Home Pasar Harga Minyak Naik Tipis Jelang Libur AS, Ada Sinyal Baru dari Iran yang Bikin Pasar Waspada
Pasar

Harga Minyak Naik Tipis Jelang Libur AS, Ada Sinyal Baru dari Iran yang Bikin Pasar Waspada

Share
Harga minyak dunia naik tipis menjelang libur Hari Kemerdekaan AS di tengah optimisme pasokan global dan perkembangan negosiasi AS-Iran.
Ilustrasi
Share

Investor Berebut Amankan Pasokan, Harga Minyak Bergerak Menguat

Jakarta, Danantaranews.co.id – Harga minyak dunia ditutup menguat pada perdagangan Kamis (2/7) waktu setempat atau Jumat (3/7) WIB. Kenaikan terjadi karena investor memilih mengamankan pasokan menjelang libur panjang Hari Kemerdekaan Amerika Serikat.

Meski bergerak di zona hijau, laju kenaikan harga minyak tetap terbatas. Pelaku pasar masih mencermati meningkatnya optimisme terhadap pasokan global setelah muncul perkembangan positif dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.

Minyak mentah Brent sebagai acuan internasional ditutup naik 23 sen atau 0,32% menjadi USD71,80 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) menguat 11 sen atau 0,16% menjadi USD68,69 per barel.

Harga Minyak Sempat Sentuh Level Terendah Sejak Konflik AS-Iran

Selama sesi perdagangan, kedua kontrak minyak sempat menyentuh level terendah sejak sebelum pecahnya konflik Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada akhir Februari.

Secara mingguan, harga minyak masih mencatat pelemahan. Brent turun 0,60%, sedangkan WTI melemah 0,78% dibandingkan pekan sebelumnya.

Short Covering Jadi Pendorong Kenaikan Harga

Mitra Again Capital, John Kilduff, menjelaskan penguatan harga minyak terjadi karena aksi short covering yang dilakukan pelaku pasar.

“Penguatan terbatas dipicu aksi short covering, seiring bergesernya perhatian pasar dari potensi gangguan pasokan menuju besarnya volume minyak yang akan tersedia di pasar,” kata John Kilduff.

Menurutnya, fokus investor kini mulai bergeser. Pasar tidak lagi hanya mengkhawatirkan risiko gangguan distribusi minyak, tetapi juga memperhitungkan besarnya pasokan yang berpotensi masuk ke pasar global.

Perundingan AS-Iran Jadi Sentimen Penting

Perkembangan diplomatik di Timur Tengah turut memengaruhi arah perdagangan minyak dunia. Qatar sebagai mediator menyampaikan bahwa Amerika Serikat dan Iran mencatat kemajuan dalam pembicaraan menuju kesepakatan damai permanen.

Negosiasi tersebut bertujuan mengakhiri konflik yang telah berlangsung selama empat bulan. Konflik tersebut sebelumnya sempat mengganggu jalur pengiriman minyak melalui Selat Hormuz.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Qatar mengatakan pembahasan mengenai memorandum penghentian perang yang dimulai pada Juni menunjukkan perkembangan positif.

Namun demikian, hingga kini belum terdapat indikasi bahwa kedua negara berhasil mencapai terobosan menuju perdamaian jangka panjang.

Kementerian juga menyampaikan putaran perundingan berikutnya akan berlangsung setelah prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei pada 9 Juli.

Selat Hormuz Tetap Normal, China Belum Pulih Sepenuhnya

Kepala Analis Komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, mengatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz hingga saat ini masih berjalan normal.

Selain itu, pelepasan minyak dari cadangan strategis masih terus berlangsung. Di sisi lain, permintaan minyak dari China juga belum sepenuhnya pulih.

“Kondisi tersebut dapat memicu penurunan harga yang tajam dalam jangka pendek sebelum akhirnya kembali mengalami pemulihan,” ujar Bjarne Schieldrop.

Data pelayaran dan sumber perdagangan menunjukkan sedikitnya lima kapal tanker berukuran sangat besar mengangkut sekitar 10 juta barel minyak Arab Saudi keluar melalui Selat Hormuz setelah memuat kargo di Ras Tanura.

Saudi Aramco juga mulai menerapkan skema harga spot guna mempercepat penjualan minyak ke pasar Asia.

