Jakarta, danantaranews.id – Pasar modal Indonesia melewati pekan pertama Februari 2026 dengan dinamika yang cukup menantang. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penurunan sebesar 2,08 persen dan terparkir di level 7.935 pada penutupan perdagangan Jumat (6/2). Angka ini menunjukkan jarak yang cukup lebar dari posisi penutupan pekan sebelumnya yang masih berada di level 8.330. Tekanan jual tidak hanya datang dari domestik, tetapi juga terpantau dari aksi investor asing yang mencatatkan arus modal keluar (outflow) sebesar USD124 juta dalam sepekan terakhir.
Meskipun kondisi pasar saat ini sedang bergejolak, PT Ashmore Asset Management Indonesia melihat adanya titik terang di balik volatilitas tersebut. Otoritas pasar modal Indonesia kini tengah gencar mendorong reformasi menyeluruh untuk meningkatkan kredibilitas investasi. Langkah-langkah strategis seperti penyesuaian pimpinan baru di institusi terkait hingga komitmen untuk memperkuat kepercayaan investor global dipandang sebagai pilar utama dalam pemulihan pasar saham nasional.
Dinamika Global dan Sentimen Makroekonomi Terkini
Kondisi bursa saham tanah air tidak terlepas dari pengaruh perkembangan ekonomi global. Di Amerika Serikat, data lowongan kerja turun ke level terendah sejak September 2020, sebuah sinyal pelemahan pasar tenaga kerja yang signifikan. Hal ini memicu spekulasi mengenai kebijakan suku bunga The Fed di masa depan, terutama dengan munculnya nama Kevin Warsh yang dikenal memiliki pandangan hawkish sebagai calon Ketua The Fed berikutnya.
Sementara itu, dari kawasan Asia, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal IV tahun lalu tercatat lebih kuat dari perkiraan awal. Pencapaian ini mendapat sokongan dari konsumsi rumah tangga yang solid serta dukungan kebijakan pemerintah di tengah penurunan biaya pinjaman secara bertahap. Namun, sentimen positif ini harus berhadapan dengan koreksi tajam aset berisiko global, termasuk Bitcoin yang anjlok hingga 22 persen dalam sepekan terakhir akibat aksi jual saham teknologi AS.
Reformasi Struktural: Meningkatkan Daya Tarik Investasi Saham
Sikap proaktif otoritas Indonesia dalam membenahi pasar modal menjadi sorotan utama Ashmore. Beberapa inisiatif penting sedang dibahas secara serius, salah satunya adalah rencana menaikkan ketentuan minimum free float untuk emiten yang baru melantai di bursa (IPO) menjadi 15 persen. Selain itu, peningkatan transparansi bagi pemegang saham dengan kepemilikan di atas 1 persen serta perluasan klasifikasi investor menjadi 27 jenis diharapkan mampu menciptakan ekosistem pasar yang lebih matang.
“Meski sejumlah pimpinan baru telah ditunjuk, institusi-institusi terkait tetap berkomitmen pada pilar utama untuk memulihkan dan memperkuat kepercayaan investor global,” tulis Ashmore dalam Weekly Commentary mereka. Langkah-langkah reformasi ini dipandang sebagai upaya dinamis untuk membedakan antara saham dengan fundamental yang kuat dan saham spekulatif yang cenderung mengalami koreksi lebih dalam saat pasar bergejolak.
Respons Terhadap Penurunan Prospek Peringkat Kredit Moody’s
Faktor kejutan pekan ini datang dari lembaga pemeringkat internasional, Moody’s. Meskipun peringkat kredit Indonesia masih bertahan di kategori investment grade, Moody’s mengubah prospek (outlook) dari stabil menjadi negatif. Perubahan ini didasari oleh kekhawatiran terkait berkurangnya prediktabilitas kebijakan serta risiko fiskal yang mungkin muncul. Pengumuman ini langsung berdampak pada melemahnya nilai tukar rupiah ke level 16.866 per dolar AS dan naiknya imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun menjadi 6,44 persen.
Menanggapi hal tersebut, Kementerian Keuangan bergerak cepat menegaskan komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas inflasi, nilai tukar, dan ketahanan pasar keuangan. S&P Global Ratings pun menilai bahwa respons aktif pemerintah dalam menjaga kepercayaan investor dapat menjadi peredam risiko yang efektif terhadap memburuknya kondisi fiskal.
Strategi Investasi: Fokus pada Saham Defensif dan Fundamental Solid
Menghadapi volatilitas jangka pendek yang diperkirakan masih akan bertahan, Ashmore merekomendasikan investor untuk bersikap lebih defensif. Strategi ini melibatkan fokus pada instrumen berkualitas tinggi dengan durasi rendah, sembari menunggu momentum yang tepat untuk meningkatkan paparan risiko. Pemilihan saham harus dilakukan secara sangat selektif dengan memprioritaskan perusahaan yang memiliki fundamental kokoh.
Ashmore menekankan pentingnya memilih perusahaan yang bersifat defensif, terutama di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, namun tetap menuntut prospek pertumbuhan yang kuat ke depan. “Arah reformasi kini semakin terlihat dan berpotensi menjadi perubahan struktural yang positif dalam jangka panjang,” pungkas Ashmore. Investor disarankan untuk terus mencermati bagaimana otoritas merespons isu-isu strategis yang menjadi perhatian pasar global. (*)
Leave a comment