Home Ekonomi Tarif Trump 32 Persen Ancam Ekspor Indonesia, Rupiah Mulai Tertekan
Ekonomi

Tarif Trump 32 Persen Ancam Ekspor Indonesia, Rupiah Mulai Tertekan

Share
Tarif Trump 32 Persen Ancam Ekspor Indonesia, Rupiah Mulai Tertekan
Presiden Amerika Serikat Donald Trump (X @TRUMP_ARMY_)
Share

Jakarta, danantaranews.id – Tarif Trump 32 persen terhadap impor dari Indonesia mulai 1 Agustus 2025 bikin banyak pihak waspada. Apa dampaknya bagi ekonomi nasional dan bagaimana respons pasar terhadap ancaman kebijakan ini?

Tarif Trump 32 persen menjadi kabar buruk pagi ini. Seperti dilansir Bloomberg, Selasa (8/7/2025) pukul 09.21 WIB, kurs rupiah dibuka melemah ke level Rp16.253 per dolar AS, turun 14 poin atau 0,08 persen dibanding penutupan sebelumnya di Rp16.239 per dolar AS. Melemahnya rupiah langsung dikaitkan dengan sentimen negatif dari kebijakan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang akan menaikkan tarif impor untuk Indonesia.


Indonesia Masuk Daftar Negara Kena Tarif Tinggi

Menurut laporan Ipotnews, Presiden Trump telah mengirim surat kepada pemerintah Indonesia yang berisi peringatan tentang tarif impor baru sebesar 32 persen. Jika tidak ada kesepakatan dalam tiga minggu ke depan, tarif ini akan diberlakukan mulai 1 Agustus 2025.

Pengamat pasar keuangan Ariston Tjendra menyebut langkah Trump bisa mengganggu neraca dagang dan menekan rupiah dalam jangka pendek. “Potensi pelemahan rupiah ke arah Rp16.300 per dolar AS, dengan support di kisaran Rp16.200,” ujar Ariston dalam keterangannya pagi ini.


Daftar Negara yang Kena Sanksi Tarif AS

Kebijakan tarif ini tidak hanya menyasar Indonesia. Trump juga menetapkan:

  • Malaysia, Kazakhstan, dan Tunisia: 25%
  • Afrika Selatan: 30%
  • Laos dan Myanmar: 40%
  • Bangladesh: 35%
  • Thailand dan Kamboja: 36%
  • Bosnia: 30%
  • Serbia: 35%

Dalam suratnya, Trump menyebut hubungan dagang saat ini “jauh dari timbal balik” dan menegaskan perlunya kebijakan proteksionis untuk melindungi industri AS.


Ancaman Tarif Bisa Picu Tekanan ke Ekonomi RI

Tarif Trump 32 persen bisa berdampak langsung pada kinerja ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Produk-produk seperti tekstil, alas kaki, elektronik, hingga produk pertanian berisiko kehilangan daya saing. Efek domino juga bisa terasa pada investasi asing dan sentimen pelaku pasar terhadap rupiah.

Meski negosiasi masih dibuka hingga akhir Juli, pelaku pasar keuangan disarankan untuk waspada. Pemerintah Indonesia perlu bergerak cepat merespons dan memperkuat diplomasi dagang demi melindungi ekspor nasional. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

Model Taktis JNE: Sukses Angkut 500 Ton Donasi Gratis Ongkir, Menjadi Tulang Punggung Bantuan Bencana Sumatera

Transformasi Logistik Menjadi Aksi Kemanusiaan: JNE Buktikan Kapasitas Distribusi Nasional Jakarta, danantaranews.id – Respons cepat dan terstruktur ditunjukkan oleh perusahaan logistik terdepan, JNE, dalam...

DPR RI Kirim 15 Ton Logistik ke Banjir Sumatera, Ahmad Sahroni Dampingi Pengiriman

Jakarta, danantaranews.id — Banjir besar yang melanda tiga provinsi di Sumatera membuat anggota DPR RI non aktif Ahmad Sahroni ikut memberikan dukungan kepedulian....

Related Articles

Rombak Aturan Hulu Migas: PUSKEPI Desak Pemerintah Wajibkan KKKS Pasok Minyak ke Pertamina

Jakarta, danantaranews.id – Kemandirian energi Indonesia kini kembali menjadi sorotan tajam di...

Menakar Kesiapan Energi Nasional: Mengapa Pertamina Patra Niaga Tetap Menjadi Tumpuan Saat Mudik Lebaran 2026?

Jakarta, danantaranews.id – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan dan hiruk-pikuk arus mudik...

Rupiah Dalam Bahaya! Ketegangan Nuklir AS-Iran Memuncak, Mata Uang Garuda Terjun Bebas ke Rp16.829

Jakarta, danantaranews.id – Kabar buruk kembali menghantam pasar keuangan tanah air. Nilai...

Urgensi Pemisahan Kementerian ESDM demi Masa Depan Transisi Energi Indonesia

Jakarta, danantaranews.id – Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kini menghadapi momentum krusial untuk...