD67,45 per barel. Seperti dilansir Reuters, harga Brent sempat bergerak di rentang USD66,34 hingga USD69,21 per barel, level tertinggi sejak 25 Juni lalu.

Iran Putuskan Hubungan dengan IAEA, Pasar Waspada

Iran memperketat aturan soal inspeksi fasilitas nuklir. Pemerintah Iran memberlakukan undang-undang yang mengharuskan setiap kunjungan IAEA ke fasilitas nuklirnya mendapat persetujuan Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran. Langkah ini diambil karena Iran menilai IAEA condong memihak Barat dan digunakan sebagai alasan untuk melancarkan serangan Israel.

“Pasar saat ini sudah memperhitungkan adanya risiko geopolitik akibat langkah Iran terhadap IAEA,” ungkap Giovanni Staunovo, analis energi dari UBS, dikutip Reuters. Namun ia menekankan, hingga kini belum ada gangguan langsung pada pasokan minyak dunia. “Ini soal sentimen pasar,” tambahnya.

AS-Vietnam Sepakat Dagang, Pasar Minyak Ikut Bergairah

Selain ketegangan di Timur Tengah, kabar baik datang dari arena perdagangan. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bersama media pemerintah Vietnam mengumumkan kesepakatan dagang penting. Kesepakatan ini mengatur tarif 20 persen pada berbagai ekspor Vietnam setelah negosiasi alot yang berjalan hingga menit-menit terakhir.

“Sentimen risiko pasar tampak menguat setelah adanya kesepakatan tarif yang lebih jelas antara AS dan Vietnam hari ini,” kata analis Ritterbusch and Associates dalam laporan yang dikutip Reuters. Kesepakatan ini diharapkan memberi dorongan pada perdagangan global, termasuk sektor energi.

Stok Minyak AS Melonjak, Membatasi Kenaikan Harga

Sayangnya, kenaikan harga minyak sedikit tertahan karena laporan mengejutkan dari Badan Informasi Energi (EIA) Amerika Serikat. Lembaga ini mencatat stok minyak mentah AS naik 3,8 juta barel menjadi 419 juta barel pada pekan lalu. Padahal, dalam jajak pendapat Reuters, analis justru memperkirakan penurunan 1,8 juta barel.

Permintaan bensin juga melemah. Konsumsi bahan bakar Negeri Paman Sam turun menjadi 8,6 juta barel per hari. Ini jauh di bawah ambang batas sehat yang biasanya berada di level 9 juta barel per hari pada musim panas.

“Selama musim panas, angka 9 juta barel per hari itu batas psikologis untuk pasar yang sehat,” ujar Bob Yawger, Direktur Energi Mizuho. “Saat ini kita masih jauh dari level itu. Ini bukan pertanda baik bagi pasar minyak,” tambahnya.

OPEC+ Sudah Rencanakan Tambahan Pasokan

Di sisi lain, OPEC+ juga memainkan peran penting dalam dinamika pasar. Priyanka Sachdeva, analis Phillip Nova, menjelaskan bahwa rencana peningkatan pasokan OPEC+ sudah diprediksi pasar. “Rencana penambahan pasokan ini tidak akan mengejutkan pasar lagi dalam waktu dekat,” katanya.

Empat sumber OPEC+ mengungkap kepada Reuters bahwa grup tersebut berniat meningkatkan produksi sebesar 411 ribu barel per hari bulan depan, sama seperti tambahan produksi yang disepakati untuk Mei, Juni, dan Juli.

Arab Saudi juga tercatat menaikkan ekspor minyaknya pada Juni sebesar 450 ribu barel per hari dibanding Mei, berdasarkan data Kpler. Namun secara keseluruhan, ekspor OPEC+ terpantau relatif stabil hingga sedikit menurun sejak Maret. Staunovo memprediksi tren ini akan terus berlanjut karena cuaca panas mendorong permintaan energi lebih tinggi, terutama di Timur Tengah.

The Fed Jadi Penentu Arah Selanjutnya

Faktor lain yang juga memengaruhi harga minyak adalah kebijakan suku bunga di Amerika Serikat. Tony Sycamore, analis IG, menuturkan laporan ketenagakerjaan yang akan dirilis Kamis waktu setempat bakal membentuk ekspektasi pelaku pasar mengenai seberapa dalam dan cepat The Fed memangkas suku bunga di paruh kedua 2025.

“Suku bunga yang lebih rendah bisa memicu aktivitas ekonomi lebih tinggi, dan pada akhirnya akan meningkatkan permintaan minyak,” jelas Tony.

Dengan kondisi geopolitik yang masih penuh ketidakpastian dan faktor ekonomi global yang dinamis, pasar minyak tampaknya akan terus bergerak fluktuatif dalam waktu dekat. Kita tunggu saja, ke mana arah harga minyak berikutnya! (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

DETIK-DETIK RAKSASA KONSTRUKSI LAHIR! BUMN Karya Merger: BP BUMN Pede Rampung Desember 2025

Jakarta, danantaranews.id – Kabar sensasional datang dari jantung kebijakan perusahaan pelat merah! Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) sedang dalam mode...

Kreativitas Ala Negeri 1001 Malam: SD Al Azhar Kelapa Gading Cetak Generasi Anti-Bullying dengan Kurikulum Berbasis Project

Jakarta, danantaranews.id – SD Islam Al Azhar Kelapa Gading baru-baru ini mencuri perhatian publik dengan menyelenggarakan acara puncak tahunan mereka, Alazfair 2025, pada...

Related Articles

Siaga Satu! Selat Hormuz Memanas, Harga Minyak Dunia Mendadak Goyang

Jakarta, danantaranews.id – Pasar energi global sedang berada di ujung tanduk. Harga...

Kurs Rupiah Tertekan Risiko Perang AS-Iran, Cek Posisi Mata Uang Garuda Hari Ini!

Jakarta, danantaranews.id – Pasar keuangan global mendadak tegang. Nilai tukar rupiah terpaksa...

Negosiasi Iran-AS Menemui Jalan Buntu, Harga Minyak Dunia Langsung Melambung Akibat Risiko Konflik

Jakarta, danantaranews.id – Harga minyak dunia menutup perdagangan akhir pekan dengan tren...

Reformasi Pasar Modal Indonesia: Ashmore Optimis Dampak Struktural Positif Meski IHSG Tertekan

Jakarta, danantaranews.id – Pasar modal Indonesia melewati pekan pertama Februari 2026 dengan...