Pointnya adalah:
- The Fed turunkan suku bunga 25 bps
The Fed memangkas suku bunga acuan ke level 4,00%–4,25%, menjadi pemotongan pertama sejak Desember 2024, dengan proyeksi masih ada dua kali pemangkasan lagi tahun ini.
- Dolar AS kembali menguat setelah sempat melemah
Dolar sempat jatuh ke level terendah empat tahun terhadap euro, namun indeks dolar (DXY) akhirnya naik 0,3% ke 96,926 usai keputusan The Fed.
- Pasar global dan data ekonomi AS turut memengaruhi arah kebijakan
Euro, yen, poundsterling, dan dolar Kanada bergerak fluktuatif, sementara data perumahan dan pasar tenaga kerja AS yang melemah memperkuat alasan The Fed untuk melonggarkan kebijakan moneter lebih lanjut.
Jakarta, danantaranews.id – Federal Reserve (The Fed) mengambil langkah baru dalam kebijakan moneternya dengan memangkas suku bunga acuan sebesar 25 basis poin pada rapat September 2025. Keputusan tersebut menurunkan level suku bunga ke kisaran 4,00%–4,25% dan menjadi pemotongan pertama sejak Desember 2024. Dampak awalnya membuat dolar Amerika Serikat (AS) merosot ke titik terendah dalam empat tahun terhadap euro, meski kemudian mata uang tersebut berhasil bangkit.
Dolar AS Bergerak Fluktuatif
Pada perdagangan Rabu (17/9) waktu New York atau Kamis (18/9) pagi WIB, euro sempat menembus level USD1,19185, tertinggi sejak pertengahan 2021. Namun, momentum penguatan itu tidak bertahan lama. Euro akhirnya terkoreksi 0,3% ke USD1,18305, sementara indeks dolar (DXY), yang melacak kinerja greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,3% menjadi 96,926.
Direktur Perdagangan Monex USA, Juan Perez, menilai pelaku pasar kini lebih menitikberatkan perhatian pada kemungkinan pemangkasan lanjutan dari The Fed. “Pasar berfokus pada dua kali pemangkasan tambahan tahun ini. Namun dolar tidak serta merta akan terus melemah karena kondisi global juga harus diperhitungkan. Pertumbuhan global saat ini juga sedang lemah, bukan hanya Amerika,” kata Perez.
Strategi Kebijakan The Fed
Ketua The Fed Jerome Powell menekankan bahwa pemangkasan suku bunga kali ini merupakan bagian dari manajemen risiko. Ia menyebut kebijakan moneter akan tetap ditentukan dari rapat ke rapat, bergantung pada kondisi ekonomi yang berkembang.
Dukungan terhadap kebijakan baru ini datang dari Gubernur Christopher Waller dan Wakil Ketua Pengawas Michelle Bowman. Keduanya sebelumnya menolak langkah untuk mempertahankan suku bunga tinggi pada Juli lalu. Meski Presiden AS Donald Trump mendorong pemotongan yang lebih agresif, keputusan The Fed sejalan dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 25 basis poin.
Respons Pasar Global
Fluktuasi tidak hanya terjadi pada euro. Poundsterling tercatat menguat tipis 0,08% ke USD1,36575, mendekati level tertinggi dalam 2,5 bulan terakhir setelah rilis data inflasi Inggris sesuai prediksi.
Sementara itu, yen Jepang melemah 0,1% menjadi 146,655 per dolar menjelang rapat kebijakan Bank of Japan (BoJ). Pasar menilai BoJ masih akan mempertahankan suku bunga ultra-rendah. Selain itu, dinamika politik Jepang juga mendapat sorotan menjelang pemilihan ketua baru Partai Demokrat Liberal untuk menggantikan Perdana Menteri Shigeru Ishiba pada Oktober mendatang.
Dari kawasan Amerika Utara, dolar Kanada turun 0,2% setelah Bank of Canada menurunkan suku bunga ke 2,5%, level terendah dalam tiga tahun terakhir. Keputusan tersebut diambil seiring melemahnya pasar tenaga kerja dan berkurangnya tekanan inflasi.
Data Ekonomi Amerika
Indikator ekonomi AS terbaru menunjukkan pelemahan di sektor perumahan. Pembangunan rumah keluarga tunggal serta izin konstruksi baru mengalami kontraksi sepanjang Agustus. Situasi ini terjadi meski suku bunga hipotek turun, karena stok rumah tak terjual meningkat dan pasar tenaga kerja tetap melambat.
Kondisi tersebut memperkuat alasan The Fed untuk kembali melakukan pelonggaran moneter dalam rapat-rapat berikutnya. Investor kini menanti sinyal lebih jelas terkait dua kali pemangkasan tambahan yang diproyeksikan akan dilakukan pada sisa tahun ini.
Prospek ke Depan
Di tengah perlambatan pertumbuhan global dan kebijakan sejumlah bank sentral lain yang turut menurunkan suku bunga, pergerakan dolar AS masih sangat bergantung pada arah kebijakan lanjutan The Fed. Walaupun sempat tertekan, mata uang ini menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi dunia. (*)
Leave a comment