Khairi Fuady adalah sosok profesional muda yang menapaki perjalanan karier di sejumlah ruang strategis: pemerintahan, korporasi, hubungan internasional, hingga dunia keumatan. Latar belakang tersebut membentuk cara pandangnya yang luas melihat Indonesia bukan hanya dari ruang kebijakan dan institusi, tetapi juga dari dinamika dunia yang terus bergerak.
Saat ini, Khairi berkiprah sebagai Senior Advisor PT Telkom Indonesia Tbk. Ia juga dipercaya sebagai Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional Majelis Ulama Indonesia (MUI). Dua ruang yang berbeda, namun bertemu pada satu titik: bagaimana membangun manusia, institusi, dan kerja sama yang mampu menjawab tantangan zaman.
Sebelum berkiprah di dunia korporasi, Khairi memiliki pengalaman di lingkungan pemerintahan. Ia pernah menjabat sebagai Tenaga Ahli Wakil Menteri Pertanian Republik Indonesia, sebuah pengalaman yang mempertemukannya dengan dinamika kebijakan publik dan berbagai persoalan strategis pembangunan nasional. Ia juga pernah bertugas sebagai Assistant to Presidential Special Staff di Sekretariat Kabinet Republik Indonesia, yang memberinya kesempatan untuk melihat dari dekat bagaimana gagasan, kebijakan, dan kepentingan publik diterjemahkan menjadi kerja pemerintahan.
Namun, jejak Khairi tidak berhenti di dalam negeri. Ketertarikannya pada hubungan internasional membawanya menjadi Co-Founder Indonesia South-South Foundation (ISSF), sebuah wadah yang memberi perhatian pada penguatan kerja sama Selatan-Selatan dan berbagai agenda strategis global. Di ruang ini, ia melihat hubungan antarbangsa bukan semata tentang diplomasi dan kepentingan, tetapi juga tentang bagaimana negara-negara dapat saling belajar, bertukar pengalaman, dan tumbuh bersama.
Perhatian terhadap dunia internasional itu juga ia tuangkan melalui tulisan dan banyak ceramah. Khairi aktif mengamati perkembangan geopolitik dan berbagai persoalan global, dari Palestina dan Eropa hingga dinamika India-Pakistan. Dalam tulisan dan ceramahnya, isu dunia tidak dilihat sekadar sebagai permainan kekuasaan, melainkan sebagai rangkaian sejarah, identitas, kemanusiaan, dan kepentingan yang saling berkelindan.
Di lingkungan keumatan, Khairi dipercaya menjadi Anggota Komisi Hubungan Luar Negeri dan Kerja Sama Internasional MUI. Peran ini terasa selaras dengan perjalanan intelektual dan profesionalnya. Ia berada di persimpangan antara dunia diplomasi, masyarakat, dan nilai-nilai keumatan. Sebuah ruang yang menuntut kemampuan membaca perubahan dunia sekaligus memahami akar nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Barangkali, benang merah perjalanan Khairi Fuady terletak pada satu hal: membangun jembatan. Jembatan antara pemerintah dan masyarakat, antara dunia usaha dan kepentingan publik, antara Indonesia dan dunia, serta antara kemajuan zaman dan nilai-nilai yang tidak semestinya ditinggalkan.
Ia tumbuh dalam lingkungan yang juga memiliki kedekatan dengan tradisi intelektual dan keumatan Nahdlatul Ulama. Khairi merupakan bagian dari keluarga besar KH Idham Chalid, salah satu tokoh penting dalam sejarah Indonesia dan Nahdlatul Ulama. Dari tradisi itulah nilai tentang pengabdian, adab, integritas, penghormatan kepada pendahulu, dan pentingnya menjaga hubungan antarmanusia menemukan ruang dalam perjalanan hidupnya.
Dengan pengalaman yang membentang dari pemerintahan hingga korporasi, dari isu geopolitik hingga kerja-kerja keumatan, Khairi Fuady membawa perspektif yang relatif jarang: membaca Indonesia dari dalam, sekaligus memandangnya dari jendela dunia. (*)
Leave a comment