Jakarta, danantaranews.id – Harga minyak dunia menutup perdagangan akhir pekan dengan tren positif setelah sempat tertekan pada sesi sebelumnya. Penguatan ini terjadi menyusul buntunya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Oman. Pelaku pasar kini merasa cemas bahwa kegagalan diplomasi ini akan memicu eskalasi konflik militer yang lebih luas di kawasan Timur Tengah.
Ketegangan geopolitik tersebut secara otomatis meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan pasokan energi global. Para investor terus memantau perkembangan di lapangan, mengingat ketidakpastian agenda pertemuan antara kedua negara tersebut. Kegagalan mencapai kesepakatan mengenai program nuklir dan isu rudal balistik membuat stabilitas pasar minyak kembali goyah dan memicu aksi beli di bursa komoditas.
Eskalasi Ketegangan di Selat Hormuz Ancam Pasokan Global
Fokus utama para analis saat ini tertuju pada jalur pelayaran vital, yaitu Selat Hormuz. Wilayah perairan yang terletak di antara Oman dan Iran ini memegang peran krusial karena menjadi jalur distribusi bagi sekitar seperlima konsumsi minyak bumi dunia. Jika konflik bersenjata benar-benar pecah, arus keluar minyak mentah dari negara-negara produsen utama dipastikan akan terhambat secara signifikan.
Negara-negara anggota OPEC seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sangat bergantung pada selat ini untuk mengekspor komoditas emas hitam mereka. John Kilduff, mitra di Again Capital, memberikan gambaran mengenai kondisi pasar yang sangat fluktuatif ini. “Kami terus bolak-balik dengan situasi Iran ini. Ini adalah kegelisahan status quo terkait Iran,” ujarnya terkait dinamika harga yang berubah sangat cepat.
Brent dan WTI Kompak Menguat di Sesi Penutupan
Berdasarkan data perdagangan pada Jumat (6/2), minyak mentah Brent naik 50 sen atau 0,74 persen menjadi US$68,05 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat juga mencatatkan kenaikan sebesar 26 sen atau 0,41 persen ke level US$63,55 per barel. Meskipun sempat melemah di awal sesi, harga kedua acuan minyak tersebut sempat melonjak lebih dari US$1 sebelum akhirnya terkoreksi tipis menjelang penutupan.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa perundingan tersebut telah berakhir tanpa hasil yang konkret. Menteri Luar Negeri Iran menyatakan bahwa para delegasi akan kembali ke ibu kota masing-masing untuk melakukan konsultasi mendalam sebelum melanjutkan pembicaraan. Ketidakjelasan waktu kelanjutan negosiasi inilah yang memberikan tekanan ke atas pada grafik harga minyak mentah dunia.
Gangguan Produksi di Kazakhstan Turut Memperparah Keadaan
Selain faktor geopolitik Timur Tengah, kendala teknis pada infrastruktur energi di wilayah lain ikut mempengaruhi ketersediaan minyak di pasar internasional. Ekspor minyak Kazakhstan melalui jalur utama Rusia diprediksi akan anjlok hingga 35 persen pada bulan ini. Hal ini merupakan dampak lanjutan dari kebakaran fasilitas listrik di ladang minyak raksasa Tengiz yang terjadi pada Januari lalu.
Meskipun harga harian menguat, secara mingguan harga minyak sebenarnya masih berada dalam tekanan. Hal ini disebabkan oleh aksi jual massal di pasar keuangan serta kekhawatiran akan terjadinya kelebihan pasokan (oversupply). Langkah Arab Saudi yang memangkas harga jual resmi minyak mentah Arab Light ke Asia hingga ke level terendah dalam lima tahun turut menjadi faktor penghambat kenaikan harga yang lebih tajam.
Masa Depan Harga Minyak Bergantung pada Stabilitas Geopolitik
Para analis berpendapat bahwa jika prospek konflik di Timur Tengah mereda, harga minyak berpotensi kembali turun. Namun, selama negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat masih buntu, premi risiko akan tetap tinggi. Keamanan jalur pelayaran dan keberhasilan pemulihan fasilitas produksi di berbagai negara akan menjadi penentu utama arah pergerakan harga komoditas ini pada pekan-pekan mendatang.
Investasi pada sektor energi saat ini menuntut ketelitian tinggi dalam membaca situasi politik internasional. Penguatan harga minyak akibat kegagalan diplomasi mencerminkan betapa sensitifnya pasar terhadap isu keamanan di kawasan teluk. Bagi para pelaku industri, menjaga keseimbangan antara risiko pasokan dan permintaan global tetap menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian yang terus berlanjut. (*)
Leave a comment