Jakarta, danantaranews.id – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diprediksi menguat menjelang akhir pekan. Sentimen positif muncul setelah salah satu petinggi The Federal Reserve (The Fed) memberikan pernyataan bernada dovish, memunculkan harapan pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.
Mengutip data Bloomberg pada Jumat pagi pukul 09.15 WIB, kurs rupiah berada di level Rp16.293 per dolar AS, menguat 47 poin atau 0,29% dibandingkan posisi Kamis sore (17/7) yang berada di level Rp16.340 per dolar AS.
Apa yang Mendorong Penguatan Rupiah?
Menurut pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra, penguatan rupiah ini tak lepas dari sikap dovish salah satu pejabat The Fed yang memberi sinyal bahwa suku bunga acuan kemungkinan akan diturunkan. Meskipun sempat ada data ekonomi AS yang mendukung penguatan dolar, seperti klaim pengangguran yang menurun dan penjualan ritel yang menguat, dampaknya hanya sesaat.
“Dua data itu sempat melambungkan dolar, tapi mulai terkoreksi lagi ketika pejabat The Fed memberikan pidato dovish,” kata Ariston.
Sinyal Kuat Pemangkasan Suku Bunga
Sikap dovish datang dari Deputi Gubernur The Fed, Christopher Waller, dalam pidatonya di acara Money Marketeers, New York, Kamis malam (17/7). Waller menyampaikan bahwa saat ini merupakan waktu yang tepat bagi Federal Open Market Committee (FOMC) untuk mulai menurunkan suku bunga acuan.
“Dengan inflasi yang sudah mendekati target dan risiko kenaikan inflasi yang terbatas, kita tidak perlu menunggu pasar tenaga kerja memburuk untuk memangkas suku bunga,” ujar Waller. Ia menyarankan pemangkasan sebesar 25 basis poin dalam pertemuan FOMC yang akan digelar pada 29–30 Juli mendatang di Washington DC.
Waller juga menekankan bahwa pemangkasan suku bunga dibutuhkan untuk menjaga stabilitas pasar tenaga kerja, yang mulai menunjukkan tanda-tanda pelemahan.
Sentimen Konsumen AS Dianggap Bersifat Sementara
Menanggapi data penjualan ritel AS yang menguat, analis pasar Lukman mengingatkan bahwa kondisi tersebut bisa saja bersifat temporer. Menurutnya, ada kemungkinan masyarakat AS melakukan pembelian dalam jumlah besar karena kekhawatiran harga akan naik usai 1 Agustus.
“Bisa jadi konsumen sedang rush membeli barang karena khawatir harga akan naik setelah awal bulan depan,” kata Lukman.
Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, rupiah berpeluang menguat di kisaran Rp16.250 hingga Rp16.400 per dolar AS.
Peluang Menguat, Tapi Tetap Waspada
Penguatan rupiah di akhir pekan ini menjadi sinyal positif bagi pasar keuangan domestik. Nada dovish dari pejabat The Fed membuka harapan bagi pelonggaran kebijakan moneter global yang dapat menurunkan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.
Meski demikian, pelaku pasar tetap diimbau waspada terhadap perkembangan data ekonomi AS dan hasil pertemuan FOMC akhir bulan nanti yang sangat berpengaruh terhadap arah rupiah ke depan. (*)
Leave a comment