Kilang Masih Aman, Tantangan Beralih ke Produksi Bahan Bakar

Analis Price Futures Group, Phil Flynn, menilai kilang minyak saat ini tidak menghadapi kendala dalam memperoleh pasokan minyak mentah.

“Kilang minyak saat ini tidak mengalami kesulitan memperoleh pasokan minyak mentah. Tantangan justru berada pada kemampuan kilang meningkatkan produksi bahan bakar,” kata Phil Flynn.

Ia menambahkan pasar menilai situasi di Iran terus menunjukkan perbaikan. Meski begitu, kondisi tersebut tetap berpotensi mengalami perubahan sewaktu-waktu.

Persediaan Minyak AS Turun ke Level Terendah Sejak 2018

Dukungan lain terhadap harga minyak datang dari Amerika Serikat. Energy Information Administration (EIA) melaporkan persediaan minyak mentah turun ke level terendah sejak 2018 pada pekan lalu.

Penurunan tersebut terjadi karena aktivitas pengolahan di kilang domestik meningkat. Persediaan bensin Amerika Serikat juga ikut mengalami penurunan.

UBS Pangkas Proyeksi Harga Brent

Di tengah meningkatnya pengiriman minyak melalui Selat Hormuz, UBS merevisi turun proyeksi harga minyak Brent.

Bank tersebut memangkas estimasi harga Brent kuartal III sebesar USD25 menjadi USD80 per barel. Sementara proyeksi kuartal IV dipotong USD10 menjadi USD80 per barel.

UBS juga memangkas proyeksi harga Brent untuk 2027 sebesar USD10 menjadi USD75 per barel.

HSBC Optimistis Harga Minyak Bisa Kembali ke USD80

Di sisi lain, analis HSBC memperkirakan pasar masih mampu menyerap tambahan pasokan minyak dari Timur Tengah.

Proses tersebut berlangsung melalui pengisian kembali persediaan secara bertahap bersamaan dengan berakhirnya pelepasan cadangan strategis oleh International Energy Agency (IEA) pada Juli.

“Setelah kondisi kelebihan pasokan jangka pendek mereda, harga Brent berpotensi kembali bergerak menuju kisaran USD80 per barel atau bahkan lebih tinggi,” tulis analis HSBC.

Nigeria Gabung IEA, Ukraina Serang Kilang Rusia

Di perkembangan lain, Nigeria resmi menjadi negara anggota Organisasi Negara Eksportir Minyak (OPEC) pertama yang bergabung sebagai anggota asosiasi IEA.

Langkah tersebut memperkuat hubungan antara lembaga pengawas energi global dengan produsen minyak terbesar di Afrika.

Sementara itu, Staf Umum Angkatan Bersenjata Ukraina menyatakan pasukannya melancarkan serangan terhadap kilang minyak Lukoil-Nizhegorodnefteorgsintez di wilayah Nizhny Novgorod, Rusia, pada Kamis. (*)

 

Share

Leave a comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Don't Miss

PSEL Legok Nangka Gaspol! PLN Siap Serap Listrik Sampah hingga 20 Tahun

PLN Kunci Komitmen Beli Listrik PSEL Bandung, danantaranews.id – PLN siap menyerap listrik dari fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik atau PSEL Legok...

Distribusi BBM Jadi Sorotan, Sofyano: Jangan Lepas Kendali ke Swasta

Distribusi BBM Bukan Sekadar Urusan Logistik Jakarta, danantaranews.id – Distribusi bahan bakar minyak (BBM) dari terminal menuju stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU)...

Related Articles

Update Resmi! Daftar Harga BBM Terbaru SPBU Pertamina, Shell, BP, dan Vivo

JAKARTA, danantaranews.id – Sejumlah operator stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di...

Menperin: Siapkan Insentif Mobil Listrik Nasional, Jadi Prioritas Utama

JAKARTA, danantaranews.id – Pemerintah berencana memberikan insentif khusus bagi mobil listrik (electric...

IHSG Ambruk 0,60%, Rupiah Rp18.080 Bikin Investor Makin Waspada

IHSG Berbalik Arah ke Zona Merah Jakarta, danantaranews.id – IHSG hari ini...

Laba Bersih Elnusa Melesat 29%, Kinerja Semester I 2026 Makin Solid dan Profitabilitas Terus Menguat

Pertumbuhan Laba Elnusa Lampaui Kenaikan Pendapatan Jakarta, danantaranews.id – PT Elnusa Tbk...