IHSG Anjlok, Pasar Saham Berada di Zona Merah
Jakarta, Danantaranews.id – Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami pelemahan signifikan pada perdagangan sesi pertama Jumat (28/2/2025). IHSG merosot 186 poin atau turun 2,86% ke level 6.300. Nilai transaksi mencapai Rp7,40 triliun dengan volume perdagangan sebanyak 91,72 juta lot saham yang berpindah tangan. Pelemahan ini didorong oleh sentimen negatif dari kebijakan perdagangan Amerika Serikat, terutama tarif impor baru yang diterapkan oleh Presiden Donald Trump.
Semua sektor saham terpantau melemah, dengan sektor industri dasar (basic industry) mencatatkan penurunan terdalam sebesar 4,11%. Saham yang masuk dalam daftar top gainers meliputi LIVE, HITS, INAI, MSIN, ROCK, SOUL, dan SMDM. Sementara itu, saham yang paling aktif diperdagangkan antara lain BBRI, BBCA, BMRI, BBNI, GOTO, WIFI, dan PTRO.
Bursa Asia Tertekan Akibat Kebijakan Tarif Impor Trump
Pasar saham Asia juga mengalami tekanan besar setelah Donald Trump mengonfirmasi penerapan tarif impor produk dari Meksiko dan Kanada yang mulai berlaku pekan depan. Trump mengumumkan bahwa tarif impor sebesar 25% akan diterapkan pada 4 Maret 2025, setelah sebelumnya mengalami penundaan satu bulan. Presiden AS menegaskan bahwa kebijakan ini bertujuan untuk mengurangi aliran obat-obatan terlarang yang masuk ke AS melalui kedua negara tersebut.
Selain itu, Trump juga mengumumkan kenaikan tarif impor untuk produk-produk asal Tiongkok, dari sebelumnya 10% menjadi 20%. Langkah ini semakin memperburuk sentimen pasar global dan memperkuat ketidakpastian ekonomi dunia.
Sebagai dampak dari kebijakan ini, indeks saham utama Asia mengalami penurunan tajam:
- Nikkei 225 (Jepang): -3,31%
- Topix (Jepang): -2,22%
- Shanghai Composite (Tiongkok): -0,88%
- Shenzhen Component (Tiongkok): -1,37%
- CSI300 (Tiongkok): -0,77%
- Hang Seng (Hong Kong): -2,34%
- Kospi (Korea Selatan): -3,16%
- Taiex (Taiwan): -1,49%
- ASX200 (Australia): -1,26%
Saham teknologi, terutama di sektor semikonduktor, menjadi yang paling terdampak. Saham perusahaan pemasok peralatan semikonduktor seperti Advantest turun hampir 9%, Tokyo Electron turun 5,1%, Renesas Electronics dan Lasertec masing-masing merosot 4,43% dan 7,19%, sementara Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) melemah 1,89%.
Dampak Kebijakan Tarif Impor Trump pada Mata Uang dan Minyak
Tidak hanya pasar saham, nilai tukar mata uang di Asia juga mengalami volatilitas tinggi akibat kebijakan ini. Beberapa mata uang yang melemah terhadap Dolar AS meliputi:
- Rupiah (USD/IDR): melemah 0,74% ke Rp16.575 per USD
- Yen Jepang (USD/JPY): naik ke 149,53 (-0,19%)
- Dolar Singapura (USD/SGD): melemah ke 1,3494 (+0,07%)
- Dolar Australia (AUD/USD): turun ke 0,6211 (-0,40%)
- Ringgit Malaysia (USD/MYR): melemah ke 4,4648 (+0,46%)
Selain itu, harga minyak dunia juga mengalami tekanan akibat ketidakpastian ekonomi global yang dipicu oleh kebijakan tarif impor Trump. Harga minyak mentah Brent untuk kontrak Mei turun 31 sen menjadi $73,26 per barel, sementara minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 30 sen menjadi $70,05 per barel.
Kesimpulan
Penerapan tarif impor oleh Presiden Donald Trump memberikan dampak besar pada pasar keuangan global. IHSG dan bursa saham Asia terpuruk, mata uang regional melemah, dan harga minyak global turun akibat kekhawatiran investor terhadap perlambatan ekonomi dunia. Kebijakan ini diperkirakan akan terus memicu ketidakstabilan pasar dalam beberapa waktu ke depan. (*)
Leave a comment