Jakarta, danantaranews.id – Investasi jadi langkah penting untuk mencapai kebebasan finansial. Namun, banyak pemula yang terjebak dalam kesalahan klasik saat baru mulai menanamkan uangnya. Kalau salah strategi, bukan untung yang didapat, tapi justru kerugian besar. Nah, supaya kamu enggak terjebak di situ, berikut lima kesalahan investasi paling umum yang wajib kamu hindari.
1. Menunda untuk Mulai Berinvestasi
Kebiasaan menunda investasi sering kali jadi kesalahan terbesar yang dilakukan banyak orang. Alasan klasiknya: uang belum cukup. Padahal, berinvestasi enggak butuh modal besar, apalagi sekarang sudah ada berbagai instrumen seperti saham dan reksadana yang bisa dibeli dengan dana kecil.
Semakin cepat kamu mulai, semakin besar peluang mendapatkan efek compounding atau bunga berbunga. Misalnya, dengan menabung saham sejak usia muda, kamu bisa menikmati pertumbuhan nilai investasi yang berlipat ganda dalam jangka panjang. Jadi, jangan tunggu punya banyak uang dulu — justru mulailah dari sekarang, meski jumlahnya kecil.
2. Spekulatif Trading, Bukan Investasi Cerdas
Banyak investor pemula tergoda melakukan speculative trading, yaitu membeli dan menjual saham hanya karena rumor harga akan naik. Strategi ini berisiko tinggi dan lebih mirip berjudi dibanding berinvestasi.
Investasi cerdas justru dilakukan dengan analisis dan kesabaran. Prinsipnya, beli saham atau reksadana dengan fundamental bagus lalu simpan dalam jangka panjang. Dengan strategi buy and hold, kamu bisa menikmati kenaikan nilai seiring perkembangan ekonomi, bukan sekadar ikut tren jangka pendek.
Salah satu pilihan yang ideal untuk pemula adalah Reksadana Bursa (ETF) karena portofolionya sudah terdiversifikasi dan dikelola oleh profesional. Dengan begitu, risiko kerugian bisa ditekan tanpa perlu repot analisis mendalam setiap hari.
3. Menggunakan Utang atau Leverage Saat Berinvestasi
Inilah kesalahan fatal yang sering bikin investor bangkrut: berinvestasi dengan uang pinjaman. Memang benar, margin trading atau penggunaan leverage bisa memperbesar keuntungan, tapi risikonya juga meningkat tajam.
Kalau harga saham turun sedikit saja, kamu bisa terkena margin call dan terpaksa menjual saham di harga rugi. Bayangkan kalau dana yang dipakai bukan uang sendiri — efeknya bisa merusak kondisi finansial dan mental.
Leverage sebaiknya hanya digunakan untuk pembelian aset tetap seperti properti, bukan untuk spekulasi saham jangka pendek. Untuk investor pemula, bermain aman dengan modal sendiri jauh lebih bijak dan berkelanjutan.
4. Malas Bertanya dan Kurang Riset
Sebelum membeli saham atau produk investasi, pastikan kamu benar-benar memahami apa yang kamu beli. Jangan asal ikut tren atau saran teman tanpa riset. Selalu tanyakan hal-hal dasar seperti: “Apakah valuasi saham ini wajar?”, “Apa risiko yang mungkin terjadi?”, atau “Kapan waktu tepat menjualnya?”
Harga saham bisa naik-turun setiap saat. Penurunan tajam belum tentu tanda beli, bisa juga sinyal bahaya. Investor cerdas akan mencari tahu alasan di balik perubahan harga sebelum mengambil keputusan. Jadi, jangan malas bertanya dan pelajari setiap instrumen sebelum kamu masuk ke dalamnya.
5. Lebih Suka Belanja daripada Berinvestasi
Kesalahan klasik lainnya adalah mendahulukan gaya hidup daripada investasi. Banyak anak muda tergoda untuk menghabiskan uang demi barang konsumtif, sementara tabungan investasi dikesampingkan. Padahal, investasi sejak dini bisa membangun fondasi keuangan yang kuat di masa depan.
Investasi jangka panjang seperti dana pensiun, saham, atau reksadana akan memberi kamu keamanan finansial di usia tua. Sebaliknya, kebiasaan konsumtif bisa berujung pada utang dan stres keuangan. Jadi, prioritaskan investasi dulu sebelum belanja — prinsip sederhana ini bisa mengubah hidupmu.
Kesimpulan: Investasi Butuh Disiplin dan Kesadaran Diri
Kesuksesan investasi enggak datang dari keberuntungan, tapi dari kebiasaan dan kesabaran. Hindari lima kesalahan di atas: menunda investasi, trading spekulatif, memakai utang, malas riset, dan mendahulukan belanja. Fokuslah pada investasi jangka panjang dengan strategi yang terukur dan realistis.
Kalau kamu disiplin dan konsisten, hasilnya akan terasa — bukan hanya dalam bentuk uang, tapi juga dalam kebebasan finansial yang lebih besar di masa depan. Mulailah sekarang, karena waktu adalah teman terbaik bagi investor yang bijak. (*)
Leave a comment