Home Pasar Harga Minyak Dunia Naik, Didukung Pengecualian Tarif AS dan Lonjakan Impor China
Pasar

Harga Minyak Dunia Naik, Didukung Pengecualian Tarif AS dan Lonjakan Impor China

Share
Harga minyak dunia menguat setelah AS longgarkan tarif dan China tingkatkan impor, di tengah ketidakpastian pasar global
Ilustrasi - Anjungan minyak lepas pantai (Antaranews)
Share

Jakarta, Danantaranews.id – Harga minyak dunia kembali menunjukkan tren positif pada perdagangan Selasa, seiring berkembangnya sejumlah kebijakan baru dari Amerika Serikat yang memberi angin segar bagi pasar global.

Penguatan ini terjadi setelah Presiden AS Donald Trump memberikan sinyal pengecualian terhadap sejumlah tarif impor, termasuk untuk produk elektronik dan otomotif. Langkah ini dipandang sebagai pelonggaran dari kebijakan tarif yang sebelumnya diumumkan, sehingga memberi sentimen positif terhadap aset berisiko seperti minyak.

Harga minyak mentah Brent, acuan internasional, naik sebesar 0,51% menjadi USD65,13 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) dari AS turut menguat 0,54% ke level USD61,86 per barel.

Menurut analis independen Tina Teng, keputusan Trump tersebut memberi kelegaan sementara bagi pelaku pasar. Namun, ia mengingatkan bahwa ketidakpastian dari kebijakan perdagangan AS masih menyelimuti sentimen pasar secara keseluruhan.

Di sisi lain, lonjakan impor minyak mentah oleh China juga menjadi salah satu pendorong utama kenaikan harga minyak dunia. Data terbaru menunjukkan, impor China pada Maret meningkat hampir 5% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini dianggap sebagai langkah antisipatif terhadap potensi berkurangnya pasokan minyak dari Iran, seiring rencana Amerika memperketat sanksi terhadap negara tersebut.

Ketegangan geopolitik turut menambah kompleksitas situasi. Pemerintah AS dilaporkan tengah memulai penyelidikan terhadap impor semikonduktor dan mempertimbangkan modifikasi tarif 25% atas mobil dan suku cadang dari sejumlah negara. Perkembangan cepat dalam isu-isu ini terus memengaruhi sentimen pasar energi secara global.

Sementara itu, laporan penurunan produksi minyak Kazakhstan turut mendukung penguatan harga, meskipun volume produksinya masih berada di atas kuota yang ditetapkan OPEC+.

Dengan kombinasi faktor-faktor tersebut, harga minyak dunia diperkirakan akan tetap sensitif terhadap dinamika kebijakan perdagangan dan ketegangan geopolitik dalam waktu dekat. (*)

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

PSEL Legok Nangka Gaspol! PLN Siap Serap Listrik Sampah hingga 20 Tahun

PLN Kunci Komitmen Beli Listrik PSEL Bandung, danantaranews.id – PLN siap menyerap listrik dari fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL Legok...

Distribusi BBM Jadi Sorotan, Sofyano: Jangan Lepas Kendali ke Swasta

Distribusi BBM Bukan Sekadar Urusan Logistik Jakarta, danantaranews.id – Distribusi bahan bakar minyak (BBM) dari terminal menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU)...

Related Articles

Update Resmi! Daftar Harga BBM Terbaru SPBU Pertamina, Shell, BP, dan Vivo

JAKARTA, danantaranews.id – Sejumlah operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di...

Menperin: Siapkan Insentif Mobil Listrik Nasional, Jadi Prioritas Utama

JAKARTA, danantaranews.id – Pemerintah berencana memberikan insentif khusus bagi mobil listrik (electric...

IHSG Ambruk 0,60%, Rupiah Rp18.080 Bikin Investor Makin Waspada

IHSG Berbalik Arah ke Zona Merah Jakarta, danantaranews.id – IHSG hari ini...

Laba Bersih Elnusa Melesat 29%, Kinerja Semester I 2026 Makin Solid dan Profitabilitas Terus Menguat

Pertumbuhan Laba Elnusa Lampaui Kenaikan Pendapatan Jakarta, danantaranews.id – PT Elnusa Tbk...